Manusia Memperlambat Putaran Rotasi Bumi, Ini Buktinya

Selasa, 17 Maret 2026 - 10:38 WIB
loading...
Manusia Memperlambat...
Manusia Memperlambat Putaran Rotasi Bumi. FOTO/ DAILY
A A A
LONDON - Perubahan iklim tidak hanya menyebabkan naiknya permukaan laut, tetapi juga memperlambat rotasi planet, membuat setiap hari menjadi lebih panjang dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya.


Penelitian baru menunjukkan bahwa aktivitas manusia tidak hanya menghangatkan Bumi tetapi juga dapat memperlambat rotasi planet.

Meskipun kecepatan rotasi Bumi sedikit berfluktuasi dari waktu ke waktu, penelitian menunjukkan bahwa perlambatan saat ini belum pernah terjadi sebelumnya setidaknya dalam 3,6 juta tahun terakhir.

Secara teori, satu rotasi Bumi membutuhkan waktu tepat 24 jam. Namun, pada kenyataannya, panjang satu hari dapat bervariasi hingga beberapa seperseribu detik (milidetik).

Penyebabnya berasal dari beberapa faktor, termasuk gaya gravitasi Bulan, proses geofisika di dalam interior Bumi, dan sirkulasi atmosfer.

Baru-baru ini, pada bulan Juli dan Agustus 2025, posisi relatif Bulan menyebabkan hari di Bumi melambat rata-rata lebih dari 1 milidetik.

Namun,para ilmuwanpercaya bahwa di balik fluktuasi jangka pendek ini terdapat tren jangka panjang yang terkait dengan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

Penyebab utamanya berasal dari pencairan lapisan es kutub. Seiring meningkatnya suhu global, es berusia ribuan tahun di kutub mencair dan mengalir ke lautan. Air ini tidak tetap berada di satu tempat tetapi menyebar secara global, terkonsentrasi lebih banyak di dekat khatulistiwa karena gaya sentrifugal.

Fenomena ini mirip dengan cara seorang pemain seluncur es merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk memperlambat putaran.

Demikian pula untuk Bumi, ketika massa es terkonsentrasi di kutub (dekat sumbu rotasi), Bumi berputar lebih cepat. Ketika massa bergeser ke arah khatulistiwa (menjauh dari sumbu rotasi), momen inersia meningkat, menyebabkan Bumi melambat dan hari menjadi lebih panjang.

"Pencairan lapisan es kutub yang cepat pada abad ke-21 menyebabkan permukaan laut naik dan memperlambat rotasi Bumi,"kata ilmuwan Mostafa Kiani Shahvandi dari Departemen Meteorologi dan Geofisika di Universitas Wina (Austria). "Yang ingin kami klarifikasi adalah apakah pernah ada periode dalam sejarah di mana iklim menyebabkan laju perubahan yang serupa."

Tim peneliti menyimpulkan bahwa, rata-rata, panjang hari di Bumi meningkat sekitar 1,33 milidetik setiap abad. Angka ini mungkin terdengar kecil, tetapi ini mewakili laju perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Profesor Benedikt Soja, seorang spesialis Geodesi Antariksa di ETH Zurich, menekankan:"Laju perubahan panjang hari saat ini terutama disebabkan oleh aktivitas manusia. Pada akhir abad ke-21, dampak perubahan iklim dapat memengaruhi panjang hari lebih kuat daripada gaya pasang surut Bulan."

Meskipun manusia tidak dapat merasakan perubahan beberapa milidetik dalam kehidupan sehari-hari, ini merupakan masalah serius bagi sistem teknologi tinggi.

Profesor Soja mencatat bahwa navigasi ruang angkasa yang presisi, pengoperasian satelit GPS, dan jaringan transaksi keuangan yang kompleks semuanya bergantung pada pengukuran waktu yang sangat teliti.

Bahkan penyimpangan kecil dalam siklus rotasi Bumi, jika tidak dikoreksi tepat waktu, dapat menyebabkan sistem-sistem ini mengalami kerusakan atau menghasilkan kesalahan serius
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menganalisis Kekuatan...
Menganalisis Kekuatan Pesawat Su-35 dan Rafale setelah Pertemuan di Laut Baltik
Gerhana Matahari Total...
Gerhana Matahari Total Terlama Abad Ini Akan Segera Terjadi
Ilmuwan Pastikan AI...
Ilmuwan Pastikan AI Belum Bisa Kalahkan Teori Soal Iklim
Permukiman Prasejarah...
Permukiman Prasejarah Ditemukan di Gurun Yordania
Melihat Lebih Dekat...
Melihat Lebih Dekat Fasilitas Penyimpanan Limbah Nuklir Pertama di Dunia
Penemuan Mengejutkan...
Penemuan Mengejutkan dari Mumi Oezti Berusia 5.000 Tahun Dibeberkan
Audi Nuvolari Spyder...
Audi Nuvolari Spyder versi Konvertibel Akan segera Diluncurkan
Angkat Pangan dan Nutrisi,...
Angkat Pangan dan Nutrisi, Peneliti Indonesia Masuk Daftar Asian Scientist 100
AI Bisa Memperpanjang...
AI Bisa Memperpanjang Masa Pakai Baterai Kendaraan Listrik
Rekomendasi
4 Fakta Serangan Iran...
4 Fakta Serangan Iran ke Pangkalan Militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania
Drone Iran Gempur Armada...
Drone Iran Gempur Armada Kelima AS di Bahrain
Perindo Sulut Rampungkan...
Perindo Sulut Rampungkan Struktur Kecamatan, Bidik 3 Kursi DPRD
Berita Terkini
Menganalisis Kekuatan...
Menganalisis Kekuatan Pesawat Su-35 dan Rafale setelah Pertemuan di Laut Baltik
4 Teknologi Mutakhir...
4 Teknologi Mutakhir di Piala Dunia 2026, Pesepak Bola Akan Jadi Avatar
OpenAI Luncurkan Fitur...
OpenAI Luncurkan Fitur Penguncian Perlindungan Data untuk ChatGPT
Rayakan Hari Jadi ke-30,...
Rayakan Hari Jadi ke-30, Lexar Padukan Visi Teknologi AI dan Sinergi Global
Gerhana Matahari Total...
Gerhana Matahari Total Terlama Abad Ini Akan Segera Terjadi
Ilmuwan Pastikan AI...
Ilmuwan Pastikan AI Belum Bisa Kalahkan Teori Soal Iklim
Infografis
Iran Paksa AS Terima...
Iran Paksa AS Terima Kekalahan setelah 40 Hari Berperang, Ini 10 Poin Gencatan Senjata
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved