Dari 44 Juta Jadi 1 Juta Pemain: Runtuhnya Kerajaan Fortnite Picu Gelombang PHK Epic Games
Kamis, 26 Maret 2026 - 21:18 WIB
loading...
A
A
A
Angka ini turun tajam dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, yakni Februari 2025, yang masih mampu mencapai 21 jam per bulan.
Nasib serupa terjadi pada ekosistem Xbox, di mana rata-rata durasi bermain merosot ke angka 15 jam per bulan, meninggalkan kejayaan tahun sebelumnya yang masih sanggup menahan pemain di level 19 jam per bulan.
Lonjakan puluhan juta pemain pada era keemasan Fortnite sangat digerakkan oleh hype dan nostalgia massal. Sayangnya, pembaruan musim (season updates) sepanjang tahun 2025 dinilai gagal total dalam menghadirkan "sihir" inovasi. Tanpa adanya konten baru yang memikat, pengguna kasual perlahan pergi meninggalkan komunitas pemain inti.
Karena model bisnis live service game sangat bergantung pada tingkat kunjungan harian untuk memancing pembelian kosmetik virtual melalui microtransaction V-Bucks, penurunan durasi bermain ini secara otomatis memangkas habis margin keuntungan perusahaan.
Kegagalan adaptasi dalam memutar roda ekonomi di dalam gim inilah yang pada akhirnya memaksa CEO Tim Sweeney menekan tombol darurat, mengorbankan 1.000 kursi karyawannya demi menjaga napas dan keberlangsungan operasional perusahaan.
Nasib serupa terjadi pada ekosistem Xbox, di mana rata-rata durasi bermain merosot ke angka 15 jam per bulan, meninggalkan kejayaan tahun sebelumnya yang masih sanggup menahan pemain di level 19 jam per bulan.
Lonjakan puluhan juta pemain pada era keemasan Fortnite sangat digerakkan oleh hype dan nostalgia massal. Sayangnya, pembaruan musim (season updates) sepanjang tahun 2025 dinilai gagal total dalam menghadirkan "sihir" inovasi. Tanpa adanya konten baru yang memikat, pengguna kasual perlahan pergi meninggalkan komunitas pemain inti.
Karena model bisnis live service game sangat bergantung pada tingkat kunjungan harian untuk memancing pembelian kosmetik virtual melalui microtransaction V-Bucks, penurunan durasi bermain ini secara otomatis memangkas habis margin keuntungan perusahaan.
Kegagalan adaptasi dalam memutar roda ekonomi di dalam gim inilah yang pada akhirnya memaksa CEO Tim Sweeney menekan tombol darurat, mengorbankan 1.000 kursi karyawannya demi menjaga napas dan keberlangsungan operasional perusahaan.
(dan)
Lihat Juga :