Perang Melawan Judol: Komdigi Klaim 2,1 Juta Konten Diberantas
Sabtu, 20 September 2025 - 13:59 WIB
loading...
Komdigi mengklaim terus memberantas judol, walaupun faktanya masih terus ditemukan di lapangan. Foto: Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) merilis angka mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan: sebanyak 2,1 juta konten judi online (judol) telah mereka berantas hanya dalam kurun waktu kurang dari setahun.
Angka fantastis ini, yang merupakan bagian dari total 2,8 juta konten negatif yang ditindak sejak 20 Oktober 2024 hingga 16 September 2025, bukan sekadar statistik.
Tapi, pengakuan pahit tentang seberapa masif dan dalam gurita judi online telah mencengkeram masyarakat Indonesia.
Untuk menghadapi wabah digital ini, Komdigi bersiap meluncurkan senjata pamungkasnya.
Mulai Oktober 2025, sistem canggih bernama Saman (Sistem Analisis dan Monitoring) akan diaktifkan secara penuh, menjanjikan pemberantasan yang lebih cepat dan efektif.
"Mulai dari hancurnya keluarga, hilangnya harta benda, hingga runtuhnya masa depan generasi muda. Angka [2,1 juta] ini menunjukkan betapa masifnya ancaman yang kita hadapi di ruang digital," ujar Alexander dalam keterangan resminya.
Pernyataan ini secara tidak langsung menjadi pengakuan bahwa jutaan konten yang berhasil ditindak juga merepresentasikan jutaan potensi korban yang telah terpapar. Keberhasilan penindakan sekaligus menjadi cermin kegagalan pencegahan di hulu.
Namun, di tengah optimisme pemerintah, publik menyimpan pertanyaan kritis. Akankah 'senjata' baru ini benar-benar mampu membasmi judol hingga ke akarnya, atau hanya akan menjadi babak baru dalam permainan kucing-dan-tikus yang tak berkesudahan, di mana para bandar akan selalu menemukan cara baru untuk mengakali sistem?
Menyadari potensi kekhawatiran publik bahwa sistem monitoring canggih ini bisa disalahgunakan untuk membungkam kebebasan berpendapat, Alexander buru-buru memberi jaminan.
"Langkah ini bukan untuk membungkam kritik atas aspirasi rakyat, demokrasi tetap kita jaga. Kritik, aspirasi, dan ekspresi harus tetap hidup. Yang kita tindak tegas adalah konten ilegal dan berbahaya, khususnya judi online," tegasnya.
Pada akhirnya, Komdigi mengakui bahwa perang ini tidak bisa dimenangkan sendirian. Mereka mengimbau masyarakat untuk menjadi garda terdepan dengan aktif melapor. "Jika menemukan konten judi online, segera laporkan," tutup Alexander.
Oktober 2025 akan menjadi bulan pembuktian. Apakah senjata baru bernama Saman ini mampu membalikkan keadaan, atau hanya upaya menggaramilaut.
Angka fantastis ini, yang merupakan bagian dari total 2,8 juta konten negatif yang ditindak sejak 20 Oktober 2024 hingga 16 September 2025, bukan sekadar statistik.
Tapi, pengakuan pahit tentang seberapa masif dan dalam gurita judi online telah mencengkeram masyarakat Indonesia.
Untuk menghadapi wabah digital ini, Komdigi bersiap meluncurkan senjata pamungkasnya.
Mulai Oktober 2025, sistem canggih bernama Saman (Sistem Analisis dan Monitoring) akan diaktifkan secara penuh, menjanjikan pemberantasan yang lebih cepat dan efektif.
Skala Bencana di Ruang Digital
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komdigi, Alexander Sabar, tidak menampik kerusakan dahsyat yang diakibatkan oleh judol. Ia melukiskan gambaran suram dari dampak sosial yang ditimbulkan."Mulai dari hancurnya keluarga, hilangnya harta benda, hingga runtuhnya masa depan generasi muda. Angka [2,1 juta] ini menunjukkan betapa masifnya ancaman yang kita hadapi di ruang digital," ujar Alexander dalam keterangan resminya.
Pernyataan ini secara tidak langsung menjadi pengakuan bahwa jutaan konten yang berhasil ditindak juga merepresentasikan jutaan potensi korban yang telah terpapar. Keberhasilan penindakan sekaligus menjadi cermin kegagalan pencegahan di hulu.
Saman: Senjata Pamungkas atau Babak Baru Permainan Kucing-Tikus?
Sistem Saman, yang telah melalui masa uji coba selama setahun terakhir, digadang-gadang akan menjadi pengubah permainan. "Dengan masukan dari para penyelenggara platform digital dan evaluasi internal, kami berharap sistem ini dapat berjalan dengan baik, menutup celah-celah yang ada dan bulan depan sistem Saman bisa berjalan secara penuh," kata Alexander.Namun, di tengah optimisme pemerintah, publik menyimpan pertanyaan kritis. Akankah 'senjata' baru ini benar-benar mampu membasmi judol hingga ke akarnya, atau hanya akan menjadi babak baru dalam permainan kucing-dan-tikus yang tak berkesudahan, di mana para bandar akan selalu menemukan cara baru untuk mengakali sistem?
Menyadari potensi kekhawatiran publik bahwa sistem monitoring canggih ini bisa disalahgunakan untuk membungkam kebebasan berpendapat, Alexander buru-buru memberi jaminan.
"Langkah ini bukan untuk membungkam kritik atas aspirasi rakyat, demokrasi tetap kita jaga. Kritik, aspirasi, dan ekspresi harus tetap hidup. Yang kita tindak tegas adalah konten ilegal dan berbahaya, khususnya judi online," tegasnya.
Pada akhirnya, Komdigi mengakui bahwa perang ini tidak bisa dimenangkan sendirian. Mereka mengimbau masyarakat untuk menjadi garda terdepan dengan aktif melapor. "Jika menemukan konten judi online, segera laporkan," tutup Alexander.
Oktober 2025 akan menjadi bulan pembuktian. Apakah senjata baru bernama Saman ini mampu membalikkan keadaan, atau hanya upaya menggaramilaut.
(dan)
Lihat Juga :