Elon Musk Terpana, Robot Humanoid China Kini Sudah Bisa Salto dan Menendang Manusia!
Jum'at, 02 Januari 2026 - 09:47 WIB
loading...
Enam robot humanoid buatan Unitree Robotics melakukan aksi akrobatik serempak di panggung konser Wang Leehom. Foto: ist
A
A
A
JAKARTA - Satu emoji "tertawa sambil menangis" dan satu kata singkat "Keren!" dari cuitan Elon Musk sudah cukup untuk mengguncang jagat teknologi global.
Bos Tesla itu tidak sedang mengomentari peluncuran roket terbarunya. Tapi, merespons evolusi robot humanoid buatan China yang kini tidak hanya bisa berjalan kaku. Melainkan mampu melakukan salto di panggung konser hingga melancarkan tendangan keras dalam uji coba pertarungan jarak dekat.
Fenomena ini menandai babak baru dalam persaingan robotika global. China, yang selama ini dikenal sebagai pabrik dunia, kini mulai memamerkan kematangan rekayasa "cerebellum" atau otak kecil robot—sistem yang mengatur keseimbangan dan motorik—yang bergerak jauh lebih cepat dari prediksi banyak pengamat.
Dari Panggung Konser ke Arena Tarung
Sorotan dunia bermula pada malam tanggal 18 Desember 2025 di Chengdu, Provinsi Sichuan. Dalam konser penyanyi Wang Leehom, enam robot humanoid naik ke panggung.
Di tengah gemuruh 100.000 penonton, asap, dan tata cahaya ekstrem, keenam robot tersebut melakukan salto Webster flips secara serempak dengan presisi tingkat milidetik. Ini adalah demonstrasi stabilitas sistem kontrol terdistribusi yang didukung jaringan 5G dan edge computing.
Video konser tersebut viral hingga memancing Musk untuk berkomentar "Keren!". Namun, kejutan tidak berhenti di situ. Pada hari Sabtu (27/12/2025), kepala insinyur Tesla Cybertruck mengunggah ulang video dari Unitree Robotics, perusahaan asal China, yang memperlihatkan robot tipe Unitree G1 melakukan uji coba gerakan tempur.
Dalam video tersebut, robot G1 meniru gerakan insinyur manusia dengan akurasi menakutkan, hingga di detik terakhir, robot tersebut melayangkan tendangan ke arah mitra manusianya.
Respons Musk dengan emoji tertawa menyiratkan pengakuan bahwa pesaing dari Timur ini tidak main-main.
Spesifikasi "Monster" Kecil
Di balik aksi akrobatik tersebut, ada spesifikasi teknis mumpuni. Perwakilan Unitree Robotics menjelaskan bahwa robot G1 yang tampil di panggung memiliki tinggi sekitar 1,32 meter dengan bobot yang sangat ringan, hanya 35 kilogram.
Meski bertubuh mungil, G1 adalah mesin yang padat tenaga. Dilengkapi 23 hingga 43 motor sendi (joint motors), robot ini mampu menghasilkan torsi sendi maksimum hingga 120 Newton-meter (Nm).
Kekuatan inilah yang memungkinkannya menopang gerakan kompleks berkesulitan tinggi seperti salto dan tendangan cepat.
Sistem kontrol geraknya telah mencapai versi 6.0 pada Oktober 2025, lompatan signifikan dari kompetisi World's Humanoid Robot Games (WHRG) di Beijing beberapa bulan sebelumnya, di mana banyak robot masih kesulitan sekadar berlari 400 meter tanpa terjatuh.
Kini, berkat integrasi sistem persepsi multimodal—yang menggabungkan visi komputer, sensor inersia, dan umpan balik gaya—robot-robot ini mampu menjaga keseimbangan di lingkungan yang tidak terstruktur.
Industri China telah berhasil membuat tubuh robot yang lincah (motorik kasar dan halus), namun tantangan berikutnya adalah "otak" atau kecerdasan buatan (AI) yang mampu merencanakan tugas secara mandiri.
"Intinya adalah robot menjadi lebih mirip manusia dalam hal kelincahan. Ini menunjukkan bahwa sistem yang mengatur kontrol gerakan semakin canggih," ujar Li kepada Global Times.
Potensi ekonominya pun tak main-main. China Electronics Society memprediksi pasar robot humanoid China akan menembus angka 870 miliar Yuan atau Rp1.914 triliun pada 2030.
Bahkan, laporan dari Pusat Penelitian Pembangunan Dewan Negara China memperkirakan pasar embodied intelligence (kecerdasan yang berwujud fisik) bisa melampaui 400 miliar Yuan (Rp 880 triliun) pada 2030 dan meledak hingga lebih dari 1 triliun Yuan (Rp 2.200 triliun) pada 2035.
CEO Unitree, Wang Xingxing, optimistis bahwa momen "ChatGPT" untuk fisik robot—di mana robot benar-benar berguna untuk pekerjaan nyata—akan tiba dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Di sisi lain, perusahaan seperti EngineAI juga memamerkan robot T80 mereka yang mampu melakukan kombinasi pukulan tinju luwes dan menendang pintu kayu hingga jebol.
Dalam sebuah tes ekstrem, CEO EngineAI, Zhao Tongyang, bahkan rela ditendang oleh robotnya sendiri hingga terpental jatuh, membuktikan kekuatan riil dari mesin seberat orang dewasa tersebut.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah robot bisa bergerak seperti manusia, melainkan seberapa cepat "otak" AI mampu mengejar ketertinggalan dari "otak kecil" motorik yang sudah sangat canggih ini.
Bos Tesla itu tidak sedang mengomentari peluncuran roket terbarunya. Tapi, merespons evolusi robot humanoid buatan China yang kini tidak hanya bisa berjalan kaku. Melainkan mampu melakukan salto di panggung konser hingga melancarkan tendangan keras dalam uji coba pertarungan jarak dekat.
Fenomena ini menandai babak baru dalam persaingan robotika global. China, yang selama ini dikenal sebagai pabrik dunia, kini mulai memamerkan kematangan rekayasa "cerebellum" atau otak kecil robot—sistem yang mengatur keseimbangan dan motorik—yang bergerak jauh lebih cepat dari prediksi banyak pengamat.
Dari Panggung Konser ke Arena Tarung
![Elon Musk Terpana, Robot Humanoid China Kini Sudah Bisa Salto dan Menendang Manusia!]()
Sorotan dunia bermula pada malam tanggal 18 Desember 2025 di Chengdu, Provinsi Sichuan. Dalam konser penyanyi Wang Leehom, enam robot humanoid naik ke panggung.
Di tengah gemuruh 100.000 penonton, asap, dan tata cahaya ekstrem, keenam robot tersebut melakukan salto Webster flips secara serempak dengan presisi tingkat milidetik. Ini adalah demonstrasi stabilitas sistem kontrol terdistribusi yang didukung jaringan 5G dan edge computing.
Video konser tersebut viral hingga memancing Musk untuk berkomentar "Keren!". Namun, kejutan tidak berhenti di situ. Pada hari Sabtu (27/12/2025), kepala insinyur Tesla Cybertruck mengunggah ulang video dari Unitree Robotics, perusahaan asal China, yang memperlihatkan robot tipe Unitree G1 melakukan uji coba gerakan tempur.
Dalam video tersebut, robot G1 meniru gerakan insinyur manusia dengan akurasi menakutkan, hingga di detik terakhir, robot tersebut melayangkan tendangan ke arah mitra manusianya.
Respons Musk dengan emoji tertawa menyiratkan pengakuan bahwa pesaing dari Timur ini tidak main-main.
Spesifikasi "Monster" Kecil
![Elon Musk Terpana, Robot Humanoid China Kini Sudah Bisa Salto dan Menendang Manusia!]()
Di balik aksi akrobatik tersebut, ada spesifikasi teknis mumpuni. Perwakilan Unitree Robotics menjelaskan bahwa robot G1 yang tampil di panggung memiliki tinggi sekitar 1,32 meter dengan bobot yang sangat ringan, hanya 35 kilogram.
Meski bertubuh mungil, G1 adalah mesin yang padat tenaga. Dilengkapi 23 hingga 43 motor sendi (joint motors), robot ini mampu menghasilkan torsi sendi maksimum hingga 120 Newton-meter (Nm).
Kekuatan inilah yang memungkinkannya menopang gerakan kompleks berkesulitan tinggi seperti salto dan tendangan cepat.
Sistem kontrol geraknya telah mencapai versi 6.0 pada Oktober 2025, lompatan signifikan dari kompetisi World's Humanoid Robot Games (WHRG) di Beijing beberapa bulan sebelumnya, di mana banyak robot masih kesulitan sekadar berlari 400 meter tanpa terjatuh.
Kini, berkat integrasi sistem persepsi multimodal—yang menggabungkan visi komputer, sensor inersia, dan umpan balik gaya—robot-robot ini mampu menjaga keseimbangan di lingkungan yang tidak terstruktur.
Menanti Otak yang Sempurna
Li Qingdu, Dekan Eksekutif Institut Kecerdasan Mesin di Universitas Shanghai untuk Sains dan Teknologi, menyebut fenomena ini sebagai kematangan "rekayasa cerebellum".Industri China telah berhasil membuat tubuh robot yang lincah (motorik kasar dan halus), namun tantangan berikutnya adalah "otak" atau kecerdasan buatan (AI) yang mampu merencanakan tugas secara mandiri.
"Intinya adalah robot menjadi lebih mirip manusia dalam hal kelincahan. Ini menunjukkan bahwa sistem yang mengatur kontrol gerakan semakin canggih," ujar Li kepada Global Times.
Potensi ekonominya pun tak main-main. China Electronics Society memprediksi pasar robot humanoid China akan menembus angka 870 miliar Yuan atau Rp1.914 triliun pada 2030.
Bahkan, laporan dari Pusat Penelitian Pembangunan Dewan Negara China memperkirakan pasar embodied intelligence (kecerdasan yang berwujud fisik) bisa melampaui 400 miliar Yuan (Rp 880 triliun) pada 2030 dan meledak hingga lebih dari 1 triliun Yuan (Rp 2.200 triliun) pada 2035.
CEO Unitree, Wang Xingxing, optimistis bahwa momen "ChatGPT" untuk fisik robot—di mana robot benar-benar berguna untuk pekerjaan nyata—akan tiba dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Di sisi lain, perusahaan seperti EngineAI juga memamerkan robot T80 mereka yang mampu melakukan kombinasi pukulan tinju luwes dan menendang pintu kayu hingga jebol.
Dalam sebuah tes ekstrem, CEO EngineAI, Zhao Tongyang, bahkan rela ditendang oleh robotnya sendiri hingga terpental jatuh, membuktikan kekuatan riil dari mesin seberat orang dewasa tersebut.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah robot bisa bergerak seperti manusia, melainkan seberapa cepat "otak" AI mampu mengejar ketertinggalan dari "otak kecil" motorik yang sudah sangat canggih ini.
(dan)
Lihat Juga :