Korban Gas Air Mata Aksi Demo di Mako Brimob Kwitang dan Polda Berjatuhan, Ini Efeknya
Jum'at, 29 Agustus 2025 - 19:45 WIB
loading...
A
A
A
Melihat sejarahnya, penggunaan gas air mata bermula pada Perang Dunia I. Dikutip dari laman The Atlantic, pada Agustus 1914 tentara Prancis menembakkan granat gas air mata ke pasukan Jerman di sepanjang perbatasan.
Meski tidak jelas rincian terkait penggunaan pertama kali gas ini, namun para sejarawan menandai pertempuran perbatasan antara Prancis dan Jerman tersebut sebagai hari lahir dari gas air mata modern.
Awalnya, jenis gas ini dirancang ahli kimia Prancis. Kala itu, mereka sedang mengembangkan metode baru untuk pengendalian kerusuhan, sembari melakukan manuver dalam perjanjian internasional yang telah disepakati.
Adapun gas air mata ini digunakan untuk memaksa orang keluar dari balik barikade atau bentengnya. Gas ini membuat mata dan kulit orang yang terkena menjadi terasa panas dan seakan terbakar.
Selain serangan fisik, penggunaan gas air mata kala itu juga menjadi teror tersendiri. Amos Fries selaku Kepala Layanan Perang Kimia Angkatan Darat AS menyebut bahwa tentara akan lebih mudah mempertahankan moral dalam menghadapi peluru, daripada melawan gas yang tidak terlihat.
Selama beberapa dekade terakhir, penjualan gas air mata telah tumbuh secara substansial. Hal ini juga dipengaruhi mulai banyaknya gelombang kerusuhan sipil di belahan dunia. Sehingga menjadi para pemerintah negara membeli jenis senjata tak mematikan ini untuk digunakan sebagai penanggulangannya.
Meski tidak jelas rincian terkait penggunaan pertama kali gas ini, namun para sejarawan menandai pertempuran perbatasan antara Prancis dan Jerman tersebut sebagai hari lahir dari gas air mata modern.
Awalnya, jenis gas ini dirancang ahli kimia Prancis. Kala itu, mereka sedang mengembangkan metode baru untuk pengendalian kerusuhan, sembari melakukan manuver dalam perjanjian internasional yang telah disepakati.
Adapun gas air mata ini digunakan untuk memaksa orang keluar dari balik barikade atau bentengnya. Gas ini membuat mata dan kulit orang yang terkena menjadi terasa panas dan seakan terbakar.
Selain serangan fisik, penggunaan gas air mata kala itu juga menjadi teror tersendiri. Amos Fries selaku Kepala Layanan Perang Kimia Angkatan Darat AS menyebut bahwa tentara akan lebih mudah mempertahankan moral dalam menghadapi peluru, daripada melawan gas yang tidak terlihat.
Selama beberapa dekade terakhir, penjualan gas air mata telah tumbuh secara substansial. Hal ini juga dipengaruhi mulai banyaknya gelombang kerusuhan sipil di belahan dunia. Sehingga menjadi para pemerintah negara membeli jenis senjata tak mematikan ini untuk digunakan sebagai penanggulangannya.
Lihat Juga :