Panduan Deteksi Video Deepfake Langsung dari Ahlinya

Jum'at, 20 Maret 2026 - 12:51 WIB
loading...
Panduan Deteksi Video...
Panduan Deteksi Video Deepfake. Foto/viet
A A A
LONDON - Teknologi Deepfake semakin canggih dan menjadi alat yang ampuh bagi penjahat siber. Jangan sampai Anda menjadi korban "pencuri wajah".

Di bawah ini adalah kiat-kiat yang sangat berguna untuk mengidentifikasi dan mencegah teknologi Deepfake dari para ahli keamanan Kaspersky.

Saat ini, teknologi untuk membuatvideodan pesan suara palsu sudah mudah didapatkan, sehingga siapa pun bisa menjadi target penipu Deepfake.

Para penjahat hanya membutuhkan audio selama tiga hingga lima detik untuk meniru suara dan beberapa foto untuk membuat video yang sangat meyakinkan.

Para penipu sering mengumpulkan data sumber dari webinar, media sosial, atau, yang lebih canggih, meretas akun korban.

Mereka mungkin menggabungkan Deepfake dengan taktik manipulasi psikologis, seperti berpura-pura memiliki koneksi internet yang buruk untuk mengirim video berkualitas rendah guna menciptakan situasi mendesak untuk meminjam uang.

Yang lebih berbahaya lagi, layanan streaming Deepfake secara real-time telah muncul, memungkinkan para penipu untuk mengganti wajah mereka sendiri selama panggilan video.

Untuk melindungi diri Anda, Anda dapat menerapkan kiat deteksi Deepfake yang direkomendasikan oleh para ahli keamanan Kaspersky.

Pertama, perhatikan tanda-tanda visual yang tidak biasa. Waspadai kesalahan pencahayaan dan bayangan dalam video.

Deepfake sering melanggar hukum fisika tentang cahaya, menyebabkan bayangan pada wajah dan latar belakang tidak sesuai, atau pencahayaan pada kulit terlihat tidak alami.

Anda harus memberikan perhatian khusus pada garis rambut, karena Deepfake sering kali menunjukkan kedipan atau keburaman di sepanjang area ini karena algoritma overlay wajah.

Selain itu, perhatikan mata orang yang Anda ajak berinteraksi melalui layar. Orang normal berkedip 10-20 kali per menit, tetapi dalam video Deepfake, frekuensi kedipan mungkin terlalu rendah, terlalu tinggi, atau kedua mata mungkin berkedip tidak sinkron.

Setelah diperiksa lebih dekat, pantulan cahaya pada pupil kedua mata seringkali tidak persis sama.

Video deepfake seringkali memiliki gerakan mulut yang tidak sinkron. Ucapan dan gerakan bibir biasanya tertunda. Bentuk bibir juga rentan terhadap kesalahan saat mengucapkan bunyi seperti "m," "f," atau "t."

Pada akhirnya, Deepfake sangat buruk dalam meniru emosi; senyumannya seringkali kaku dan kurang memiliki kerutan alami, membuat wajah terlihat seperti telah disuntik Botox.

Kedua, terdapat karakteristik yang tidak biasa pada suaranya. Suara yang dihasilkan AI seringkali monoton, kurang variasi intonasi alami, dan terkadang terdengar seperti robot. Selain itu, manusia selalu memiliki jeda untuk bernapas, batuk, atau bersin, sedangkan suara sintetis seringkali sama sekali tidak memiliki nuansa tersebut.

Deepfake seringkali tidak mampu meniru pola bicara, intonasi suara, atau jargon khas seseorang.

Jika Anda mencurigai panggilan video itu palsu, segera minta orang lain untuk melakukan tindakan seperti menoleh ke samping. Sebagian besar video Deepfake dibuat dari foto potret lurus, jadi menoleh ke samping akan menyebabkan gambar tampak buram, terdistorsi, atau berpiksel.

Selain itu, mereka dapat diminta untuk membuat gerakan tangan spontan seperti melambaikan tangan di depan wajah, minum air, atau menggaruk hidung. Deepfake menangani gerakan-gerakan ini dengan sangat buruk, menyebabkan tangan tampak buram atau jari-jari terdistorsi.

Salah satu metode yang cukup umum dan direkomendasikan oleh banyak pakar AI terkemuka untuk membedakan video Deepfake adalah dengan mengajukan pertanyaan pribadi yang rumit yang hanya diketahui oleh orang sungguhan (misalnya, kenanganperjalanantahun lalu) atau menggunakan kata sandi keluarga.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Facebook Luncurkan Mode...
Facebook Luncurkan Mode Pencarian AI, Begini Cara Pakainya
Komputer Kuantum Optik...
Komputer Kuantum Optik Bakal Jadi Kebutuhan Energi AI
Untuk Pertama Kalinya...
Untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah, Vaksin Buatan AI Diuji pada Manusia
Eropa Wajibkan Pelabelan...
Eropa Wajibkan Pelabelan Konten yang Dihasilkan AI
Kecerdasan Buatan Sedang...
Kecerdasan Buatan Sedang Mengubah Lanskap Keamanan Siber
Anthropic AI Claude...
Anthropic AI Claude Hasilkan Lebih dari 80 Persen Kode Baru
MNC University Bahas...
MNC University Bahas Masa Depan Produksi Iklan di Era AI melalui Talkshow KRUFEST
UBM Luncurkan AI Tutor...
UBM Luncurkan AI Tutor Terintegrasi dengan Kurikulum OBE Pertama di Indonesia
AI Juru Selamat atau...
AI Juru Selamat atau Kepunahan Pekerja Industri Kreatif?
Rekomendasi
Ajukan Jadi JC, Mantan...
Ajukan Jadi JC, Mantan Waka BNN Sony Sonjaya Diperiksa di Kejagung Besok
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
Kejagung Segel Gudang...
Kejagung Segel Gudang Motor Listrik Milik BGN di Bogor
Berita Terkini
Trump T1 Phone Ternyata...
Trump T1 Phone Ternyata HTC U24 Pro Buatan China: Ini Bukti Teardown-nya
Kantongi Laba Rp33,72...
Kantongi Laba Rp33,72 Miliar, Elitery (ELIT) Fokus Kembangkan AI dan Cybersecurity
Perkuat Transformasi...
Perkuat Transformasi dan ESG, TelkomGroup Rilis Laporan Keberlanjutan 2025 untuk Masa Depan Digital
Fasilitasi Pasar Sekunder...
Fasilitasi Pasar Sekunder Esports, HIDDEN SUPPLY Kelola Transaksi Aset Tak Berwujud
Perkuat Transformasi...
Perkuat Transformasi Industri, Hypernet Technologies Perkokoh Kemitraan Strategis di Bravo 500 Summit 2026
Facebook Luncurkan Mode...
Facebook Luncurkan Mode Pencarian AI, Begini Cara Pakainya
Infografis
10 Figur Publik Penerima...
10 Figur Publik Penerima Beasiswa LPDP, dari Mutiara Baswedan hingga Maudy Ayunda
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved