Perang Chip Memanas: China Pukul Balik AS, Jadikan Raksasa AI Nvidia sebagai Sandera
Rabu, 17 September 2025 - 15:29 WIB
loading...
China menjadikan Nvidia sebagai sandera, membuat perusahaan takut melangkah. Foto: Getty Images
A
A
A
CHINA - Di saat para diplomat Amerika Serikat dan China tengah duduk semeja dalam perundingan dagang di Madrid, bom waktu meledak di Beijing.
Pada hari Senin silam, pemerintah China melancarkan serangan balasan paling keras dalam "Perang Chip" yang sedang berlangsung: mereka secara resmi menuduh Nvidia—perusahaan paling berharga di AS dan raja tak terbantahkan di dunia chip Kecerdasan Buatan (AI)—telah melanggar undang-undang anti-monopoli.
Ini bukan kebetulan. Tapi, pesan sangat jelas, manuver catur geopolitik yang dilancarkan di saat yang paling sensitif.
Nvidia, sang raksasa teknologi, kini secara efektif telah menjadi "sandera" dalam pertarungan antara dua negara adidaya untuk supremasi teknologi di masa depan.
Saham Nvidia pun langsung anjlok 1,4% sesaat setelah pengumuman tersebut.
Pukulan Pertama dari AS: Jumat lalu, pemerintahan Presiden Donald Trump memasukkan dua produsen chip China, GMC Semiconductor Technology Co. dan Jicun Semiconductor Technology, ke dalam "Daftar Entitas" atau daftar hitam perdagangan.
'Gula-gula' dari AS: Namun bulan sebelumnya, Trump justru menawarkan "gula-gula" yang kontroversial. Ia menyetujui kesepakatan yang mengizinkan Nvidia dan AMD untuk kembali menjual "versi sunat" dari chip AI canggih mereka (seperti Nvidia H20) ke China, dengan syarat mereka membayar "pajak" sebesar 15% dari pendapatan penjualan tersebut ke pemerintah AS.
Pukulan Balasan dari China: Tuduhan anti-monopoli terhadap Nvidia kini menjadi jawaban telak dari Beijing. Tuduhan ini terkait dengan akuisisi Nvidia terhadap perancang chip asal Israel, Mellanox Technologies, pada 2020.
Meskipun investigasinya masih bersifat "pendahuluan", ini adalah sebuah tembakan peringatan yang sangat serius.
Ironisnya, bahkan jika AS kini mengizinkan penjualannya, belum tentu China mau membelinya secara resmi karena adanya kekhawatiran keamanan terhadap chip yang "dilemahkan".
Namun, ironi terbesarnya adalah: China kemungkinan besar sudah memiliki chip-chip canggih ini melalui pasar gelap.
Kemunculan model AI China yang sangat maju, "DeepSeek," awal tahun ini telah mengguncang Silicon Valley dan menjadi bukti kuat bahwa para peneliti di China telah memiliki perangkat keras yang mereka butuhkan.
Nasib Nvidia di China kini bukan lagi sekadar urusan bisnis. Ia telah menjadi barometer bagi panas-dinginnya hubungan AS-China. Setiap langkah dalam investigasi anti-monopoli di Beijing akan diawasi dengan cermat oleh seluruh dunia, karena ia akan menjadi pertanda ke mana arah angin "Perang Chip" global ini akan berhembusselanjutnya.
Pada hari Senin silam, pemerintah China melancarkan serangan balasan paling keras dalam "Perang Chip" yang sedang berlangsung: mereka secara resmi menuduh Nvidia—perusahaan paling berharga di AS dan raja tak terbantahkan di dunia chip Kecerdasan Buatan (AI)—telah melanggar undang-undang anti-monopoli.
Ini bukan kebetulan. Tapi, pesan sangat jelas, manuver catur geopolitik yang dilancarkan di saat yang paling sensitif.
Nvidia, sang raksasa teknologi, kini secara efektif telah menjadi "sandera" dalam pertarungan antara dua negara adidaya untuk supremasi teknologi di masa depan.
Saham Nvidia pun langsung anjlok 1,4% sesaat setelah pengumuman tersebut.
Konteks Aksi Saling Balas
Langkah dramatis China ini adalah puncak dari serangkaian aksi saling "pukul" yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.Pukulan Pertama dari AS: Jumat lalu, pemerintahan Presiden Donald Trump memasukkan dua produsen chip China, GMC Semiconductor Technology Co. dan Jicun Semiconductor Technology, ke dalam "Daftar Entitas" atau daftar hitam perdagangan.
'Gula-gula' dari AS: Namun bulan sebelumnya, Trump justru menawarkan "gula-gula" yang kontroversial. Ia menyetujui kesepakatan yang mengizinkan Nvidia dan AMD untuk kembali menjual "versi sunat" dari chip AI canggih mereka (seperti Nvidia H20) ke China, dengan syarat mereka membayar "pajak" sebesar 15% dari pendapatan penjualan tersebut ke pemerintah AS.
Pukulan Balasan dari China: Tuduhan anti-monopoli terhadap Nvidia kini menjadi jawaban telak dari Beijing. Tuduhan ini terkait dengan akuisisi Nvidia terhadap perancang chip asal Israel, Mellanox Technologies, pada 2020.
Meskipun investigasinya masih bersifat "pendahuluan", ini adalah sebuah tembakan peringatan yang sangat serius.
Ironi Chip H20 dan Misteri 'DeepSeek'
Di jantung konflik ini ada sebuah chip bernama Nvidia H20. Chip ini diciptakan Nvidia secara khusus sebagai "versi sunat" untuk mengakali larangan ekspor AS sebelumnya, demi mempertahankan akses ke pasar China yang menyumbang 13% dari total pendapatan mereka pada 2024.Ironisnya, bahkan jika AS kini mengizinkan penjualannya, belum tentu China mau membelinya secara resmi karena adanya kekhawatiran keamanan terhadap chip yang "dilemahkan".
Namun, ironi terbesarnya adalah: China kemungkinan besar sudah memiliki chip-chip canggih ini melalui pasar gelap.
Kemunculan model AI China yang sangat maju, "DeepSeek," awal tahun ini telah mengguncang Silicon Valley dan menjadi bukti kuat bahwa para peneliti di China telah memiliki perangkat keras yang mereka butuhkan.
Nvidia Terjepit di Tengah Pertarungan Gajah
Pada akhirnya, Nvidia kini berada dalam posisi yang sangat sulit, terjepit di antara dua kepentingan raksasa. Di satu sisi, pemerintah AS menggunakannya sebagai alat diplomasi dan sumber pendapatan baru. Di sisi lain, pemerintah China kini menjadikannya sebagai alat pembalasan yang kuat.Nasib Nvidia di China kini bukan lagi sekadar urusan bisnis. Ia telah menjadi barometer bagi panas-dinginnya hubungan AS-China. Setiap langkah dalam investigasi anti-monopoli di Beijing akan diawasi dengan cermat oleh seluruh dunia, karena ia akan menjadi pertanda ke mana arah angin "Perang Chip" global ini akan berhembusselanjutnya.
(dan)
Lihat Juga :