Ilmuwan Temukan Jawaban Kenapa Manusia Tidak Punya Ekor
Jum'at, 09 Januari 2026 - 14:00 WIB
loading...
A
A
A
Salah satu mekanisme tersebut melibatkan elemen Alu, yaitu sekuens DNA berulang yang unik untuk primata, yang dapat memperkenalkan variabilitas dengan menyisipkan diri ke dalam genom.
Dalam penelitian terbaru, para peneliti mengidentifikasi dua elemen Alu dalam gen TBXT yang eksklusif untuk kera besar, dan tidak ada pada monyet. Menariknya, elemen-elemen ini berada di intron, bagian DNA yang mengapit ekson yang secara tradisional dianggap sebagai "materi gelap" yang tidak berfungsi.
Namun, ketika gen TBXT menghasilkan RNA, sifat repetitif dari sekuens Alu menyebabkan mereka berikatan bersama, sehingga mengakibatkan penghapusan seluruh ekson selama penyambungan RNA.
Eksperimen yang melibatkan pengenalan elemen Alu ini ke dalam tikus mengungkapkan hilangnya ekor, yang mencerminkan transisi evolusi yang diamati pada manusia dan kera. Yang penting, temuan ini mendukung hipotesis bahwa hilangnya ekor memfasilitasi evolusi bipedalisme pada manusia, sebuah adaptasi penting.
Selain itu, tikus dengan ekor yang terpotong menunjukkan insiden spina bifida yang lebih tinggi, yaitu cacat tabung saraf, yang menyoroti potensi konsekuensi yang tidak diinginkan dari defisiensi TBXT.
Dalam penelitian terbaru, para peneliti mengidentifikasi dua elemen Alu dalam gen TBXT yang eksklusif untuk kera besar, dan tidak ada pada monyet. Menariknya, elemen-elemen ini berada di intron, bagian DNA yang mengapit ekson yang secara tradisional dianggap sebagai "materi gelap" yang tidak berfungsi.
Namun, ketika gen TBXT menghasilkan RNA, sifat repetitif dari sekuens Alu menyebabkan mereka berikatan bersama, sehingga mengakibatkan penghapusan seluruh ekson selama penyambungan RNA.
Eksperimen yang melibatkan pengenalan elemen Alu ini ke dalam tikus mengungkapkan hilangnya ekor, yang mencerminkan transisi evolusi yang diamati pada manusia dan kera. Yang penting, temuan ini mendukung hipotesis bahwa hilangnya ekor memfasilitasi evolusi bipedalisme pada manusia, sebuah adaptasi penting.
Selain itu, tikus dengan ekor yang terpotong menunjukkan insiden spina bifida yang lebih tinggi, yaitu cacat tabung saraf, yang menyoroti potensi konsekuensi yang tidak diinginkan dari defisiensi TBXT.
Lihat Juga :