Radar AS di Timur Tengah Dihancurkan, Sistem Pertahanan Iran Ikut Melemah
Kamis, 05 Maret 2026 - 13:15 WIB
loading...
Radar AS di Timur Tengah Dihancurkan. Foto/Daily
A
A
A
TEHERAN - Iran menyerang sistem pertahanan radar di Bahrain dan Qatar, menyebabkan kerusakan signifikan dan mengurangi efektivitas sistem pertahanan rudal AS di kawasan tersebut.
Berbagai sumber internasional melaporkan bahwa serangan rudal balistik Iran menghantam dan menghancurkan radar pertahanan rudal di Bahrain dan Qatar menyusul serangan udara AS dan Israel yang menargetkan sasaran Iran pada 28 Februari.
Bahrain adalah rumah bagi pangkalan tetap Armada ke-5 Angkatan Laut AS, sementara Qatar dianggap sebagai pusat operasionalmiliterterbesar Washington di Timur Tengah. Titik fokusnya adalah Pangkalan Udara Al Udeid – pangkalan udara AS terbesar di kawasan ini.
Peluncuran rudal tersebut berasal dari sistem pertahanan udara MIM-104 Patriot.
Menurut data satelit yang dirilis sebelumnya, pangkalan tersebut pernah dilengkapi dengan sistem pertahanan udara MIM-104 Patriot, bersama dengan beberapa pesawat pengisian bahan bakar KC-135 dan pesawat pengintai RC-135.
Namun, sebagian besar pesawat tersebut diyakini telah ditarik dari daerah tersebut beberapa hari sebelum serangan terbaru.
Kemampuan intersepsi sistem Patriot di Qatar telah lama menjadi subjek perdebatan. Selama serangan terbatas Iran terhadap Al Udeid pada Juni 2025, AS awalnya mengklaim sistem tersebut telah berkinerja efektif.
Namun, citra satelit selanjutnya mengungkapkan bahwa kubah radar yang berisi peralatan komunikasi militer canggih senilai sekitar 15 juta dolar AS telah hancur. Para pejabat Pentagon kemudian mengakui bahwa rudal Iran telah menembus sistem pertahanan tersebut.
Pangkalan Udara Al Udeid - pusat operasi AS di Timur Tengah.
Patut dicatat bahwa pada saat itu Iran hanya menggunakan rudal Fateh-313 – jenis yang dianggap memiliki kecanggihan teknologi yang relatif rendah.
Analis militer percaya bahwa penghancuran radar pertahanan rudal dapat secara signifikan mengurangi kemampuan intersepsi AS dan sekutunya di Timur Tengah.
Dalam konteks ini, faktor penting lainnya adalah kekurangan rudal pencegat Patriot. Pada pertengahan tahun 2025, persediaan AS diproyeksikan hanya sekitar 25% dari yang dibutuhkan, sebagian besar karena bantuan besar-besaran kepada Ukraina pada tahun 2023-2024 di bawah pemerintahan Joe Biden.
Penurunan cadangan ini dapat mempersulit AS untuk mempertahankan kemampuan pertahanan rudalnya terhadap serangan skala besar, khususnya di pangkalan-pangkalan terdepan di Timur Tengah.
Serangan terhadap radar pertahanan di Pangkalan Udara Al Udeid menunjukkan strategi Iran yang jelas: melumpuhkan "mata" sistem pertahanan udara sebelum musuh dapat mengatur pencegatan.
Jika radar dihancurkan, efektivitas sistem Patriot akan sangat berkurang karena hilangnya kemampuannya untuk melacak target secara akurat.
Perkembangan ini juga mencerminkan kenyataan bahwa pertahanan rudal di Timur Tengah kemungkinan besar tidak akan mampu menahan serangan besar-besaran oleh rudal balistik modern.
Berbagai sumber internasional melaporkan bahwa serangan rudal balistik Iran menghantam dan menghancurkan radar pertahanan rudal di Bahrain dan Qatar menyusul serangan udara AS dan Israel yang menargetkan sasaran Iran pada 28 Februari.
Bahrain adalah rumah bagi pangkalan tetap Armada ke-5 Angkatan Laut AS, sementara Qatar dianggap sebagai pusat operasionalmiliterterbesar Washington di Timur Tengah. Titik fokusnya adalah Pangkalan Udara Al Udeid – pangkalan udara AS terbesar di kawasan ini.
Peluncuran rudal tersebut berasal dari sistem pertahanan udara MIM-104 Patriot.
Menurut data satelit yang dirilis sebelumnya, pangkalan tersebut pernah dilengkapi dengan sistem pertahanan udara MIM-104 Patriot, bersama dengan beberapa pesawat pengisian bahan bakar KC-135 dan pesawat pengintai RC-135.
Namun, sebagian besar pesawat tersebut diyakini telah ditarik dari daerah tersebut beberapa hari sebelum serangan terbaru.
Kemampuan intersepsi sistem Patriot di Qatar telah lama menjadi subjek perdebatan. Selama serangan terbatas Iran terhadap Al Udeid pada Juni 2025, AS awalnya mengklaim sistem tersebut telah berkinerja efektif.
Namun, citra satelit selanjutnya mengungkapkan bahwa kubah radar yang berisi peralatan komunikasi militer canggih senilai sekitar 15 juta dolar AS telah hancur. Para pejabat Pentagon kemudian mengakui bahwa rudal Iran telah menembus sistem pertahanan tersebut.
Pangkalan Udara Al Udeid - pusat operasi AS di Timur Tengah.
Patut dicatat bahwa pada saat itu Iran hanya menggunakan rudal Fateh-313 – jenis yang dianggap memiliki kecanggihan teknologi yang relatif rendah.
Analis militer percaya bahwa penghancuran radar pertahanan rudal dapat secara signifikan mengurangi kemampuan intersepsi AS dan sekutunya di Timur Tengah.
Dalam konteks ini, faktor penting lainnya adalah kekurangan rudal pencegat Patriot. Pada pertengahan tahun 2025, persediaan AS diproyeksikan hanya sekitar 25% dari yang dibutuhkan, sebagian besar karena bantuan besar-besaran kepada Ukraina pada tahun 2023-2024 di bawah pemerintahan Joe Biden.
Penurunan cadangan ini dapat mempersulit AS untuk mempertahankan kemampuan pertahanan rudalnya terhadap serangan skala besar, khususnya di pangkalan-pangkalan terdepan di Timur Tengah.
Serangan terhadap radar pertahanan di Pangkalan Udara Al Udeid menunjukkan strategi Iran yang jelas: melumpuhkan "mata" sistem pertahanan udara sebelum musuh dapat mengatur pencegatan.
Jika radar dihancurkan, efektivitas sistem Patriot akan sangat berkurang karena hilangnya kemampuannya untuk melacak target secara akurat.
Perkembangan ini juga mencerminkan kenyataan bahwa pertahanan rudal di Timur Tengah kemungkinan besar tidak akan mampu menahan serangan besar-besaran oleh rudal balistik modern.
(wbs)
Lihat Juga :