AS Terjunkan USS Canberra untuk Sapu Bersih Ranjau Iran di Selat Hormuz
Minggu, 15 Maret 2026 - 09:18 WIB
loading...
A
A
A
Secara spesifik, sistem ini menggunakan sonar khusus untuk mendeteksi objek yang diduga sebagai ranjau di dasar laut atau yang melayang di kolom air.
Prinsip kerja sonar didasarkan pada pemancaran pulsa suara frekuensi tinggi ke lingkungan air dan perekaman sinyal pantulan ketika gelombang suara tersebut mengenai suatu objek.
Selain itu, kapal ini dapat mengerahkan kendaraan bawah air tanpa awak atau kendaraan selam tanpa awak (UUV) untuk mendekati dan mensurvei target bawah air, serta peralatan deteksi ranjau yang dipasang pada helikopter atau drone. Kombinasi ini secara signifikan memperluas jangkauan pengintaian sekaligus meningkatkan akurasi dalam identifikasi dan pemrosesan target.
Peralatan pencari ranjau tidak menempatkan pelaut di area ladang ranjau, sehingga secara signifikan mengurangi risiko korban jiwa dibandingkan dengan metode pembersihan ranjau tradisional.
Selama beberapa dekade, ranjau laut telah menimbulkan kerusakan pada kapal perang lebih besar daripada senjata lainnya dalam konflik angkatan laut sejak Perang Dunia II. Hal ini menjadikan pengembangan sistem anti-ranjau sebagai prioritas strategis bagi banyak negara..
USS Canberra dan kapal tempur pesisir (Littoral Combat Ship/LCS) lainnya diharapkan memainkan peran penting dalam misi ini. Lebih dari sekadar kapal penyapu ranjau, kelas LCS juga dipandang sebagai tempat uji coba teknologi angkatan laut baru, mulai dari robot otonom hingga sistem sensor canggih.
Selat Hormuz telah lama dianggap sebagai salah satu titik rawan maritim terpenting di dunia. Terletak di antara Iran dan Oman, jalur air sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, serta merupakan koridor transportasi energi global yang penting.
Menurut Badan Informasi Energi AS, sekitar 20% konsumsi minyak dunia diangkut melalui Selat Hormuz setiap hari, menjadikan wilayah ini sebagai titik kunci dalam sistem perdagangan energi internasional.
Prinsip kerja sonar didasarkan pada pemancaran pulsa suara frekuensi tinggi ke lingkungan air dan perekaman sinyal pantulan ketika gelombang suara tersebut mengenai suatu objek.
Selain itu, kapal ini dapat mengerahkan kendaraan bawah air tanpa awak atau kendaraan selam tanpa awak (UUV) untuk mendekati dan mensurvei target bawah air, serta peralatan deteksi ranjau yang dipasang pada helikopter atau drone. Kombinasi ini secara signifikan memperluas jangkauan pengintaian sekaligus meningkatkan akurasi dalam identifikasi dan pemrosesan target.
Peralatan pencari ranjau tidak menempatkan pelaut di area ladang ranjau, sehingga secara signifikan mengurangi risiko korban jiwa dibandingkan dengan metode pembersihan ranjau tradisional.
Selama beberapa dekade, ranjau laut telah menimbulkan kerusakan pada kapal perang lebih besar daripada senjata lainnya dalam konflik angkatan laut sejak Perang Dunia II. Hal ini menjadikan pengembangan sistem anti-ranjau sebagai prioritas strategis bagi banyak negara..
USS Canberra dan kapal tempur pesisir (Littoral Combat Ship/LCS) lainnya diharapkan memainkan peran penting dalam misi ini. Lebih dari sekadar kapal penyapu ranjau, kelas LCS juga dipandang sebagai tempat uji coba teknologi angkatan laut baru, mulai dari robot otonom hingga sistem sensor canggih.
Selat Hormuz telah lama dianggap sebagai salah satu titik rawan maritim terpenting di dunia. Terletak di antara Iran dan Oman, jalur air sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, serta merupakan koridor transportasi energi global yang penting.
Menurut Badan Informasi Energi AS, sekitar 20% konsumsi minyak dunia diangkut melalui Selat Hormuz setiap hari, menjadikan wilayah ini sebagai titik kunci dalam sistem perdagangan energi internasional.
(wbs)
Lihat Juga :