Media Sosial Menjadi Senjata Perang Israel Paling Brutal
Jum'at, 03 Oktober 2025 - 10:38 WIB
loading...
Media Sosial Telah Menjadi Senjata Perang Israel . FOTO/ JERUSALEM POST
A
A
A
LONDON - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan arogan mengakui bahwa rezim brutalnya telah mengubah platform media sosial menjadi 'senjata' untuk menyelamatkan citranya yang semakin rapuh di Amerika Serikat (AS).
Pengakuan tentang zona perang baru ini disampaikan dalam sesi diskusi panel dengan sekelompok influencer pro-Zionis Amerika di New York pekan lalu.
Netanyahu, yang saat ini menghadapi kampanye isolasi dari komunitas internasional, mengatakan bahwa Israel seharusnya perlu memperkuat posisinya di Washington.
Menurutnya, metode perang telah berubah seiring perkembangan zaman.
"Kita tidak bisa berperang dengan pedang. Pedang sudah tidak berguna lagi. Kita perlu berperang dengan senjata yang sesuai untuk medan perang saat ini, yaitu media sosial," kata pemimpin 'ekstremis' tersebut.
Netanyahu juga menyoroti kesepakatan pembelian TikTok yang akan membuat platform berbagi video populer Tiongkok tersebut jatuh ke tangan AS, sekutu kuatnya.
"Kesepakatan terpenting sedang terjadi. Ini bisa berdampak besar," ujarnya, jelas berharap untuk menyebarkan propaganda yang tidak masuk akal dan menutupi kekejaman Zionis yang sebenarnya di mata dunia.
Netanyahu juga menyebutkan platform X yang ingin ia gunakan sebagai salah satu senjata perang naratif Israel selain TikTok.
Sementara itu, pengungkapan yang dilakukan oleh majalah daring, Responsibel Statecraft, menunjukkan bahwa Tel Aviv telah 'menyuap' sejumlah influencer di bawah 'Kampanye Influencer' untuk menyukseskan perang informasi tersebut.
Faktur yang dikirimkan kepada Havas Media Group Jerman, yang mengelola 'Kampanye Influencer', menunjukkan bahwa USD900.000 (RM3,8 juta) telah disalurkan selama periode Juni hingga November 2025 untuk membayar sekitar 14 hingga 18 influencer yang identitasnya tidak diungkapkan.
Diperkirakan ada 75 hingga 90 postingan selama periode tersebut, setara dengan pembayaran antara USD6.143 dan USD7.372 untuk setiap postingan pro-Israel yang diunggah di media sosial.
Pengakuan tentang zona perang baru ini disampaikan dalam sesi diskusi panel dengan sekelompok influencer pro-Zionis Amerika di New York pekan lalu.
Netanyahu, yang saat ini menghadapi kampanye isolasi dari komunitas internasional, mengatakan bahwa Israel seharusnya perlu memperkuat posisinya di Washington.
Menurutnya, metode perang telah berubah seiring perkembangan zaman.
"Kita tidak bisa berperang dengan pedang. Pedang sudah tidak berguna lagi. Kita perlu berperang dengan senjata yang sesuai untuk medan perang saat ini, yaitu media sosial," kata pemimpin 'ekstremis' tersebut.
Netanyahu juga menyoroti kesepakatan pembelian TikTok yang akan membuat platform berbagi video populer Tiongkok tersebut jatuh ke tangan AS, sekutu kuatnya.
"Kesepakatan terpenting sedang terjadi. Ini bisa berdampak besar," ujarnya, jelas berharap untuk menyebarkan propaganda yang tidak masuk akal dan menutupi kekejaman Zionis yang sebenarnya di mata dunia.
Netanyahu juga menyebutkan platform X yang ingin ia gunakan sebagai salah satu senjata perang naratif Israel selain TikTok.
Sementara itu, pengungkapan yang dilakukan oleh majalah daring, Responsibel Statecraft, menunjukkan bahwa Tel Aviv telah 'menyuap' sejumlah influencer di bawah 'Kampanye Influencer' untuk menyukseskan perang informasi tersebut.
Faktur yang dikirimkan kepada Havas Media Group Jerman, yang mengelola 'Kampanye Influencer', menunjukkan bahwa USD900.000 (RM3,8 juta) telah disalurkan selama periode Juni hingga November 2025 untuk membayar sekitar 14 hingga 18 influencer yang identitasnya tidak diungkapkan.
Diperkirakan ada 75 hingga 90 postingan selama periode tersebut, setara dengan pembayaran antara USD6.143 dan USD7.372 untuk setiap postingan pro-Israel yang diunggah di media sosial.
(wbs)
Lihat Juga :