Setelah Perang Terbuka, Donald Trump dan Elon Musk Berjabat Tangan di Momen Duka: Sinyal Rekonsiliasi Dua Raksasa?
Senin, 22 September 2025 - 13:10 WIB
loading...
Donald Trump terlihat mengobrol santai dengan Elon Musk di acara penghormatan untuk aktivis sayap kanan Charlie Kirk. Foto: ist
A
A
A
GLENDALE, ARIZONA - Di tengah puluhan ribu orang yang berkabung, pemandangan yang tak terbayangkan beberapa bulan lalu terjadi: Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, bertemu dan berjabat tangan dengan Elon Musk, miliarder teknologi yang pernah menjadi penasihat terpercayanya sebelum keduanya terlibat dalam perseteruan publik yang spektakuler.
Momen langka ini terjadi di sebuah stadion di Glendale, Arizona, dalam acara penghormatan untuk aktivis sayap kanan Charlie Kirk, yang tewas ditembak pada 10 September di sebuah kampus universitas di Utah.
Pertemuan ini sontak memicu spekulasi liar: apakah dua figur paling kuat dan kontroversial di Amerika ini sedang berdamai?
Video yang menangkap momen Trump dan Musk berbincang santai di tribun dibagikan oleh akun resmi Gedung Putih di platform media sosial X—platform yang notabene dimiliki oleh Musk sendiri.
Elon Musk pernah menjadi salah satu pendukung finansial terbesar Trump, menggelontorkan donasi lebih dari USD270 juta (sekitar Rp4,3 triliun) untuk kampanye kepresidenan Trump.
Setelah pemilu, Musk didapuk untuk memimpin inisiatif kontroversial bernama Department of Government Efficiency (DOGE), badan yang bertugas "membabat" birokrasi federal AS dan telah mengeliminasi ribuan pekerjaan pemerintah yang dianggap sebagai pemborosan.
Namun, aliansi itu retak berkeping-keping. Pemicunya adalah RUU pajak dan belanja Gedung Putih yang disebut Musk sebagai kebijakan yang "benar-benar gila dan merusak."
Perang terbuka pun tak terhindarkan dan sebagian besar terjadi di media sosial. Musk melontarkan tuduhan mengejutkan, mengaitkan Trump dengan "file Epstein"—dokumen terkait pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein.
Trump membalas dengan ancaman tak kalah keras, mengatakan pada bulan Juli bahwa ia akan "mempertimbangkan" gagasan untuk mendeportasi Musk.
Setelah perpecahan itu, Musk bahkan sempat mengumumkan akan meluncurkan partainya sendiri yang bernama "America First," meski hingga kini belum ada realisasi yang jelas.
Hingga saat ini, tidak diketahui apakah ini adalah pertemuan pertama mereka sejak perseteruan hebat itu. Namun, jabat tangan ini lebih dari sekadar basa-basi. Ini adalah sinyal potensial yang bisa mengubah lanskap politikAmerika.
Momen langka ini terjadi di sebuah stadion di Glendale, Arizona, dalam acara penghormatan untuk aktivis sayap kanan Charlie Kirk, yang tewas ditembak pada 10 September di sebuah kampus universitas di Utah.
Pertemuan ini sontak memicu spekulasi liar: apakah dua figur paling kuat dan kontroversial di Amerika ini sedang berdamai?
Video yang menangkap momen Trump dan Musk berbincang santai di tribun dibagikan oleh akun resmi Gedung Putih di platform media sosial X—platform yang notabene dimiliki oleh Musk sendiri.
Dari Sekutu Erat Menjadi Musuh Bebuyutan
Untuk memahami betapa dramatisnya pertemuan ini, kita perlu melihat kembali hubungan rollercoaster keduanya.Elon Musk pernah menjadi salah satu pendukung finansial terbesar Trump, menggelontorkan donasi lebih dari USD270 juta (sekitar Rp4,3 triliun) untuk kampanye kepresidenan Trump.
Setelah pemilu, Musk didapuk untuk memimpin inisiatif kontroversial bernama Department of Government Efficiency (DOGE), badan yang bertugas "membabat" birokrasi federal AS dan telah mengeliminasi ribuan pekerjaan pemerintah yang dianggap sebagai pemborosan.
Namun, aliansi itu retak berkeping-keping. Pemicunya adalah RUU pajak dan belanja Gedung Putih yang disebut Musk sebagai kebijakan yang "benar-benar gila dan merusak."
Perang terbuka pun tak terhindarkan dan sebagian besar terjadi di media sosial. Musk melontarkan tuduhan mengejutkan, mengaitkan Trump dengan "file Epstein"—dokumen terkait pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein.
Trump membalas dengan ancaman tak kalah keras, mengatakan pada bulan Juli bahwa ia akan "mempertimbangkan" gagasan untuk mendeportasi Musk.
Setelah perpecahan itu, Musk bahkan sempat mengumumkan akan meluncurkan partainya sendiri yang bernama "America First," meski hingga kini belum ada realisasi yang jelas.
Gencatan Senjata?
Kini, di tengah duka, keduanya tampak mengesampingkan permusuhan. Musk mengunggah foto dirinya duduk bersama Trump di acara memorial tersebut dengan keterangan singkat yang sarat makna: "Untuk Charlie."Hingga saat ini, tidak diketahui apakah ini adalah pertemuan pertama mereka sejak perseteruan hebat itu. Namun, jabat tangan ini lebih dari sekadar basa-basi. Ini adalah sinyal potensial yang bisa mengubah lanskap politikAmerika.
(dan)
Lihat Juga :