Laba Meledak Rp102 Triliun, Oracle Malah PHK 30.000 Karyawan Lewat Email

Senin, 06 April 2026 - 15:22 WIB
loading...
Laba Meledak Rp102 Triliun,...
Oracle menciptakan mimpi buruk bagi para pekerja di dunia teknologi, yang ternyata tidak aman dari PHK. Foto: ist
A A A
AMERIKA - Di saat perusahaan meraup untung besar, karyawan biasanya menanti bonus. Namun, mimpi buruk justru menghantam 30.000 karyawan raksasa teknologi Oracle.

Di tengah rekor lonjakan laba bersih hingga 95 persen menjadi lebih dari USD6 miliar (Rp102 triliun) pada kuartal terakhir, perusahaan besutan miliarder Larry Ellison ini secara kejam mengirimkan surat pemecatan (pink slips) kepada seperlima tenaga kerjanya.

Eksekusi itu terjadi tanpa ampun pada 31 Maret 2026. Tepat pukul 6 pagi, puluhan ribu karyawan menerima surel singkat bernada dingin:

"Setelah mempertimbangkan kebutuhan bisnis Oracle saat ini dengan saksama, kami telah membuat keputusan untuk menghapus peran Anda... hari ini adalah hari kerja terakhir Anda."

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal yang memangkas hampir 19 persen dari total 162.000 karyawan global Oracle ini merembet ke seluruh departemen krusial, mulai dari Oracle Health, Cloud, Sales, hingga NetSuite.

India menjadi salah satu kawasan paling parah terdampak, dengan laporan hilangnya 12.000 posisi pekerjaan.

PHK brutal ini merupakan langkah putus asa Oracle (cash crunch) dalam mendanai ambisi gilanya membangun infrastruktur pusat data Kecerdasan Buatan (AI) bernilai miliaran dolar.

Mereka berusaha keras bersaing dengan Alphabet dan Amazon, serta menopang raksasa seperti OpenAI—yang baru saja menandatangani perjanjian senilai USD300 miliar (Rp5.100 triliun) dengan Oracle tahun lalu.

Nahasnya, bank mulai mundur dari pembiayaan ekspansi tersebut, membuat biaya pinjaman Oracle dilaporkan naik dua kali lipat.
Berdasarkan analisis TD Cowen, membuang 20.000 hingga 30.000 karyawan adalah jalan pintas untuk menyelamatkan arus kas perusahaan hingga USD 10 miliar (Rp170 triliun).

Imbas kepanikan ini terlihat di lantai bursa; harga saham Oracle anjlok parah hingga ditutup pada angka USD 147,11 di hari pemecatan, terjun bebas 55 persen dari rekor penutupan tertinggi USD 326,90 pada September tahun lalu.

Lebih mengerikan lagi, PHK ini diduga menggunakan algoritma yang secara sistematis menyingkirkan karyawan senior dengan bayaran tinggi. Nina Lewis, Manajer Peringatan Keamanan yang telah mengabdi selama 34 tahun, membongkar hal ini di LinkedIn sesaat setelah ia dipecat.

"Tampaknya PHK mengikuti algoritma kontributor individu tingkat tinggi dan manajer tingkat menengah—terutama mereka yang memiliki opsi saham luar biasa," bongkarnya.

Hal ini mengindikasikan upaya Oracle untuk menghapus kewajiban finansial jangka panjang perusahaan.

Di sisi lain, bagi karyawan yang lolos dari "algojo", mimpi buruk baru saja dimulai. Beban kerja yang ditinggalkan puluhan ribu korban PHK kini ditumpangkan ke pundak mereka.

Seorang karyawan yang selamat dan menggunakan nama samaran ragingBull_100 di Reddit, memviralkan sebuah pesan perlawanan.

"Direktur Senior (meminta) kami untuk meningkatkan efisiensi untuk menebus pengurangan jumlah karyawan... Pada dasarnya, mengisyaratkan bahwa mereka yang tertinggal perlu mengambil alih pekerjaan mereka yang diberhentikan," tulisnya.

Ia mengimbau rekan-rekannya untuk menolak eksploitasi tersebut. "Lakukan pekerjaan Anda, tetapi jangan melampaui apa yang dibayarkan kepada Anda. Menambah jam kerja hanya akan membantu perusahaan menutupi dampak nyata dari PHK."

Hingga saat ini, pihak manajemen Oracle memilih bungkam dan menolak memberikan komentar resmi terkait salah satu pembantaian tenaga kerja terbesar dalam sejarah industri teknologi ini.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Oracle Kehilangan Rp5.700...
Oracle Kehilangan Rp5.700 Triliun Akibat Cinta Buta pada OpenAI
Punya Kekayaan Rp6.400...
Punya Kekayaan Rp6.400 Triliun, Orang Terkaya di Dunia Larry Ellison Bakal Investasi di Indonesia?
Terbongkar 4 Rahasia...
Terbongkar 4 Rahasia Larry Ellison Raup Rp1.600 Triliun dalam Sehari
Berkat Demam AI, Harta...
Berkat Demam AI, Harta Pendiri Oracle Larry Ellison Melejit Rp3.900 Triliun, Salip Kekayaan Mark Zuckerberg
Demi Chip AI, Dua Orang...
Demi Chip AI, Dua Orang Terkaya di Dunia Ini Rela Mengemis ke CEO Nvidia!
Layanan Cloud Oracle...
Layanan Cloud Oracle Digunakan Red Bull Racing, Samsung, Hingga Vodafone
Oracle Rilis Lampu LED...
Oracle Rilis Lampu LED Mobil Tanpa Lensa, Harga Mulai Rp12,8 Juta
Oracle Membantu Organisasi...
Oracle Membantu Organisasi Membangun Ketahanan Bisnis
Rekomendasi
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
Ronaldo Mandul, Portugal...
Ronaldo Mandul, Portugal Ditahan Imbang RD Kongo di Laga Perdana Piala Dunia 2026
7 Fakta Menarik Inggris...
7 Fakta Menarik Inggris Hancurkan Kroasia di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Trump T1 Phone Ternyata...
Trump T1 Phone Ternyata HTC U24 Pro Buatan China: Ini Bukti Teardown-nya
Kantongi Laba Rp33,72...
Kantongi Laba Rp33,72 Miliar, Elitery (ELIT) Fokus Kembangkan AI dan Cybersecurity
Perkuat Transformasi...
Perkuat Transformasi dan ESG, TelkomGroup Rilis Laporan Keberlanjutan 2025 untuk Masa Depan Digital
Fasilitasi Pasar Sekunder...
Fasilitasi Pasar Sekunder Esports, HIDDEN SUPPLY Kelola Transaksi Aset Tak Berwujud
Perkuat Transformasi...
Perkuat Transformasi Industri, Hypernet Technologies Perkokoh Kemitraan Strategis di Bravo 500 Summit 2026
Facebook Luncurkan Mode...
Facebook Luncurkan Mode Pencarian AI, Begini Cara Pakainya
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved