Megah dan Mengerikan: Sarang Laba-laba Terbesar di Dunia Ditemukan Membentang 106 Meter di Bawah Tanah
Rabu, 17 Desember 2025 - 16:45 WIB
loading...
Bagi penderita arachnophobia, segera palingkan wajah Anda: sebuah kota jaring laba-laba seluas 106 meter persegi ditemukan membentang di bawah tanah dua negara. Foto: ist
A
A
A
YUNANI - Bayangkan sebuah "kota" anyaman sutra seluas apartemen mewah yang membentang di bawah perut bumi, di mana lebih dari seratus ribu pasang mata mengintai dalam kegelapan abadi.
Penemuan ilmiah terbaru ini bukan naskah film horor, melainkan fenomena biologis menakjubkan yang baru saja terkuak di perbatasan Albania dan Yunani.
Para ilmuwan baru saja mengonfirmasi penemuan jaring laba-laba terbesar di dunia. Tersembunyi di mulut Sulfur Cave—sistem gua dengan ekosistem belerang yang pekat—hamparan jaring ini mencakup area seluas 106 meter persegi.
Struktur kolosal ini tidak mengenal batas negara, membentang melintasi wilayah bawah tanah antara Albania dan Yunani.
Anomali Pemangsa dan Mangsa yang Rukun
Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Subterranean Biology pada Oktober 2025 ini bermula dari ekspedisi kelompok penelusur gua (cavers) dari Czech Speleological Society pada 2022.
Lalu, tim ilmuwan internasional baru-baru ini menyingkap fakta yang jauh lebih mengejutkan daripada sekadar ukurannya.
Secara alamiah, jaring ini adalah anomali. Struktur raksasa tersebut ternyata dibangun dan dihuni oleh dua spesies berbeda secara bersamaan: sekitar 69.000 ekor laba-laba rumah (domestic house spiders atau barn funnel weaver) dan 42.000 ekor Prinerigone vagans (sheet weaver spider).
Dalam hukum rimba biasa, laba-laba rumah yang berukuran lebih besar akan memangsa sheet weaver yang lebih kecil.
Namun, di dalam Sulfur Cave, naluri predator tersebut lenyap. Para ilmuwan belum pernah mendokumentasikan jaring yang ditenun oleh berbagai spesies seperti ini sebelumnya, menjadikan temuan ini sangat langka.
Kondisi lingkungan yang unik—suplai makanan tanpa henti dan kegelapan—membuat kompetisi untuk bertahan hidup menjadi tidak relevan. Akibatnya, terciptalah habitat unik di mana pemangsa dan mangsa hidup berdampingan menenun jaring raksasa.
Sampel yang diambil juga mengonfirmasi adanya adaptasi evolusioner. Populasi laba-laba di Sulfur Cave terbukti berbeda secara genetik dari populasi sejenis di luar gua.
Ini membuktikan bahwa "kota laba-laba" ini telah terisolasi cukup lama hingga para penghuninya beradaptasi secara khusus dengan lingkungan belerang di bawah tanah tersebut.
Penemuan ilmiah terbaru ini bukan naskah film horor, melainkan fenomena biologis menakjubkan yang baru saja terkuak di perbatasan Albania dan Yunani.
Para ilmuwan baru saja mengonfirmasi penemuan jaring laba-laba terbesar di dunia. Tersembunyi di mulut Sulfur Cave—sistem gua dengan ekosistem belerang yang pekat—hamparan jaring ini mencakup area seluas 106 meter persegi.
Struktur kolosal ini tidak mengenal batas negara, membentang melintasi wilayah bawah tanah antara Albania dan Yunani.
Anomali Pemangsa dan Mangsa yang Rukun
![Megah dan Mengerikan: Sarang Laba-laba Terbesar di Dunia Ditemukan Membentang 106 Meter di Bawah Tanah]()
Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Subterranean Biology pada Oktober 2025 ini bermula dari ekspedisi kelompok penelusur gua (cavers) dari Czech Speleological Society pada 2022.
Lalu, tim ilmuwan internasional baru-baru ini menyingkap fakta yang jauh lebih mengejutkan daripada sekadar ukurannya.
Secara alamiah, jaring ini adalah anomali. Struktur raksasa tersebut ternyata dibangun dan dihuni oleh dua spesies berbeda secara bersamaan: sekitar 69.000 ekor laba-laba rumah (domestic house spiders atau barn funnel weaver) dan 42.000 ekor Prinerigone vagans (sheet weaver spider).
Dalam hukum rimba biasa, laba-laba rumah yang berukuran lebih besar akan memangsa sheet weaver yang lebih kecil.
Namun, di dalam Sulfur Cave, naluri predator tersebut lenyap. Para ilmuwan belum pernah mendokumentasikan jaring yang ditenun oleh berbagai spesies seperti ini sebelumnya, menjadikan temuan ini sangat langka.
Evolusi di Tengah Gelap
Mengapa "gencatan senjata" ini bisa terjadi? Analisis para ahli menunjuk pada dua faktor utama: ketiadaan cahaya total dan kelimpahan sumber makanan yang luar biasa. Gua tersebut dipenuhi oleh midges (sejenis lalat kecil) yang menjadi santapan berlimpah bagi kedua spesies.Kondisi lingkungan yang unik—suplai makanan tanpa henti dan kegelapan—membuat kompetisi untuk bertahan hidup menjadi tidak relevan. Akibatnya, terciptalah habitat unik di mana pemangsa dan mangsa hidup berdampingan menenun jaring raksasa.
Sampel yang diambil juga mengonfirmasi adanya adaptasi evolusioner. Populasi laba-laba di Sulfur Cave terbukti berbeda secara genetik dari populasi sejenis di luar gua.
Ini membuktikan bahwa "kota laba-laba" ini telah terisolasi cukup lama hingga para penghuninya beradaptasi secara khusus dengan lingkungan belerang di bawah tanah tersebut.
(dan)
Lihat Juga :