Evolusi atau Obsesi? TV LG StanbyME 2 Hadir dengan Layar Lepas-Pasang dan Banderol Premium yang Berani
Sabtu, 29 November 2025 - 16:02 WIB
loading...
A
A
A
Layar 27 inci tersebut "hanya" mengusung resolusi QHD (2.560 x 1.440 piksel). Meskipun didukung oleh chipset cerdas α8 AI Processor, serta teknologi Dolby Vision dan Dolby Atmos yang menjanjikan audio visual memikat, absennya resolusi 4K di rentang harga ini adalah sebuah kekecewaan kecil.
Vincent Martana Wenas, Head of Product Marketing Home Entertainment LG, memang menjanjikan "detail tajam dan warna hidup", namun mata konsumen yang sudah dimanjakan oleh kerapatan piksel layar smartphone mungkin akan mengharapkan lebih.
Selain itu, sektor daya tahan baterai juga menjadi catatan. LG mengklaim baterai bawaan mampu memutar video hingga empat jam tanpa sumber listrik. Angka empat jam memang cukup untuk menonton dua judul film durasi standar, namun untuk sebuah perangkat yang menjual mimpi "mobilitas tanpa batas", durasi ini terasa pas-pasan.
Pengguna harus siap sedia dengan power bank atau mencari colokan listrik jika ingin maraton serial drama Korea seharian di taman belakang. Untungnya, pengisian daya kini lebih fleksibel dengan dukungan USB-C.
LG StanbyME 2 tidak diciptakan untuk kaum "mendang-mending" yang menghitung rasio harga per inci layar. Produk ini menyasar ceruk pasar spesifik: kaum New Elite atau Gen Z mapan yang memandang televisi bukan lagi sebagai altar di ruang keluarga, melainkan aksesori personal yang harus mengikuti pergerakan pemiliknya.
Namun, banderol harganya tetaplah sebuah tembok tinggi. Dengan spesifikasi resolusi yang belum 4K dan daya tahan baterai yang moderat, nilai jual utama produk ini murni terletak pada desain dan fleksibilitasnya.
Apakah kebebasan memindah-mindahkan layar senilai Rp20 juta itu sepadan? Pasar Indonesia yang unik—yang sensitif harga namun juga impulsif pada tren—akan memberikan jawabannya dalam beberapa minggukedepan.
Vincent Martana Wenas, Head of Product Marketing Home Entertainment LG, memang menjanjikan "detail tajam dan warna hidup", namun mata konsumen yang sudah dimanjakan oleh kerapatan piksel layar smartphone mungkin akan mengharapkan lebih.
Selain itu, sektor daya tahan baterai juga menjadi catatan. LG mengklaim baterai bawaan mampu memutar video hingga empat jam tanpa sumber listrik. Angka empat jam memang cukup untuk menonton dua judul film durasi standar, namun untuk sebuah perangkat yang menjual mimpi "mobilitas tanpa batas", durasi ini terasa pas-pasan.
Pengguna harus siap sedia dengan power bank atau mencari colokan listrik jika ingin maraton serial drama Korea seharian di taman belakang. Untungnya, pengisian daya kini lebih fleksibel dengan dukungan USB-C.
LG StanbyME 2 tidak diciptakan untuk kaum "mendang-mending" yang menghitung rasio harga per inci layar. Produk ini menyasar ceruk pasar spesifik: kaum New Elite atau Gen Z mapan yang memandang televisi bukan lagi sebagai altar di ruang keluarga, melainkan aksesori personal yang harus mengikuti pergerakan pemiliknya.
Namun, banderol harganya tetaplah sebuah tembok tinggi. Dengan spesifikasi resolusi yang belum 4K dan daya tahan baterai yang moderat, nilai jual utama produk ini murni terletak pada desain dan fleksibilitasnya.
Apakah kebebasan memindah-mindahkan layar senilai Rp20 juta itu sepadan? Pasar Indonesia yang unik—yang sensitif harga namun juga impulsif pada tren—akan memberikan jawabannya dalam beberapa minggukedepan.
(dan)
Lihat Juga :