Dari Jakarta hingga Silicon Valley: Lima Tren Teknologi 2026 yang Akan Mengubah Cara Kita Hidup dan Bekerja
Rabu, 31 Desember 2025 - 12:06 WIB
loading...
A
A
A
Namun, tidak semua berjalan mulus. Larry Ellison dari Oracle sempat merasakan pahitnya koreksi pasar. Ketakutan investor akan gelembung (bubble) AI memangkas kapitalisasi pasar Oracle sebesar USD80 miliar (Rp1.280 triliun), membuktikan bahwa sentimen pasar bisa berbalik secepat kilat.
Meskipun teknologi ini belum siap untuk "jam tayang utama", perusahaan menahan diri untuk merekrut pegawai baru, menunggu potensi AI yang dijanjikan.
Hollywood beralih ke AI untuk produksi murah di tengah krisis keuangan. Profesi hukum masih meraba-raba, di mana chatbot kadang mengutip kasus fiktif meski berguna untuk meringkas dokumen tebal. Tahun depan mungkin akan menjadi momen pembuktian di mana AI generatif menemukan ceruk kegunaan yang benar-benar nyata, bukan sekadar hype.
Apple dirumorkan akan merilis ponsel lipat pertamanya, sebuah langkah yang dinanti pasar yang terkurung dalam ekosistem iOS. Di sisi lain, perburuan perangkat fisik untuk mewadahi kecerdasan ChatGPT terus berlanjut. OpenAI telah menginvestasikan USD6,5 miliar (Rp104 triliun) pada startup milik arsitek iPhone, Jony Ive, yang diharapkan meluncurkan produk perdananya tahun depan.
Kacamata pintar (smart glasses) diprediksi akan semakin menjamur, dipimpin oleh Meta. Bahkan, AI akan menyusup ke tempat-tempat yang mungkin tidak Anda inginkan, seperti selimut pintar di hotel atau kulkas rumah tangga, melanjutkan tren yang sudah dimulai Samsung sejak 2024. Teknologi di 2026 akan semakin intim, aneh, dan tak terelakkan.
4. Transformasi Semu Dunia Kerja
AI telah mengubah produktivitas di ceruk tertentu, seperti pemrograman, namun belum sepenuhnya menggantikan tenaga kerja manusia secara massal. Sebuah studi MIT menemukan fakta mengejutkan: 95 persen program percontohan AI di perusahaan gagal memberikan pengembalian investasi (ROI).Meskipun teknologi ini belum siap untuk "jam tayang utama", perusahaan menahan diri untuk merekrut pegawai baru, menunggu potensi AI yang dijanjikan.
Hollywood beralih ke AI untuk produksi murah di tengah krisis keuangan. Profesi hukum masih meraba-raba, di mana chatbot kadang mengutip kasus fiktif meski berguna untuk meringkas dokumen tebal. Tahun depan mungkin akan menjadi momen pembuktian di mana AI generatif menemukan ceruk kegunaan yang benar-benar nyata, bukan sekadar hype.
5. Evolusi Gawai Konsumen yang Semakin "Aneh"
Terakhir, bentuk fisik teknologi konsumen akan mengalami metamorfosis. Setelah bertahun-tahun terpaku pada bentuk persegi panjang hitam, 2026 akan mempercepat tren perangkat lipat (foldable) dan perangkat keras khusus AI.Apple dirumorkan akan merilis ponsel lipat pertamanya, sebuah langkah yang dinanti pasar yang terkurung dalam ekosistem iOS. Di sisi lain, perburuan perangkat fisik untuk mewadahi kecerdasan ChatGPT terus berlanjut. OpenAI telah menginvestasikan USD6,5 miliar (Rp104 triliun) pada startup milik arsitek iPhone, Jony Ive, yang diharapkan meluncurkan produk perdananya tahun depan.
Kacamata pintar (smart glasses) diprediksi akan semakin menjamur, dipimpin oleh Meta. Bahkan, AI akan menyusup ke tempat-tempat yang mungkin tidak Anda inginkan, seperti selimut pintar di hotel atau kulkas rumah tangga, melanjutkan tren yang sudah dimulai Samsung sejak 2024. Teknologi di 2026 akan semakin intim, aneh, dan tak terelakkan.
(dan)
Lihat Juga :