Pembangunan Gedung Terpanjang di Dunia Dilaporkan Bermasalah
Minggu, 09 November 2025 - 21:39 WIB
loading...
Pembangunan Gedung Terpanjang di Dunia. FOTO/ ARAB NEWS
A
A
A
RYADH - Arab Saudi telah mengurangi skala megaproyeknya, The Line, di Neom, karena tantangan teknis dan finansial.
Desain awal proyek ini melanggar hukum fisika dan tidak praktis dari sudut pandang arsitektur, menyebabkan biaya meningkat menjadi USD4,5 triliun.
Proyek The Line juga menghadapi tantangan seperti penundaan dan manipulasi biaya, sebagai bagian dari upaya Arab Saudi untuk bertransformasi menjadi destinasi wisata dan teknologi global.
Menurut laporan Financial Times, desain awal, yang memiliki panjang 170 kilometer dan tinggi 500 meter, ditemukan melanggar hukum fisika dan tidak praktis dari sudut pandang arsitektur.
Fase pertama pembangunan Hidden Marina telah dimulai, menampilkan pelabuhan kapal dan lengkungan raksasa dengan lampu gantung berukuran besar.
Namun, para insinyur menemukan bahwa struktur lampu gantung tersebut tidak dapat dibangun karena akan terus bergoyang dan berisiko hancur sendiri.
Total biaya proyek ini kini telah melonjak menjadi lebih dari USD4,5 triliun, dibandingkan dengan perkiraan awal sekitar USD1 triliun.
Hal ini menjadikan The Line salah satu proyek termahal dalam sejarah modern.
Selain itu, pembangunan fase Hidden Marina saja diperkirakan akan menghabiskan hingga 20 persen kebutuhan baja global, sehingga memberikan tekanan pada pasar material konstruksi global.
Karena kendala biaya dan teknis, rencana awal untuk membangun 20 modul sepanjang 16 kilometer telah dipersingkat menjadi hanya tiga modul.
Modul-modul ini akan menampung pelabuhan, area perumahan, dan stadion tertinggi di dunia, yang rencananya akan digunakan selama Piala Dunia FIFA 2034.
Proyek The Line bukan satu-satunya yang menghadapi masalah. Proyek ski mewah Trojena, yang dijadwalkan menjadi tuan rumah Asian Winter Games 2029, kini menghadapi risiko penundaan dan manipulasi biaya, sementara resor Sindalah belum dibuka untuk umum meskipun telah diluncurkan secara eksklusif pada bulan Oktober tahun lalu.
Semua proyek ini merupakan bagian dari upaya Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mengubah Arab Saudi dari negara penghasil minyak menjadi destinasi wisata dan teknologi global terkemuka.
Desain awal proyek ini melanggar hukum fisika dan tidak praktis dari sudut pandang arsitektur, menyebabkan biaya meningkat menjadi USD4,5 triliun.
Proyek The Line juga menghadapi tantangan seperti penundaan dan manipulasi biaya, sebagai bagian dari upaya Arab Saudi untuk bertransformasi menjadi destinasi wisata dan teknologi global.
Menurut laporan Financial Times, desain awal, yang memiliki panjang 170 kilometer dan tinggi 500 meter, ditemukan melanggar hukum fisika dan tidak praktis dari sudut pandang arsitektur.
Fase pertama pembangunan Hidden Marina telah dimulai, menampilkan pelabuhan kapal dan lengkungan raksasa dengan lampu gantung berukuran besar.
Namun, para insinyur menemukan bahwa struktur lampu gantung tersebut tidak dapat dibangun karena akan terus bergoyang dan berisiko hancur sendiri.
Total biaya proyek ini kini telah melonjak menjadi lebih dari USD4,5 triliun, dibandingkan dengan perkiraan awal sekitar USD1 triliun.
Hal ini menjadikan The Line salah satu proyek termahal dalam sejarah modern.
Selain itu, pembangunan fase Hidden Marina saja diperkirakan akan menghabiskan hingga 20 persen kebutuhan baja global, sehingga memberikan tekanan pada pasar material konstruksi global.
Karena kendala biaya dan teknis, rencana awal untuk membangun 20 modul sepanjang 16 kilometer telah dipersingkat menjadi hanya tiga modul.
Modul-modul ini akan menampung pelabuhan, area perumahan, dan stadion tertinggi di dunia, yang rencananya akan digunakan selama Piala Dunia FIFA 2034.
Proyek The Line bukan satu-satunya yang menghadapi masalah. Proyek ski mewah Trojena, yang dijadwalkan menjadi tuan rumah Asian Winter Games 2029, kini menghadapi risiko penundaan dan manipulasi biaya, sementara resor Sindalah belum dibuka untuk umum meskipun telah diluncurkan secara eksklusif pada bulan Oktober tahun lalu.
Semua proyek ini merupakan bagian dari upaya Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mengubah Arab Saudi dari negara penghasil minyak menjadi destinasi wisata dan teknologi global terkemuka.
(wbs)
Lihat Juga :