Dihantam Sanksi AS, Pendapatan Huawei Malah Tembus Rp2.070 Triliun Berkat Sektor Ini!

Senin, 06 April 2026 - 13:57 WIB
loading...
Dihantam Sanksi AS,...
Ilustrasi logo Huawei yang terus menggelontorkan dana riset besar-besaran demi melepaskan diri dari jerat sanksi teknologi Amerika Serikat dan meraih lonjakan pendapatan. Foto: ist
A A A
JAKARTA - Badai sanksi Amerika Serikat rupanya tak mampu menenggelamkan raksasa teknologi China, Huawei Technologies, yang justru sukses mencetak lonjakan laba bersih hingga 8,6 persen menjadi 68 miliar Yuan (Rp159,8 triliun) sepanjang 2025.

Awal bulan ini perusahaan yang bermarkas di Shenzhen tersebut melaporkan total pendapatan penjualan tahun 2025 mencapai 880,9 miliar Yuan (Rp2.070,11 triliun).

Angka ini tumbuh 2,2 persen dari tahun sebelumnya, perlambatan tajam jika dibandingkan pertumbuhan agresif 22,4 persen yang dicetak pada 2024.

Kendati melambat, hasil 2025 ini menorehkan sejarah sebagai rekor pendapatan tahunan tertinggi kedua bagi Huawei, hanya tertinggal dari rekor puncaknya sebesar 891 miliar Yuan (Rp2.093,85 triliun) pada 2020 silam.

Pencapaian ini sekaligus menandai empat tahun pertumbuhan berturut-turut sejak titik nadir pada 2021, saat pendapatan mereka anjlok 29 persen akibat sanksi pemblokiran akses cip canggih dan sistem operasi Google Android oleh AS.

Dari kacamata analisis pasar, penopang utama dan sektor paling "cuan" yang menyumbang pendapatan terbesar Huawei dipegang oleh segmen infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Penjualan di sektor raksasa ini sukses tumbuh 2,6 persen menjadi 375 miliar Yuan (Rp881,25 triliun).

Di posisi selanjutnya, unit konsumen yang menaungi ponsel pintar dan perangkat digital merangkak naik 1,6 persen menjadi 344,5 miliar Yuan (Rp809,57 triliun).

Menariknya, lonjakan pertumbuhan paling fantastis justru terjadi di unit solusi otomotif pintar yang membantu produsen mobil tradisional membuat kendaraan cerdas.

Sektor ini meroket tajam 72,1 persen menyentuh angka 45 miliar Yuan (Rp105,75 triliun).

Kedigdayaan ini dibuktikan lewat model Maextro S800 besutan Huawei yang sukses menjadi mobil seharga USD 100.000 (Rp1,7 miliar) terlaris di China.

Sebaliknya, bisnis komputasi awan (cloud) Huawei justru tergelincir turun 3,5 persen akibat ketatnya arena persaingan di pasar domestik China.

Demi melepaskan diri dari cengkeraman pembatasan teknologi AS, Huawei menerapkan strategi "bakar uang" secara ekstrem.

Belanja Riset dan Pengembangan (R&D) meroket hingga 192,3 miliar Yuan (Rp451,9 triliun) pada 2025, menyedot porsi masif 22 persen dari total pendapatan tahunan demi mengembangkan perangkat lunak, cip, dan alat manufaktur mandiri.

"Bisnis komputasi kami terus menangkap peluang di bidang AI (Kecerdasan Buatan)," ungkap Meng Wanzhou, Chairwoman sekaligus putri pendiri Huawei, Ren Zhengfei.

Meng menegaskan komitmennya untuk terus memupuk ekosistem pengembang di tengah masa depan yang ia sebut "penuh ketidakpastian".

Ambisi di sektor AI ini diwujudkan lewat cip kecerdasan buatan terbaru mereka, Ascend 950PR, yang kini dibuat lebih kompatibel dengan sistem perangkat lunak CUDA milik Nvidia dan telah diuji coba oleh ByteDance serta Alibaba.

Hingga akhir tahun lalu, ekosistem Ascend sukses menggaet lebih dari 4 juta pengembang, sementara CPU Kunpeng mereka menjaring 3,8 juta pengembang.

Tak main-main, sistem komputasi AI bernama 384 SuperPod yang dirilis tahun lalu dirancang khusus menantang dominasi cip GB200 NVL 72 milik Nvidia, dan kini telah dipakai masif di industri internet, keuangan, hingga telekomunikasi.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
HUAWEI WATCH FIT 5 Series...
HUAWEI WATCH FIT 5 Series Bawa Diabetes Risk Study dan Ultra Sports Tracking
1 dari 9 Orang Indonesia...
1 dari 9 Orang Indonesia Kena Diabetes, Huawei Bawa Solusi di Pergelangan Tangan
HUAWEI Mate 80 Pro Resmi...
HUAWEI Mate 80 Pro Resmi Masuk Indonesia, Tampil Lebih Unggul dengan Kamera dan Durabilitas Ekstra
Telinga Makin Mahal:...
Telinga Makin Mahal: Membedah Janji Anti-Bising TWS Baru Huawei Seharga Rp2,9 Juta
Dianggap Berbahaya,...
Dianggap Berbahaya, Huawei Dilarang Digunakan di Eropa
Segera Hadir HUAWEI...
Segera Hadir HUAWEI X Eliud Kipchoge: HUAWEI Watch GT Runner 2 Ultra Presisi, Ultra Pintar, Ultra Performa
Huawei Luncurkan MPV...
Huawei Luncurkan MPV Supermewah ala Rolls-Royce
Segera Meluncur, HUAWEI...
Segera Meluncur, HUAWEI WATCH FIT 5 Series dengan Studi Risiko Diabetes Pertama di Industri
Huawei Luncurkan LiDAR...
Huawei Luncurkan LiDAR 896, Sistem Kemudi Otonom Supercerdas
Rekomendasi
KAI Jadi Benchmark Layanan...
KAI Jadi Benchmark Layanan Publik Indonesia, Dinilai Mampu Bersaing secara Global
Tegang Sejak Pagi! 32...
Tegang Sejak Pagi! 32 Tim Terbaik Liga Bintang Juara Bersaing Menuju Jakarta
Kemenag Buka Beasiswa...
Kemenag Buka Beasiswa INSIGHT Scholarship bagi Mahasiswa Internasional yang Ingin Kuliah di PTKIN
Berita Terkini
Kecerdasan Buatan Sedang...
Kecerdasan Buatan Sedang Mengubah Lanskap Keamanan Siber
Instagram Down Massal,...
Instagram Down Massal, Benarkah Sengaja Diblokir karena Demo Mahasiswa?
Anthropic AI Claude...
Anthropic AI Claude Hasilkan Lebih dari 80 Persen Kode Baru
5 Cara Memilih Tempat...
5 Cara Memilih Tempat Top Up Game yang Terpercaya, AntiScam!
Desain Elegan Minimalis...
Desain Elegan Minimalis ASUS ROG Zephyrus G16 GU606 Nyaman untuk Kerja dan Gaming
Google Luncurkan Gemini...
Google Luncurkan Gemini 3.5 Live Translate, Terjemahkan Bahasa secara Real-time
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved