Anak Hancur Mentalnya, Mark Zuckerberg Tetap Bantah Algoritma Instagram Bikin Kecanduan
Sabtu, 28 Februari 2026 - 08:07 WIB
loading...
A
A
A
Ia bersaksi bahwa kecanduannya pada media sosial sejak kecil telah membuatnya menjadi sosok yang cemas, depresi, tidak percaya diri dengan fisiknya, namun di sisi lain, ia sama sekali tidak bisa melepaskan ponselnya tanpa merasa tersiksa.
Kaley bercerita bahwa ia sudah terobsesi dengan YouTube sejak usia 6 tahun dan Instagram di usia 9 tahun. Obsesi ini menghancurkan nilai sekolahnya, merampas waktu tidurnya, mematikan kehidupan sosialnya di dunia nyata, dan merusak hubungannya dengan keluarga.
Saat ibunya menyita ponselnya, Kaley mengaku akan mengamuk dan panik luar biasa. "Karena tanpanya saya merasa ada sebagian besar dari diri saya yang hilang," ungkapnya.
Ironisnya, meski sering menjadi korban perundungan siber (cyberbullying), dijauhkan dari media sosial ternyata lebih menyiksanya daripada membaca komentar-komentar hinaan tersebut. Ia sangat bergantung pada "Suka" (Like) untuk mendapatkan validasi, sementara filter kecantikan di aplikasi justru merusak citra dirinya sendiri.
Mantan psikoterapis Kaley pun bersaksi bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan adalah "faktor penyumbang" terhadap masalah mentalnya, yang kemudian didiagnosis sebagai fobia sosial dan gangguan dismorfik tubuh (body dysmorphic disorder).
Tren penolakan global terhadap media sosial memang sedang menguat di tahun 2026. Australia bahkan telah melarang anak di bawah 16 tahun untuk menggunakan platform tersebut, dan negara lain tengah mempertimbangkan aturan serupa.
Kaley bercerita bahwa ia sudah terobsesi dengan YouTube sejak usia 6 tahun dan Instagram di usia 9 tahun. Obsesi ini menghancurkan nilai sekolahnya, merampas waktu tidurnya, mematikan kehidupan sosialnya di dunia nyata, dan merusak hubungannya dengan keluarga.
Saat ibunya menyita ponselnya, Kaley mengaku akan mengamuk dan panik luar biasa. "Karena tanpanya saya merasa ada sebagian besar dari diri saya yang hilang," ungkapnya.
Ironisnya, meski sering menjadi korban perundungan siber (cyberbullying), dijauhkan dari media sosial ternyata lebih menyiksanya daripada membaca komentar-komentar hinaan tersebut. Ia sangat bergantung pada "Suka" (Like) untuk mendapatkan validasi, sementara filter kecantikan di aplikasi justru merusak citra dirinya sendiri.
Mantan psikoterapis Kaley pun bersaksi bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan adalah "faktor penyumbang" terhadap masalah mentalnya, yang kemudian didiagnosis sebagai fobia sosial dan gangguan dismorfik tubuh (body dysmorphic disorder).
Tren penolakan global terhadap media sosial memang sedang menguat di tahun 2026. Australia bahkan telah melarang anak di bawah 16 tahun untuk menggunakan platform tersebut, dan negara lain tengah mempertimbangkan aturan serupa.
(dan)
Lihat Juga :