Instagram Terbukti Bikin Anak Ketagihan, Validasi Larangan Medsos Bagi Remaja di Bawah 16 Tahun!
Sabtu, 11 April 2026 - 12:54 WIB
loading...
A
A
A
"Klaim tersebut menduga adanya bahaya yang berasal dari tindakan Meta sendiri, baik dengan merancang platform media sosial yang memanfaatkan kerentanan perkembangan anak-anak, maupun secara afirmatif menyesatkan konsumen mengenai keamanan platform Instagram," tulis Hakim Wendlandt.
Notifikasi dorong (push notifications), tombol "suka" (likes), dan guliran tanpa batas (never-ending scroll) secara kalkulatif diciptakan untuk meraup pundi-pundi uang dari kerentanan psikologis remaja dan memanipulasi sindrom Fear of Missing Out (FOMO).
Lebih parah lagi, negara bagian membeberkan fakta bahwa data internal Meta sendiri telah membuktikan platform mereka memicu kecanduan dan merusak mental anak-anak.
Namun, para eksekutif puncak—termasuk CEO Mark Zuckerberg yang disebut bertindak abai—secara sadar menolak menerapkan perubahan demi menyelamatkan kesejahteraan remaja.
"Ini adalah langkah besar dalam menuntut pertanggungjawaban perusahaan-perusahaan ini atas praktik yang telah memicu krisis kesehatan mental generasi muda dan menempatkan keuntungan di atas anak-anak," sorak Jaksa Agung Campbell yang merupakan politisi dari Partai Demokrat.
Pihak Meta, yang semakin tersudut, hanya bisa merilis pembelaan klise melalui juru bicaranya.
Mereka menyatakan tidak setuju dengan apa yang mereka sebut sebagai "pembedaan palsu" antara konten dan desain platform. "Kami yakin bukti-bukti akan menunjukkan komitmen jangka panjang kami dalam mendukung generasi muda," dalih mereka.
Mengeksploitasi Sisi Psikologis
Dari berkas gugatan terlihat bagaimana fitur-fitur yang selama ini dianggap lumrah, nyatanya adalah senjata psikologis.Notifikasi dorong (push notifications), tombol "suka" (likes), dan guliran tanpa batas (never-ending scroll) secara kalkulatif diciptakan untuk meraup pundi-pundi uang dari kerentanan psikologis remaja dan memanipulasi sindrom Fear of Missing Out (FOMO).
Lebih parah lagi, negara bagian membeberkan fakta bahwa data internal Meta sendiri telah membuktikan platform mereka memicu kecanduan dan merusak mental anak-anak.
Namun, para eksekutif puncak—termasuk CEO Mark Zuckerberg yang disebut bertindak abai—secara sadar menolak menerapkan perubahan demi menyelamatkan kesejahteraan remaja.
"Ini adalah langkah besar dalam menuntut pertanggungjawaban perusahaan-perusahaan ini atas praktik yang telah memicu krisis kesehatan mental generasi muda dan menempatkan keuntungan di atas anak-anak," sorak Jaksa Agung Campbell yang merupakan politisi dari Partai Demokrat.
Pihak Meta, yang semakin tersudut, hanya bisa merilis pembelaan klise melalui juru bicaranya.
Mereka menyatakan tidak setuju dengan apa yang mereka sebut sebagai "pembedaan palsu" antara konten dan desain platform. "Kami yakin bukti-bukti akan menunjukkan komitmen jangka panjang kami dalam mendukung generasi muda," dalih mereka.
Denda Triliunan Rupiah dan Validasi Kebijakan Indonesia
Kekalahan di Massachusetts ini memicu efek domino yang menghancurkan neraca keuangan Meta. Secara nasional di AS, ini hanyalah satu dari ribuan kasus yang diajukan oleh individu, kota, negara bagian, hingga distrik sekolah.Lihat Juga :