NASA Larang Warga China ke Bulan, Persaingan Antariksa Kian Memanas
Jum'at, 12 September 2025 - 07:14 WIB
loading...
NASA Larang Warga China ke Bulan. FOTO/ NASA
A
A
A
LONDON - NASA Larang Warga China ke Bulan, Persaingan Antariksa Kian Memanas
WASHINGTON: Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA) telah mengambil langkah drastis, dengan melarang warga negara China untuk berpartisipasi dalam program dan fasilitas penelitian NASA.
Bloomberg melaporkan bahwa sekelompok peneliti dan mahasiswa Tiongkok baru mengetahui pembatasan tersebut pada 5 September ketika akses mereka ke sistem dan fasilitas NASA dicabut tanpa pemberitahuan sebelumnya.
NASA kemudian mengonfirmasi hal tersebut, dengan alasan bahwa pembatasan tersebut dimaksudkan untuk "memastikan keselamatan kerja" termasuk membatasi penggunaan fasilitas, materi, dan jaringan NASA oleh warga negara China.
Tindakan ini memperlebar kesenjangan kerja sama ilmiah antara Washington dan Beijing, yang semakin melebar karena masalah keamanan nasional.
Tiongkok sebelumnya telah dilarang berpartisipasi dalam Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) setelah Washington melarang NASA berbagi data dengan Beijing.
Langkah terbaru NASA ini dipandang meningkatkan ketegangan dalam persaingan teknologi antara dua negara adidaya dunia, terutama di sektor sains dan antariksa.
Dalam beberapa tahun terakhir, mahasiswa China, terutama di bidang sains dan teknologi, juga menghadapi kesulitan dalam mendapatkan visa, dan beberapa bahkan diblokir untuk memasuki Amerika Serikat meskipun mereka telah mendapatkan visa.
Lebih parah lagi, beberapa kasus spionase yang melibatkan warga negara China juga telah dilaporkan di Amerika Serikat, yang menyebabkan para ilmuwan di negara tersebut sering berada di bawah pengawasan pihak berwenang.
Juru bicara NASA, Bethany Stevens, mengonfirmasi tindakan internal tersebut, termasuk membatasi akses fisik dan siber warga negara Tiongkok ke fasilitas-fasilitas badan tersebut.
Dalam konferensi pers terpisah, Penjabat Administrator NASA, Sean Duffy, menekankan bahwa Amerika Serikat kini berada dalam "perlombaan antariksa kedua" dengan China.
.
"China ingin kembali ke bulan sebelum kita. Itu tidak akan terjadi," tegasnya.
Tiongkok sebelumnya telah menepis kekhawatiran Amerika sebagai "tidak perlu", dan justru menggambarkan eksplorasi antariksa sebagai misi kolektif untuk kemanusiaan universal.
Namun, di Washington, kekhawatiran tentang aspirasi Beijing semakin jelas. AS, melalui program Artemis, menargetkan pendaratan pada tahun 2027, tetapi menghadapi penundaan dan biaya yang melonjak.
Di sisi lain, China menargetkan pendaratan astronot atau 'taikonaut' pada tahun 2030 dan sejauh ini berhasil sesuai jadwal.
Dalam sidang Senat pekan lalu, Senator Republik Ted Cruz menekankan bahwa kegagalan Amerika dalam menguasai teknologi antariksa akan menimbulkan risiko besar bagi keamanan nasional.
Persaingan ini bukan hanya tentang misi ke bulan, tetapi juga melibatkan siapa yang akan mengendalikan sumber daya berharga di satelit alami Bumi tersebut.
Bulan dikenal kaya akan berbagai mineral termasuk tanah jarang, logam seperti besi dan titanium, serta helium, yang penting dalam produksi superkonduktor hingga peralatan medis.
WASHINGTON: Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA) telah mengambil langkah drastis, dengan melarang warga negara China untuk berpartisipasi dalam program dan fasilitas penelitian NASA.
Bloomberg melaporkan bahwa sekelompok peneliti dan mahasiswa Tiongkok baru mengetahui pembatasan tersebut pada 5 September ketika akses mereka ke sistem dan fasilitas NASA dicabut tanpa pemberitahuan sebelumnya.
NASA kemudian mengonfirmasi hal tersebut, dengan alasan bahwa pembatasan tersebut dimaksudkan untuk "memastikan keselamatan kerja" termasuk membatasi penggunaan fasilitas, materi, dan jaringan NASA oleh warga negara China.
Tindakan ini memperlebar kesenjangan kerja sama ilmiah antara Washington dan Beijing, yang semakin melebar karena masalah keamanan nasional.
Tiongkok sebelumnya telah dilarang berpartisipasi dalam Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) setelah Washington melarang NASA berbagi data dengan Beijing.
Langkah terbaru NASA ini dipandang meningkatkan ketegangan dalam persaingan teknologi antara dua negara adidaya dunia, terutama di sektor sains dan antariksa.
Dalam beberapa tahun terakhir, mahasiswa China, terutama di bidang sains dan teknologi, juga menghadapi kesulitan dalam mendapatkan visa, dan beberapa bahkan diblokir untuk memasuki Amerika Serikat meskipun mereka telah mendapatkan visa.
Lebih parah lagi, beberapa kasus spionase yang melibatkan warga negara China juga telah dilaporkan di Amerika Serikat, yang menyebabkan para ilmuwan di negara tersebut sering berada di bawah pengawasan pihak berwenang.
Juru bicara NASA, Bethany Stevens, mengonfirmasi tindakan internal tersebut, termasuk membatasi akses fisik dan siber warga negara Tiongkok ke fasilitas-fasilitas badan tersebut.
Dalam konferensi pers terpisah, Penjabat Administrator NASA, Sean Duffy, menekankan bahwa Amerika Serikat kini berada dalam "perlombaan antariksa kedua" dengan China.
.
"China ingin kembali ke bulan sebelum kita. Itu tidak akan terjadi," tegasnya.
Tiongkok sebelumnya telah menepis kekhawatiran Amerika sebagai "tidak perlu", dan justru menggambarkan eksplorasi antariksa sebagai misi kolektif untuk kemanusiaan universal.
Namun, di Washington, kekhawatiran tentang aspirasi Beijing semakin jelas. AS, melalui program Artemis, menargetkan pendaratan pada tahun 2027, tetapi menghadapi penundaan dan biaya yang melonjak.
Di sisi lain, China menargetkan pendaratan astronot atau 'taikonaut' pada tahun 2030 dan sejauh ini berhasil sesuai jadwal.
Dalam sidang Senat pekan lalu, Senator Republik Ted Cruz menekankan bahwa kegagalan Amerika dalam menguasai teknologi antariksa akan menimbulkan risiko besar bagi keamanan nasional.
Persaingan ini bukan hanya tentang misi ke bulan, tetapi juga melibatkan siapa yang akan mengendalikan sumber daya berharga di satelit alami Bumi tersebut.
Bulan dikenal kaya akan berbagai mineral termasuk tanah jarang, logam seperti besi dan titanium, serta helium, yang penting dalam produksi superkonduktor hingga peralatan medis.
(wbs)
Lihat Juga :