Dari Jakarta hingga Silicon Valley: Lima Tren Teknologi 2026 yang Akan Mengubah Cara Kita Hidup dan Bekerja
Rabu, 31 Desember 2025 - 12:06 WIB
loading...
A
A
A
Di Timur Tengah, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) berusaha mendiversifikasi ekonomi dari minyak dengan menyepakati kesepakatan AI senilai USD600 miliar (Rp9.600 triliun) dengan AS.
Namun, ada pelajaran pahit dari China. Negara tersebut menghabiskan tahun 2023 dan 2024 untuk membangun armada pusat data baru, dengan 150 fasilitas selesai pada 2024. Kini, laporan dari MIT Technology Review menyebutkan bahwa hingga 80 persen kapasitas komputasi baru tersebut menganggur tanpa pembeli.
Dari kubu AS, Waymo milik Google—setelah investasi miliaran dolar selama 15 tahun—kini sangat terlihat di Los Angeles dan akan merambah Washington DC, New York City, hingga London tahun depan.
Di sisi lain, pemain China bergerak agresif. Taksi robot Apollo Go milik Baidu telah beroperasi di Dubai dan Abu Dhabi. WeRide telah mendarat di Singapura dan UEA. Di Eropa, mobil otonom besutan Momenta yang dikerahkan Uber dijadwalkan mulai beroperasi di Jerman pada 2026. Masyarakat dunia harus bersiap berbagi jalan raya dengan algoritma.
Tren ini tak menunjukkan tanda melambat, didorong oleh dua penawaran saham perdana (IPO) raksasa yang membayangi: OpenAI dan SpaceX.
Valuasi OpenAI diperkirakan mencapai USD830 miliar (Rp13.280 triliun), sementara SpaceX di angka USD800 miliar (Rp12.800 triliun). Kedua angka ini berpotensi meroket hingga menembus USD1 triliun (Rp16.000 triliun).
Bagi Elon Musk, IPO SpaceX akan menambahkan puluhan miliar dolar ke kekayaannya yang saat ini sudah mencapai USD600 miliar (Rp9.600 triliun). Belum lagi paket gaji dari Tesla senilai USD56 miliar (Rp896 triliun) dan potensi paket lain senilai USD1 triliun (Rp16.000 triliun) yang disetujui pemegang saham.
Namun, ada pelajaran pahit dari China. Negara tersebut menghabiskan tahun 2023 dan 2024 untuk membangun armada pusat data baru, dengan 150 fasilitas selesai pada 2024. Kini, laporan dari MIT Technology Review menyebutkan bahwa hingga 80 persen kapasitas komputasi baru tersebut menganggur tanpa pembeli.
2. Invasi Global Mobil Otonom
Tahun 2026 juga menandai era di mana mobil tanpa pengemudi (self-driving cars) bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan pemandangan sehari-hari di berbagai metropolis dunia. Kompetisi ini ibarat tarian burung jantan yang memperebutkan pasangan; sebuah pertunjukan kekuatan antara raksasa AS dan China.Dari kubu AS, Waymo milik Google—setelah investasi miliaran dolar selama 15 tahun—kini sangat terlihat di Los Angeles dan akan merambah Washington DC, New York City, hingga London tahun depan.
Di sisi lain, pemain China bergerak agresif. Taksi robot Apollo Go milik Baidu telah beroperasi di Dubai dan Abu Dhabi. WeRide telah mendarat di Singapura dan UEA. Di Eropa, mobil otonom besutan Momenta yang dikerahkan Uber dijadwalkan mulai beroperasi di Jerman pada 2026. Masyarakat dunia harus bersiap berbagi jalan raya dengan algoritma.
3. Miliarder yang Semakin Kaya Raya
Secara finansial, 2026 diprediksi akan menjadi tahun pesta pora bagi para taipan teknologi. Sepuluh eksekutif teknologi terkaya telah menambahkan USD550 miliar (Rp8.800 triliun) ke dalam pundi-pundi kekayaan mereka sepanjang 2025.Tren ini tak menunjukkan tanda melambat, didorong oleh dua penawaran saham perdana (IPO) raksasa yang membayangi: OpenAI dan SpaceX.
Valuasi OpenAI diperkirakan mencapai USD830 miliar (Rp13.280 triliun), sementara SpaceX di angka USD800 miliar (Rp12.800 triliun). Kedua angka ini berpotensi meroket hingga menembus USD1 triliun (Rp16.000 triliun).
Bagi Elon Musk, IPO SpaceX akan menambahkan puluhan miliar dolar ke kekayaannya yang saat ini sudah mencapai USD600 miliar (Rp9.600 triliun). Belum lagi paket gaji dari Tesla senilai USD56 miliar (Rp896 triliun) dan potensi paket lain senilai USD1 triliun (Rp16.000 triliun) yang disetujui pemegang saham.
Lihat Juga :