Prediksi IDC 2026: Pasar PC Dunia Terancam Minus 8,9 Persen Akibat Krisis Memori, Harga Laptop dan HP Naik!
Rabu, 31 Desember 2025 - 11:44 WIB
loading...
Laporan terbaru IDC prediksi harga laptop dan smartphone bakal naik hingga 8% di 2026 akibat kelangkaan chip memori yang tersedot untuk infrastruktur AI. Foto: ist
A
A
A
JAKARTA - Ironi besar sedang membayangi industri teknologi global di ambang pergantian tahun. Di satu sisi, kecerdasan buatan (AI) digadang-gadang sebagai dewa penyelamat yang akan membangkitkan kembali gairah pasar komputer pribadi (PC) dari kelesuan pascapandemi.
Namun, di sisi lain, nafsu rakus infrastruktur AI terhadap komponen memori justru berbalik menjadi senjata makan tuan yang mengancam mencekik pertumbuhan industri PC itu sendiri.
Lembaga riset International Data Corporation (IDC) memprediksi bahwa dalam skenario terburuk, pengiriman PC global bisa menyusut drastis hingga 8,9 persen pada 2026.
Penyebab utamanya bukan karena turunnya minat konsumen, melainkan lonjakan biaya komponen memori (RAM) yang tak terbendung.
"Alih-alih memperluas produksi DRAM dan NAND konvensional yang biasa digunakan di smartphone, PC, dan elektronik konsumen lainnya, produsen memori utama telah mengalihkan fokus produksi mereka ke memori khusus untuk pusat data AI," tulis IDC dalam laporannya.
Jenis memori yang kini menjadi primadona adalah High-Bandwidth Memory (HBM) dan DDR5 berkapasitas tinggi. Keduanya adalah komponen vital bagi server-server raksasa yang menjalankan model bahasa besar (LLM) seperti GPT.
Akibatnya, suplai RAM konvensional untuk laptop dan ponsel menjadi langka, memicu kenaikan harga bahan baku yang signifikan bagi para perakit komputer.
Logika pasar pun bekerja kejam. Produsen PC, demi menjaga margin keuntungan agar tetap bisa "bernapas", terpaksa membebankan kenaikan biaya ini kepada konsumen akhir.
Contoh nyata sudah terlihat di lapangan. Pembuat PC modular, Framework, secara terbuka telah menaikkan harga beberapa model laptop dan suku cadang mereka.
Mereka bahkan memberikan peringatan dini bahwa "kenaikan biaya dan harga lebih lanjut sangat mungkin terjadi dalam beberapa bulan ke depan."
Dalam skenario pesimistis IDC, harga jual rata-rata PC diprediksi bisa melonjak 6 hingga 8 persen pada tahun 2026. Kenaikan harga di tengah daya beli yang belum pulih sepenuhnya tentu akan menekan volume penjualan.
Namun, celakanya, komputer jenis ini justru membutuhkan kapasitas RAM yang jauh lebih besar dibanding komputer standar.
Kebutuhan spesifikasi tinggi ini membuat mereka jauh lebih rentan terhadap fluktuasi harga memori. Alih-alih menjadi penyelamat, AI PC kini justru terjebak dalam pusaran masalah yang diciptakan oleh industri AI itu sendiri.
Dampak krisis ini tidak berhenti di meja kerja. Saku celana konsumen pun terancam. IDC memproyeksikan bahwa harga jual rata-rata smartphone juga bisa terkerek naik 6 hingga 8 persen dalam skenario terburuk, dengan volume pengiriman ponsel pintar berpotensi menyusut hingga 5,2 persen.
Menurut IDC, kedua raksasa ini memiliki perjanjian pasokan jangka panjang dan cadangan kas yang cukup untuk menyerap kenaikan harga komponen memori tersebut selama satu atau dua tahun ke depan, menjaga stabilitas harga produk mereka.
Namun, bagi pemain lain di luar lingkaran elit tersebut, masa depan jangka pendek terlihat suram dan mahal.
Namun, di sisi lain, nafsu rakus infrastruktur AI terhadap komponen memori justru berbalik menjadi senjata makan tuan yang mengancam mencekik pertumbuhan industri PC itu sendiri.
Lembaga riset International Data Corporation (IDC) memprediksi bahwa dalam skenario terburuk, pengiriman PC global bisa menyusut drastis hingga 8,9 persen pada 2026.
Penyebab utamanya bukan karena turunnya minat konsumen, melainkan lonjakan biaya komponen memori (RAM) yang tak terbendung.
Pergeseran Prioritas Raksasa Memori
Akar masalah ini terletak pada hukum penawaran dan permintaan di tingkat manufaktur hulu. IDC mencatat adanya pergeseran strategis yang masif dari para pembuat memori utama dunia."Alih-alih memperluas produksi DRAM dan NAND konvensional yang biasa digunakan di smartphone, PC, dan elektronik konsumen lainnya, produsen memori utama telah mengalihkan fokus produksi mereka ke memori khusus untuk pusat data AI," tulis IDC dalam laporannya.
Jenis memori yang kini menjadi primadona adalah High-Bandwidth Memory (HBM) dan DDR5 berkapasitas tinggi. Keduanya adalah komponen vital bagi server-server raksasa yang menjalankan model bahasa besar (LLM) seperti GPT.
Akibatnya, suplai RAM konvensional untuk laptop dan ponsel menjadi langka, memicu kenaikan harga bahan baku yang signifikan bagi para perakit komputer.
Logika pasar pun bekerja kejam. Produsen PC, demi menjaga margin keuntungan agar tetap bisa "bernapas", terpaksa membebankan kenaikan biaya ini kepada konsumen akhir.
Contoh nyata sudah terlihat di lapangan. Pembuat PC modular, Framework, secara terbuka telah menaikkan harga beberapa model laptop dan suku cadang mereka.
Mereka bahkan memberikan peringatan dini bahwa "kenaikan biaya dan harga lebih lanjut sangat mungkin terjadi dalam beberapa bulan ke depan."
Dalam skenario pesimistis IDC, harga jual rata-rata PC diprediksi bisa melonjak 6 hingga 8 persen pada tahun 2026. Kenaikan harga di tengah daya beli yang belum pulih sepenuhnya tentu akan menekan volume penjualan.
Paradoks "AI PC" dan Dampak ke Smartphone
Situasi ini menciptakan paradoks yang pahit. Industri sebelumnya berharap banyak pada kategori produk baru bernama "AI PC"—komputer yang dilengkapi Neural Processing Unit (NPU) untuk menjalankan AI secara lokal. Produk ini diharapkan menjadi game changer yang menarik minat pembeli.Namun, celakanya, komputer jenis ini justru membutuhkan kapasitas RAM yang jauh lebih besar dibanding komputer standar.
Kebutuhan spesifikasi tinggi ini membuat mereka jauh lebih rentan terhadap fluktuasi harga memori. Alih-alih menjadi penyelamat, AI PC kini justru terjebak dalam pusaran masalah yang diciptakan oleh industri AI itu sendiri.
Dampak krisis ini tidak berhenti di meja kerja. Saku celana konsumen pun terancam. IDC memproyeksikan bahwa harga jual rata-rata smartphone juga bisa terkerek naik 6 hingga 8 persen dalam skenario terburuk, dengan volume pengiriman ponsel pintar berpotensi menyusut hingga 5,2 persen.
Siapa yang Bertahan?
Di tengah badai ini, ketimpangan kekuatan antar-pemain industri semakin kentara. Perusahaan raksasa dengan kantong tebal dan manajemen rantai pasok yang superior seperti Apple dan Samsung diprediksi masih bisa bertahan.Menurut IDC, kedua raksasa ini memiliki perjanjian pasokan jangka panjang dan cadangan kas yang cukup untuk menyerap kenaikan harga komponen memori tersebut selama satu atau dua tahun ke depan, menjaga stabilitas harga produk mereka.
Namun, bagi pemain lain di luar lingkaran elit tersebut, masa depan jangka pendek terlihat suram dan mahal.
(dan)
Lihat Juga :