Microsoft Putus Akses Israel ke Teknologi Mata-mata Massal Warga Palestina
Selasa, 30 September 2025 - 18:25 WIB
loading...
A
A
A
Di Bawah Tekanan Hebat
Keputusan luar biasa Microsoft ini diambil di tengah tekanan hebat dari karyawan dan investor terkait peran teknologinya dalam serangan militer Israel di Gaza yang telah berlangsung hampir dua tahun dan menewaskan lebih dari 65.000 warga Palestina, mayoritas warga sipil.Investigasi The Guardian memicu gelombang protes di markas besar Microsoft di AS dan salah satu pusat datanya di Eropa. Sebuah kelompok kampanye yang dipimpin oleh para pekerja, "No Azure for Apartheid" (Tidak Ada Azure untuk Apartheid), menuntut pemutusan semua hubungan dengan militer Israel.
Pada hari Kamis, Wakil Ketua dan Presiden Microsoft, Brad Smith, menginformasikan keputusan tersebut kepada para staf melalui sebuah email. Dalam email yang dilihat oleh The Guardian, ia menyatakan perusahaan telah “menghentikan dan menonaktifkan serangkaian layanan ke sebuah unit di dalam kementerian pertahanan Israel,” termasuk penyimpanan cloud dan layanan kecerdasan buatan (AI).
Smith menulis dengan tegas: “Kami tidak menyediakan teknologi untuk memfasilitasi pengawasan massal terhadap warga sipil. Kami telah menerapkan prinsip ini di setiap negara di seluruh dunia, dan kami telah bersikeras atas hal itu berulang kali selama lebih dari dua dekade.”
Pengakuan dan Langkah Tegas
Meskipun awalnya menargetkan 3 juta warga Palestina di Tepi Barat, sumber intelijen menyebutkan bahwa platform ini juga digunakan dalam serangan di Gaza untuk memfasilitasi persiapan serangan udara yang mematikan.Lihat Juga :