Kiamat Ponsel Gaming: Ini Alasan Asus Bunuh Zenfone dan ROG Phone
Selasa, 20 Januari 2026 - 16:47 WIB
loading...
Langkah Asus ini mencerminkan tren paradigm shift atau pergeseran paradigma yang sedang melanda industri teknologi global. Foto: ASUS
A
A
A
TAIWAN - Tirai panggung bagi lini ponsel pintar Asus tampaknya telah tertutup rapat pada awal tahun 2026 ini. Sekaligus menandai berakhirnya era dua seri ikonik yang sempat mewarnai pasar niche global: Zenfone dan ROG Phone.
Raksasa teknologi asal Taiwan tersebut dikabarkan resmi menghentikan pengembangan model ponsel pintar baru untuk memusatkan seluruh sumber daya perusahaan pada pengembangan kecerdasan buatan (AI) fisik dan komputasi komersial.
Keputusan mengejutkan ini terungkap dalam acara "2025 Year-End Gala" yang dihelat perusahaan di Taipei, awal Januari ini.
Berdasarkan laporan media lokal Taiwan, Inside, Chairman Asus Jonney Shih secara eksplisit menyampaikan sinyal kematian bagi divisi seluler mereka.
Pernyataan Shih tidak hanya menjadi lonceng kematian bagi perangkat Android Asus, tetapi juga cerminan brutalnya kompetisi di pasar gawai yang semakin jenuh.
Dalam pernyataannya yang dilansir Senin (19/1/2026), Jonney Shih menegaskan bahwa perusahaan tidak akan lagi menambah portofolio ponsel pintar di masa depan. “Asus tidak akan lagi menambahkan model ponsel baru di masa mendatang,” ujar Shih.
Meski demikian, Shih menggunakan terminologi diplomatis: menyebut bahwa perusahaan kini memasuki fase "observasi tanpa batas waktu" (indefinite observation).
Frasa ini secara teknis menyisakan ruang spekulasi untuk kembalinya Asus di masa depan. Namun, jelas langkah ini adalah eufemisme untuk penutupan divisi secara permanen.
Sumber daya yang sebelumnya dialokasikan untuk riset dan pengembangan Zenfone serta ROG Phone kini direalokasikan sepenuhnya untuk menangkap peluang di sektor "perangkat AI fisik" (physical AI devices), termasuk robotika AI (AI Robot & Robotics) dan kacamata pintar (AI Glasses).
Data pasar global menunjukkan bahwa meskipun memiliki basis penggemar fanatik—terutama di segmen gaming—pangsa pasar Asus tidak pernah benar-benar signifikan dalam skala makro.
Laporan dari Tech Advisor menyoroti bahwa Asus berjuang keras dengan pangsa pasar global yang stagnan di angka kurang dari 1,94 persen. Dalam ekosistem yang didominasi oleh duopoli Samsung dan Apple, serta gempuran agresif merek China seperti Xiaomi dan BBK Electronics, mempertahankan lini produksi dengan volume penjualan rendah menjadi beban operasional yang tidak berkelanjutan (unsustainable).
Tahun 2025 sendiri menjadi tahun yang "sepi" bagi divisi mobile Asus. Mereka hanya merilis dua model utama: Zenfone 12 Ultra yang berukuran besar namun dianggap kurang inovatif, serta ROG Phone 9 FE.
Kedua model ini bahkan tidak menyentuh pasar strategis seperti Amerika Serikat. Padahal, pada tahun 2023, Asus sempat menuai pujian kritis lewat Zenfone 10 yang mengisi kekosongan pasar ponsel mungil (compact flagship).
Di sisi lain, lini ROG Phone sejatinya telah menjadi standar emas (gold standard) bagi ponsel gaming premium. Inovasi seperti sistem pendingin aktif, tombol bahu ultrasonik, dan layar refresh rate tinggi adalah warisan teknologi yang sulit dicari tandingannya.
Namun, ceruk pasar gaming yang spesifik terbukti tidak cukup besar untuk menopang profitabilitas divisi mobile secara keseluruhan di tengah biaya komponen yang terus melambung.
Logika bisnisnya jelas: Asus memiliki fondasi yang jauh lebih kuat di industri PC dan komponen komputer.
Dengan mengalihkan fokus ke "Commercial PC" dan perangkat AI, Asus bermain di kandang sendiri di mana merek ROG (Republic of Gamers) masih memiliki ekuitas yang sangat kuat.
Mengintegrasikan AI ke dalam laptop, robot, dan perangkat wearable (seperti kacamata pintar) dipandang memiliki Return on Investment (ROI) yang jauh lebih menjanjikan dibandingkan bertarung di lautan merah pasar smartphone yang margin keuntungannya kian menipis.
Namun, bagi para gamer dan penikmat teknologi, Januari 2026 akan dikenang sebagai momen di mana salah satu pemain paling eksperimental di dunia Android akhirnya memilih untuk log out dari permainan, meninggalkan warisan inovasi yang kini harus digantikan oleh robot dan algoritma.
Raksasa teknologi asal Taiwan tersebut dikabarkan resmi menghentikan pengembangan model ponsel pintar baru untuk memusatkan seluruh sumber daya perusahaan pada pengembangan kecerdasan buatan (AI) fisik dan komputasi komersial.
Keputusan mengejutkan ini terungkap dalam acara "2025 Year-End Gala" yang dihelat perusahaan di Taipei, awal Januari ini.
Berdasarkan laporan media lokal Taiwan, Inside, Chairman Asus Jonney Shih secara eksplisit menyampaikan sinyal kematian bagi divisi seluler mereka.
Pernyataan Shih tidak hanya menjadi lonceng kematian bagi perangkat Android Asus, tetapi juga cerminan brutalnya kompetisi di pasar gawai yang semakin jenuh.
Dalam pernyataannya yang dilansir Senin (19/1/2026), Jonney Shih menegaskan bahwa perusahaan tidak akan lagi menambah portofolio ponsel pintar di masa depan. “Asus tidak akan lagi menambahkan model ponsel baru di masa mendatang,” ujar Shih.
Meski demikian, Shih menggunakan terminologi diplomatis: menyebut bahwa perusahaan kini memasuki fase "observasi tanpa batas waktu" (indefinite observation).
Frasa ini secara teknis menyisakan ruang spekulasi untuk kembalinya Asus di masa depan. Namun, jelas langkah ini adalah eufemisme untuk penutupan divisi secara permanen.
Sumber daya yang sebelumnya dialokasikan untuk riset dan pengembangan Zenfone serta ROG Phone kini direalokasikan sepenuhnya untuk menangkap peluang di sektor "perangkat AI fisik" (physical AI devices), termasuk robotika AI (AI Robot & Robotics) dan kacamata pintar (AI Glasses).
Realitas Pahit Angka 1,94 Persen
Keputusan Asus untuk meninggalkan gelanggang Android bukanlah langkah yang diambil tanpa perhitungan matematis yang dingin.Data pasar global menunjukkan bahwa meskipun memiliki basis penggemar fanatik—terutama di segmen gaming—pangsa pasar Asus tidak pernah benar-benar signifikan dalam skala makro.
Laporan dari Tech Advisor menyoroti bahwa Asus berjuang keras dengan pangsa pasar global yang stagnan di angka kurang dari 1,94 persen. Dalam ekosistem yang didominasi oleh duopoli Samsung dan Apple, serta gempuran agresif merek China seperti Xiaomi dan BBK Electronics, mempertahankan lini produksi dengan volume penjualan rendah menjadi beban operasional yang tidak berkelanjutan (unsustainable).
Tahun 2025 sendiri menjadi tahun yang "sepi" bagi divisi mobile Asus. Mereka hanya merilis dua model utama: Zenfone 12 Ultra yang berukuran besar namun dianggap kurang inovatif, serta ROG Phone 9 FE.
Kedua model ini bahkan tidak menyentuh pasar strategis seperti Amerika Serikat. Padahal, pada tahun 2023, Asus sempat menuai pujian kritis lewat Zenfone 10 yang mengisi kekosongan pasar ponsel mungil (compact flagship).
Di sisi lain, lini ROG Phone sejatinya telah menjadi standar emas (gold standard) bagi ponsel gaming premium. Inovasi seperti sistem pendingin aktif, tombol bahu ultrasonik, dan layar refresh rate tinggi adalah warisan teknologi yang sulit dicari tandingannya.
Namun, ceruk pasar gaming yang spesifik terbukti tidak cukup besar untuk menopang profitabilitas divisi mobile secara keseluruhan di tengah biaya komponen yang terus melambung.
Dari Layar Sentuh ke Otak Digital
Langkah Asus ini mencerminkan tren "paradigm shift" atau pergeseran paradigma yang sedang melanda industri teknologi global. Jonney Shih menyebut bahwa fokus perusahaan kini beralih untuk menyelaraskan diri dengan gelombang besar AI.Logika bisnisnya jelas: Asus memiliki fondasi yang jauh lebih kuat di industri PC dan komponen komputer.
Dengan mengalihkan fokus ke "Commercial PC" dan perangkat AI, Asus bermain di kandang sendiri di mana merek ROG (Republic of Gamers) masih memiliki ekuitas yang sangat kuat.
Mengintegrasikan AI ke dalam laptop, robot, dan perangkat wearable (seperti kacamata pintar) dipandang memiliki Return on Investment (ROI) yang jauh lebih menjanjikan dibandingkan bertarung di lautan merah pasar smartphone yang margin keuntungannya kian menipis.
Nasib Pengguna Setia
Bagi konsumen yang saat ini masih menggenggam seri Zenfone atau ROG Phone, Jonney Shih memberikan jaminan bahwa perusahaan tidak akan lepas tangan begitu saja. Asus berkomitmen untuk "terus merawat pengguna ponsel merek tersebut," yang kemungkinan besar merujuk pada dukungan pembaruan perangkat lunak (software updates) dan layanan purna jual untuk perangkat yang masih dalam masa garansi atau dukungan teknis.Namun, bagi para gamer dan penikmat teknologi, Januari 2026 akan dikenang sebagai momen di mana salah satu pemain paling eksperimental di dunia Android akhirnya memilih untuk log out dari permainan, meninggalkan warisan inovasi yang kini harus digantikan oleh robot dan algoritma.
(dan)
Lihat Juga :