Kalahkan Aramco, SpaceX Bidik IPO Terbesar Sepanjang Sejarah dengan Valuasi Rp23.850 Triliun!
Sabtu, 13 Desember 2025 - 13:13 WIB
loading...
Elon Musk siap mencetak sejarah baru dengan IPO SpaceX senilai Rp 23.850 triliun, sebuah langkah raksasa yang akan menobatkannya sebagai perusahaan paling bernilai di Amerika. Foto: Reuters
A
A
A
NEW YORK - Di tangan Elon Musk, langit bukan lagi batas, melainkan pijakan awal untuk ambisi yang lebih liar.
Kali ini, roket pendorongnya bukan menuju Mars, melainkan menuju lantai bursa dengan target yang bisa mengguncang sejarah pasar modal dunia.
SpaceX, raksasa antariksa yang telah mengubah wajah eksplorasi luar angkasa, dilaporkan tengah mempersiapkan diri untuk Penawaran Umum Perdana (IPO) pada pertengahan hingga akhir 2026 dengan target valuasi yang mencengangkan: USD1,5 triliun atau Rp23.850 triliun.
Langkah strategis ini bukan sekadar pencarian dana biasa. Jika terealisasi, IPO SpaceX akan menjadi yang terbesar sepanjang masa, mengincar dana segar lebih dari USD30 miliar (Rp477 triliun).
Angka ini diproyeksikan bakal menumbangkan rekor IPO Saudi Aramco pada 2019 yang "hanya" meraup USD29 miliar.
Lonjakan nilai ini sangat dramatis, mengingat beberapa bulan sebelumnya SpaceX "hanya" bernilai sekitar USD400 miliar dalam transaksi privat.
Dengan valuasi USD800 miliar, SpaceX sudah berhasil merebut kembali mahkota sebagai perusahaan privat paling bernilai di Amerika, menyalip OpenAI—pembuat ChatGPT—yang valuasinya berada di kisaran USD500 miliar.
Penjualan saham sekunder ini memungkinkan karyawan menjual saham mereka di harga USD420 per lembar (Rp6,6 juta), memberikan likuiditas bagi para pegawai setia tanpa perlu menunggu IPO resmi.
Namun, rencana terbaru mengindikasikan bahwa Musk ingin menjual paket lengkap "infrastruktur luar angkasa".
Ini menggabungkan bisnis peluncuran roket yang mendominasi pasar, kontrak pemerintah yang masif, dan layanan internet Starlink dalam satu entitas raksasa.
Langkah ini seolah meminta investor publik untuk "membeli masa depan" di mana roket raksasa Starship beroperasi penuh, Starlink terus mencetak uang layaknya perusahaan telekomunikasi besar, dan pemerintah dunia terus mengucurkan dana untuk infrastruktur luar angkasa.
Di balik ambisi ini, Elon Musk juga pernah menyatakan kepada pemegang saham Tesla bahwa "pada titik tertentu, SpaceX harus menjadi perusahaan publik" dan ia sedang mencari cara agar investor Tesla bisa turut memiliki saham SpaceX.
Kini, pertanyaan besarnya adalah: apakah pasar publik siap menelan valuasi sebesar itu? Dengan pendapatan yang diklaim Musk akan mencapai USD15,5 miliar (Rp246 triliun) pada 2025, SpaceX mungkin memang sudah siap lepas landas, bukan hanya ke orbit, tapi juga ke papan perdagangan saham terbesar di dunia.
Kali ini, roket pendorongnya bukan menuju Mars, melainkan menuju lantai bursa dengan target yang bisa mengguncang sejarah pasar modal dunia.
SpaceX, raksasa antariksa yang telah mengubah wajah eksplorasi luar angkasa, dilaporkan tengah mempersiapkan diri untuk Penawaran Umum Perdana (IPO) pada pertengahan hingga akhir 2026 dengan target valuasi yang mencengangkan: USD1,5 triliun atau Rp23.850 triliun.
Langkah strategis ini bukan sekadar pencarian dana biasa. Jika terealisasi, IPO SpaceX akan menjadi yang terbesar sepanjang masa, mengincar dana segar lebih dari USD30 miliar (Rp477 triliun).
Angka ini diproyeksikan bakal menumbangkan rekor IPO Saudi Aramco pada 2019 yang "hanya" meraup USD29 miliar.
Valuasi Melambung: Menyalip OpenAI di Tikungan
Kabar ini muncul beriringan dengan laporan penjualan saham sekunder internal (insider share sale) yang baru-baru ini disetujui, di mana valuasi perusahaan dipatok pada angka USD800 miliar (Rp12.720 triliun).Lonjakan nilai ini sangat dramatis, mengingat beberapa bulan sebelumnya SpaceX "hanya" bernilai sekitar USD400 miliar dalam transaksi privat.
Dengan valuasi USD800 miliar, SpaceX sudah berhasil merebut kembali mahkota sebagai perusahaan privat paling bernilai di Amerika, menyalip OpenAI—pembuat ChatGPT—yang valuasinya berada di kisaran USD500 miliar.
Penjualan saham sekunder ini memungkinkan karyawan menjual saham mereka di harga USD420 per lembar (Rp6,6 juta), memberikan likuiditas bagi para pegawai setia tanpa perlu menunggu IPO resmi.
Pertaruhan "Space Infrastructure"
Strategi IPO ini menandai pergeseran arah yang signifikan. Sebelumnya, rumor yang beredar kencang adalah SpaceX akan memisahkan (spin-off) bisnis internet satelitnya, Starlink, untuk melantai di bursa sendirian. Starlink memang menjadi mesin uang yang "seksi" bagi investor, dengan pendapatan tahunan (run rate) yang diprediksi mencapai USD12 miliar (Rp190 triliun) dari jutaan pelanggan global.Namun, rencana terbaru mengindikasikan bahwa Musk ingin menjual paket lengkap "infrastruktur luar angkasa".
Ini menggabungkan bisnis peluncuran roket yang mendominasi pasar, kontrak pemerintah yang masif, dan layanan internet Starlink dalam satu entitas raksasa.
Langkah ini seolah meminta investor publik untuk "membeli masa depan" di mana roket raksasa Starship beroperasi penuh, Starlink terus mencetak uang layaknya perusahaan telekomunikasi besar, dan pemerintah dunia terus mengucurkan dana untuk infrastruktur luar angkasa.
Tantangan Menuju Lantai Bursa
Meski targetnya 2026, jalan menuju sana masih panjang. CFO SpaceX, Bret Johnsen, dan para penasihat keuangan masih dalam tahap awal menyusun kerangka kerja ini. Waktu pelaksanaannya pun bisa bergeser ke 2027 tergantung kondisi pasar.Di balik ambisi ini, Elon Musk juga pernah menyatakan kepada pemegang saham Tesla bahwa "pada titik tertentu, SpaceX harus menjadi perusahaan publik" dan ia sedang mencari cara agar investor Tesla bisa turut memiliki saham SpaceX.
Kini, pertanyaan besarnya adalah: apakah pasar publik siap menelan valuasi sebesar itu? Dengan pendapatan yang diklaim Musk akan mencapai USD15,5 miliar (Rp246 triliun) pada 2025, SpaceX mungkin memang sudah siap lepas landas, bukan hanya ke orbit, tapi juga ke papan perdagangan saham terbesar di dunia.
(dan)
Lihat Juga :