Mungkinkah Rudal Hipersonik Fattah-2 Iran Menyamai Kecepatan Mach 5
Kamis, 19 Maret 2026 - 10:49 WIB
loading...
A
A
A
Kantor berita Tasnim menduga bahwa mesin kendaraan tersebut mungkin menggunakan hidrazin, komponen umum dalam sistem bahan bakar hipergolik, yang dapat terbakar secara spontan saat bersentuhan dengan oksidator tanpa memerlukan sistem pengapian.
Meskipun memiliki toksisitas dan sifat korosif yang tinggi, jenis bahan bakar ini masih digunakan dalam teknologi kedirgantaraan karena kemampuannya untuk mengontrol daya dorong dan menghidupkan kembali mesin.
Pada prinsipnya, sistem propulsi ini memungkinkan kendaraan untuk mengoreksi lintasannya selama fase penerbangan tertentu.
Namun, selama fase penerbangan di atmosfer, kemampuan manuver kemungkinan besar akan tetap bergantung terutama pada permukaan kontrol aerodinamis, bukan pada daya dorong aktif, faktor yang dapat membatasi kemampuan manuver dibandingkan dengan kendaraan luncur hipersonik canggih.
Menurut Iran, Fattah-2 dapat mencapai kecepatan melebihi Mach 5 (sekitar 6.175 km/jam), ambang batas minimum untuk diklasifikasikan sebagai senjata hipersonik.
Klaim lain menunjukkan sistem ini dapat mencapai Mach 13–15 (sekitar 16.000–18.500 km/jam). Namun, angka-angka ini belum dikonfirmasi oleh data uji independen.
Salah satu aspek penting dari Fattah-2 adalah klaim kemampuan manuvernya selama penerbangan. Beberapa analisis menunjukkan bahwa sistem ini mungkin menggunakan hulu ledak kendaraan masuk kembali yang dapat bermanuver (MaRV), yang memungkinkan penyesuaian lintasan selama fase masuk kembali.
Namun, pernyataan Iran yang menyebut Fattah-2 sebagai senjata hipersonik telah memicu perdebatan di kalangan para ahli.
Menurut Center for Strategic and International Studies (CSIS), HGV adalah senjata yang mampu meluncur di atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi, lintasan kompleks, dan kemampuan manuver berkelanjutan.
Sementara itu, MaRV biasanya hanya melakukan penyesuaian lintasan terbatas pada tahap akhir perjalanannya.
Meskipun memiliki toksisitas dan sifat korosif yang tinggi, jenis bahan bakar ini masih digunakan dalam teknologi kedirgantaraan karena kemampuannya untuk mengontrol daya dorong dan menghidupkan kembali mesin.
Pada prinsipnya, sistem propulsi ini memungkinkan kendaraan untuk mengoreksi lintasannya selama fase penerbangan tertentu.
Namun, selama fase penerbangan di atmosfer, kemampuan manuver kemungkinan besar akan tetap bergantung terutama pada permukaan kontrol aerodinamis, bukan pada daya dorong aktif, faktor yang dapat membatasi kemampuan manuver dibandingkan dengan kendaraan luncur hipersonik canggih.
Menurut Iran, Fattah-2 dapat mencapai kecepatan melebihi Mach 5 (sekitar 6.175 km/jam), ambang batas minimum untuk diklasifikasikan sebagai senjata hipersonik.
Klaim lain menunjukkan sistem ini dapat mencapai Mach 13–15 (sekitar 16.000–18.500 km/jam). Namun, angka-angka ini belum dikonfirmasi oleh data uji independen.
Salah satu aspek penting dari Fattah-2 adalah klaim kemampuan manuvernya selama penerbangan. Beberapa analisis menunjukkan bahwa sistem ini mungkin menggunakan hulu ledak kendaraan masuk kembali yang dapat bermanuver (MaRV), yang memungkinkan penyesuaian lintasan selama fase masuk kembali.
Namun, pernyataan Iran yang menyebut Fattah-2 sebagai senjata hipersonik telah memicu perdebatan di kalangan para ahli.
Menurut Center for Strategic and International Studies (CSIS), HGV adalah senjata yang mampu meluncur di atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi, lintasan kompleks, dan kemampuan manuver berkelanjutan.
Sementara itu, MaRV biasanya hanya melakukan penyesuaian lintasan terbatas pada tahap akhir perjalanannya.
Lihat Juga :