Inilah Manus, Startup AI Singapura Pesaing OpenAI yang Dicaplok Meta Senilai Rp32 Triliun
Jum'at, 02 Januari 2026 - 09:42 WIB
loading...
Mark Zuckerberg kembali melakukan ekspansi agresif dengan mengakuisisi Manus senilai Rp32 triliun, mengintegrasikan teknologi agen AI canggih tersebut ke dalam ekosistem aplikasi Meta. Foto: SCMP
A
A
A
SINGAPURA - Mark Zuckerberg merasa Meta selalu ketinggalan di kecerdasan buatan dibandingkan Open AI ataupun Google. Karena itu, di penghujung 2025, Zuckerberg melakukan manuver tajam.
Induk perusahaan Facebook dan Instagram, Meta Platforms, resmi mencaplok startup AI yang tengah naik daun, Manus, dengan nilai kesepakatan fantastis mencapai USD2 miliar atau Rp32 triliun.
Langkah ini bukan sekadar aksi korporasi biasa, melainkan deklarasi perang terbuka terhadap dominasi OpenAI sekaligus upaya pembuktian kepada investor yang mulai gelisah.
Kesepakatan ini terjadi di momen krusial. Zuckerberg, yang telah mempertaruhkan masa depan Meta pada teknologi AI, melihat Manus sebagai permata langka: produk kecerdasan buatan yang tidak hanya pintar, tetapi juga terbukti mampu mencetak uang.
Di tengah industri teknologi yang sibuk berutang demi membangun pusat data (data center), Manus hadir dengan portofolio keuangan yang sehat.
Pada pertengahan Desember 2025, Manus melaporkan pencapaian yang mencengangkan: mereka telah memiliki jutaan pengguna dan mencatatkan Pendapatan Berulang Tahunan (Annual Recurring Revenue/ARR) lebih dari USD100 juta (Rp 1,6 triliun) dari pelanggan layanan keanggotaan bulanan dan tahunan.
Angka inilah yang membuat Meta rela membayar valuasi USD2 miliar, sesuai angka yang tadinya dikejar Manus untuk putaran pendanaan mereka berikutnya.
"Agen" Cerdas yang Melampaui Chatbot
Apa yang membuat Manus begitu istimewa hingga dihargai semahal itu? Sejak debutnya musim semi lalu, Manus bukan sekadar chatbot pasif. Mereka memposisikan diri sebagai "agen AI" yang mampu melakukan eksekusi tugas nyata.
Dalam video demo yang sempat viral, Manus memamerkan kemampuannya menyeleksi kandidat pelamar kerja, merancang rencana liburan yang kompleks, hingga menganalisis portofolio saham dengan kedalaman logika yang mumpuni.
Pihak Manus bahkan berani mengklaim bahwa teknologi mereka telah mengungguli kemampuan Deep Research milik OpenAI, pemimpin pasar saat ini.
Kepercayaan pasar terhadap Manus sudah terlihat sejak April 2025. Hanya beberapa minggu setelah peluncuran, firma modal ventura bergengsi Benchmark memimpin putaran pendanaan senilai USD75 juta (Rp 1,2 triliun), yang langsung melambungkan valuasi startup tersebut menjadi USD500 juta (Rp8 triliun).
Chetan Puttagunta, mitra umum Benchmark, bahkan langsung bergabung dalam dewan direksi.
Sebelum itu, media China mencatat bahwa sejumlah investor kelas kakap telah lebih dulu masuk, termasuk Tencent, ZhenFund, dan HSG (sebelumnya dikenal sebagai Sequoia China) melalui putaran pendanaan awal sebesar USD10 juta (Rp160 miliar).
Jejak asal-usul ini sempat memicu kritik tajam di Washington. Senator Partai Republik dari Texas, John Cornyn, yang juga anggota senior Komite Intelijen Senat, pada Mei lalu sempat menyerang Benchmark karena mengalirkan modal Amerika ke entitas yang berafiliasi dengan China. Sikap keras terhadap China kini menjadi salah satu dari sedikit isu bipartisan yang disepakati oleh Kongres AS.
Menyadari sensitivitas ini, Meta bergerak cepat melakukan "sterilisasi". Kepada Nikkei Asia, juru bicara Meta
menegaskan bahwa pasca-transaksi, Manus tidak akan lagi memiliki hubungan kepemilikan dengan investor China.
"Tidak akan ada kepentingan kepemilikan China yang berkelanjutan di Manus AI setelah transaksi, dan Manus AI akan menghentikan layanan serta operasinya di China," tegas perwakilan Meta.
Nantinya, Meta berencana membiarkan Manus beroperasi secara independen, namun teknologi agen cerdasnya akan ditenun secara mendalam ke dalam ekosistem Facebook, Instagram, dan WhatsApp, melengkapi fitur Meta AI yang sudah ada. Ini adalah pertaruhan Rp32 triliun Zuckerberg untuk memastikan Meta tidak hanya menjadi penonton dalam revolusi agen kecerdasan buatan.
Induk perusahaan Facebook dan Instagram, Meta Platforms, resmi mencaplok startup AI yang tengah naik daun, Manus, dengan nilai kesepakatan fantastis mencapai USD2 miliar atau Rp32 triliun.
Langkah ini bukan sekadar aksi korporasi biasa, melainkan deklarasi perang terbuka terhadap dominasi OpenAI sekaligus upaya pembuktian kepada investor yang mulai gelisah.
Kesepakatan ini terjadi di momen krusial. Zuckerberg, yang telah mempertaruhkan masa depan Meta pada teknologi AI, melihat Manus sebagai permata langka: produk kecerdasan buatan yang tidak hanya pintar, tetapi juga terbukti mampu mencetak uang.
Anomali di Tengah Bakar Uang
Langkah Meta mengakuisisi Manus—startup berbasis di Singapura—adalah respons strategis terhadap tekanan pasar. Investor belakangan ini kian "gugup" melihat belanja infrastruktur Meta yang ugal-ugalan hingga mencapai USD60 miliar (Rp 960 triliun).Di tengah industri teknologi yang sibuk berutang demi membangun pusat data (data center), Manus hadir dengan portofolio keuangan yang sehat.
Pada pertengahan Desember 2025, Manus melaporkan pencapaian yang mencengangkan: mereka telah memiliki jutaan pengguna dan mencatatkan Pendapatan Berulang Tahunan (Annual Recurring Revenue/ARR) lebih dari USD100 juta (Rp 1,6 triliun) dari pelanggan layanan keanggotaan bulanan dan tahunan.
Angka inilah yang membuat Meta rela membayar valuasi USD2 miliar, sesuai angka yang tadinya dikejar Manus untuk putaran pendanaan mereka berikutnya.
"Agen" Cerdas yang Melampaui Chatbot
![Inilah Manus, Startup AI Singapura Pesaing OpenAI yang Dicaplok Meta Senilai Rp32 Triliun]()
Apa yang membuat Manus begitu istimewa hingga dihargai semahal itu? Sejak debutnya musim semi lalu, Manus bukan sekadar chatbot pasif. Mereka memposisikan diri sebagai "agen AI" yang mampu melakukan eksekusi tugas nyata.
Dalam video demo yang sempat viral, Manus memamerkan kemampuannya menyeleksi kandidat pelamar kerja, merancang rencana liburan yang kompleks, hingga menganalisis portofolio saham dengan kedalaman logika yang mumpuni.
Pihak Manus bahkan berani mengklaim bahwa teknologi mereka telah mengungguli kemampuan Deep Research milik OpenAI, pemimpin pasar saat ini.
Kepercayaan pasar terhadap Manus sudah terlihat sejak April 2025. Hanya beberapa minggu setelah peluncuran, firma modal ventura bergengsi Benchmark memimpin putaran pendanaan senilai USD75 juta (Rp 1,2 triliun), yang langsung melambungkan valuasi startup tersebut menjadi USD500 juta (Rp8 triliun).
Chetan Puttagunta, mitra umum Benchmark, bahkan langsung bergabung dalam dewan direksi.
Sebelum itu, media China mencatat bahwa sejumlah investor kelas kakap telah lebih dulu masuk, termasuk Tencent, ZhenFund, dan HSG (sebelumnya dikenal sebagai Sequoia China) melalui putaran pendanaan awal sebesar USD10 juta (Rp160 miliar).
Membersihkan Jejak Geopolitik
Namun, akuisisi ini bukan tanpa risiko politik. Zuckerberg harus menavigasi ladang ranjau hubungan Amerika Serikat-China. Pendiri Manus diketahui mendirikan perusahaan induknya, Butterfly Effect, di Beijing pada 2022, sebelum akhirnya memindahkan markas ke Singapura pada pertengahan tahun ini.Jejak asal-usul ini sempat memicu kritik tajam di Washington. Senator Partai Republik dari Texas, John Cornyn, yang juga anggota senior Komite Intelijen Senat, pada Mei lalu sempat menyerang Benchmark karena mengalirkan modal Amerika ke entitas yang berafiliasi dengan China. Sikap keras terhadap China kini menjadi salah satu dari sedikit isu bipartisan yang disepakati oleh Kongres AS.
Menyadari sensitivitas ini, Meta bergerak cepat melakukan "sterilisasi". Kepada Nikkei Asia, juru bicara Meta
menegaskan bahwa pasca-transaksi, Manus tidak akan lagi memiliki hubungan kepemilikan dengan investor China.
"Tidak akan ada kepentingan kepemilikan China yang berkelanjutan di Manus AI setelah transaksi, dan Manus AI akan menghentikan layanan serta operasinya di China," tegas perwakilan Meta.
Nantinya, Meta berencana membiarkan Manus beroperasi secara independen, namun teknologi agen cerdasnya akan ditenun secara mendalam ke dalam ekosistem Facebook, Instagram, dan WhatsApp, melengkapi fitur Meta AI yang sudah ada. Ini adalah pertaruhan Rp32 triliun Zuckerberg untuk memastikan Meta tidak hanya menjadi penonton dalam revolusi agen kecerdasan buatan.
(dan)
Lihat Juga :