Pasar Kripto di Akhir 2025: Bitcoin Layu di Rp 1,46 Miliar, Token Kecil Melesat hingga 69 Persen
Selasa, 30 Desember 2025 - 14:02 WIB
loading...
Menutup tahun 2025, Bitcoin terkoreksi ke level Rp 1,46 miliar memicu arus keluar dana institusi hingga Rp 13,1 triliun. Foto: ist
A
A
A
JAKARTA - Pasar aset kripto menutup lembaran tahun 2025 dengan nada minor yang mencemaskan sekaligus anomali yang menarik bagi para spekulan.
Di tengah ekspektasi reli akhir tahun yang biasanya meriah, "Raja Kripto" Bitcoin justru tersandung momentum, memicu gelombang risk-off (penghindaran risiko) di kalangan investor institusi, sementara aset-aset alternatif (altcoin) justru menunjukkan denyut nadi yang berbeda.
Laporan pasar terbaru yang dirilis Ajaib Kripto pada Selasa (30/12/2025) pukul 08.00 WIB pagi ini merekam detak pasar yang melambat.
Financial Expert Ajaib, Panji Yudha, menyoroti bahwa dalam rentang waktu 24 jam terakhir, Bitcoin (BTC) tergerus 1,20 persen. Aset digital terbesar ini diperdagangkan di level USD87.225 atau setara Rp1.461.566.143, setelah gagal mempertahankan posisi tertingginya di USD90.406 (Rp1,51 miliar).
Penurunan ini bukan sekadar koreksi harian, melainkan cerminan dari kinerja tahunan yang menantang.
Secara Year-to-Date (YTD) atau sejak 1 Januari hingga 30 Desember 2025, Bitcoin mencatatkan rapor merah dengan kinerja negatif sebesar minus 6,90 persen.
Dominasi pasar Bitcoin (BTC.D) kini tertahan di level 59,55 persen, sementara total kapitalisasi pasar aset kripto global turut menyusut 1,25 persen menjadi USD2,92 triliun (Rp48.927 triliun).
Data menunjukkan disparitas tajam antara pemenang dan pecundang pasar hari ini. Di sisi Top Gainers, elizaOS (ELIZAOS) memimpin reli dengan lonjakan harga fantastis sebesar 69,97 persen, diikuti oleh BarnBridge (BOND) yang melesat 60 persen, dan Zero Base Token (ZBT) yang menguat 53,45 persen.
Sebaliknya, tekanan jual masif menghantam beberapa aset lain. Serum (SRM) menjadi Top Losers dengan kejatuhan harga hingga minus 35,85 persen, disusul Veracity (VRA) yang terkoreksi 28,55 persen, dan Moonpig (MOONPIG) yang anjlok 28,45 persen.
Dinamika ini menegaskan bahwa meskipun likuiditas di papan utama mengering, spekulasi di lapis kedua pasar masih sangat liar.
Panji Yudha mencatat bahwa pasar ETF Bitcoin Spot mengalami pendarahan modal dengan total net outflow (arus keluar bersih) mencapai USD782 juta (Rp13,1 triliun), di mana seluruh 12 dana ETF mencatatkan penarikan dana.
Tren serupa menimpa Ethereum, di mana ETF berbasis aset ini mencatat arus keluar sebesar USD102 juta (Rp 1,7 triliun).
Namun, ada fenomena menarik yang luput dari pandangan umum. Di tengah aksi jual Bitcoin dan Ethereum, investor institusi justru diam-diam mengakumulasi aset alternatif tertentu.
ETF Solana (SOL) mencatatkan arus masuk (inflow) positif sebesar USD13,14 juta (Rp220 miliar), sementara ETF XRP mencatat angka yang lebih impresif dengan arus masuk USD64 juta (Rp1,07 triliun). Hal ini mengindikasikan adanya diversifikasi portofolio institusi yang spesifik pada aset alternatif berfundamental kuat di penghujung tahun.
Dana yang beroperasi di jaringan Ethereum dan berinvestasi pada aset jangka pendek seperti surat utang AS (Treasury bills) ini telah membayarkan dividen kumulatif sebesar USD100 juta (Rp1,67 triliun), membuktikan bahwa imbal hasil (yield) berbasis blockchain dengan likuiditas tinggi semakin diminati investor kakap.
Angin segar regulasi juga berembus dari Asia Timur. Pemerintah Jepang mengumumkan rencana perombakan besar struktur pajak kripto dalam reformasi pajak 2026. Tarif pajak progresif atas keuntungan perdagangan kripto yang sebelumnya mencekik hingga 55 persen, akan dipangkas drastis menjadi tarif tunggal (flat) sebesar 20 persen.
Langkah strategis ini bertujuan menyetarakan aset digital dengan instrumen investasi konvensional seperti saham dan reksa dana, yang berpotensi memicu gelombang adopsi baru dari investor ritel Jepang tahun depan.
Di tengah ekspektasi reli akhir tahun yang biasanya meriah, "Raja Kripto" Bitcoin justru tersandung momentum, memicu gelombang risk-off (penghindaran risiko) di kalangan investor institusi, sementara aset-aset alternatif (altcoin) justru menunjukkan denyut nadi yang berbeda.
Laporan pasar terbaru yang dirilis Ajaib Kripto pada Selasa (30/12/2025) pukul 08.00 WIB pagi ini merekam detak pasar yang melambat.
Financial Expert Ajaib, Panji Yudha, menyoroti bahwa dalam rentang waktu 24 jam terakhir, Bitcoin (BTC) tergerus 1,20 persen. Aset digital terbesar ini diperdagangkan di level USD87.225 atau setara Rp1.461.566.143, setelah gagal mempertahankan posisi tertingginya di USD90.406 (Rp1,51 miliar).
Penurunan ini bukan sekadar koreksi harian, melainkan cerminan dari kinerja tahunan yang menantang.
Secara Year-to-Date (YTD) atau sejak 1 Januari hingga 30 Desember 2025, Bitcoin mencatatkan rapor merah dengan kinerja negatif sebesar minus 6,90 persen.
Dominasi pasar Bitcoin (BTC.D) kini tertahan di level 59,55 persen, sementara total kapitalisasi pasar aset kripto global turut menyusut 1,25 persen menjadi USD2,92 triliun (Rp48.927 triliun).
Paradoks Volatilitas: Yang Tumbang dan Yang Terbang
Meskipun pasar utama lesu, volatilitas ekstrem masih menjadi "surga" bagi pemburu token berkapitalisasi kecil.Data menunjukkan disparitas tajam antara pemenang dan pecundang pasar hari ini. Di sisi Top Gainers, elizaOS (ELIZAOS) memimpin reli dengan lonjakan harga fantastis sebesar 69,97 persen, diikuti oleh BarnBridge (BOND) yang melesat 60 persen, dan Zero Base Token (ZBT) yang menguat 53,45 persen.
Sebaliknya, tekanan jual masif menghantam beberapa aset lain. Serum (SRM) menjadi Top Losers dengan kejatuhan harga hingga minus 35,85 persen, disusul Veracity (VRA) yang terkoreksi 28,55 persen, dan Moonpig (MOONPIG) yang anjlok 28,45 persen.
Dinamika ini menegaskan bahwa meskipun likuiditas di papan utama mengering, spekulasi di lapis kedua pasar masih sangat liar.
Sentimen "Risk-Off" dan Anomali Altcoin
Analisis mendalam terhadap perilaku investor institusi selama periode libur Natal (22-26 Desember) menunjukkan adanya kehati-hatian tingkat tinggi.Panji Yudha mencatat bahwa pasar ETF Bitcoin Spot mengalami pendarahan modal dengan total net outflow (arus keluar bersih) mencapai USD782 juta (Rp13,1 triliun), di mana seluruh 12 dana ETF mencatatkan penarikan dana.
Tren serupa menimpa Ethereum, di mana ETF berbasis aset ini mencatat arus keluar sebesar USD102 juta (Rp 1,7 triliun).
Namun, ada fenomena menarik yang luput dari pandangan umum. Di tengah aksi jual Bitcoin dan Ethereum, investor institusi justru diam-diam mengakumulasi aset alternatif tertentu.
ETF Solana (SOL) mencatatkan arus masuk (inflow) positif sebesar USD13,14 juta (Rp220 miliar), sementara ETF XRP mencatat angka yang lebih impresif dengan arus masuk USD64 juta (Rp1,07 triliun). Hal ini mengindikasikan adanya diversifikasi portofolio institusi yang spesifik pada aset alternatif berfundamental kuat di penghujung tahun.
Kabar Makro: Dividen Digital dan Reformasi Pajak Jepang
Di luar pergerakan harga, infrastruktur keuangan berbasis blockchain terus matang. Raksasa investasi BlackRock mencatatkan tonggak sejarah melalui produk dana pasar uang ter-tokenisasi mereka, BUIDL (BlackRock USD Institutional Digital Liquidity Fund).Dana yang beroperasi di jaringan Ethereum dan berinvestasi pada aset jangka pendek seperti surat utang AS (Treasury bills) ini telah membayarkan dividen kumulatif sebesar USD100 juta (Rp1,67 triliun), membuktikan bahwa imbal hasil (yield) berbasis blockchain dengan likuiditas tinggi semakin diminati investor kakap.
Angin segar regulasi juga berembus dari Asia Timur. Pemerintah Jepang mengumumkan rencana perombakan besar struktur pajak kripto dalam reformasi pajak 2026. Tarif pajak progresif atas keuntungan perdagangan kripto yang sebelumnya mencekik hingga 55 persen, akan dipangkas drastis menjadi tarif tunggal (flat) sebesar 20 persen.
Langkah strategis ini bertujuan menyetarakan aset digital dengan instrumen investasi konvensional seperti saham dan reksa dana, yang berpotensi memicu gelombang adopsi baru dari investor ritel Jepang tahun depan.
(dan)
Lihat Juga :