Gelombang Panas Ekstrem Picu Darurat Iklim Global

Selasa, 22 Juli 2025 - 07:50 WIB
loading...
Gelombang Panas Ekstrem...
Gelombang Panas Ekstrem . SCIENCE ALERT
A A A
ALASKA - Peringatan gelombang panas baru telah memicu kekhawatiran global karena negara-negara di Eropa dan Timur Tengah bergulat dengan panas ekstrem minggu ini, mendorong banyak negara untuk mengumumkan darurat iklim.

BACA JUGA - Gelombang Panas 'Apokaliptik' Menghanguskan Barat Daya AS

Seperti dilansir dari Xinhua, menurut Badan Meteorologi Nasional Iran, negara itu sedang mengalami minggu terpanas tahun ini, dengan suhu melebihi 50 derajat Celcius.

Di Teheran, suhu melonjak hingga 40 derajat pada hari Minggu.

Seiring berlanjutnya gelombang panas, otoritas air Teheran mendesak warga untuk mengurangi penggunaan air setidaknya 20 persen, memperingatkan bahwa tingkat bendungan yang memasok air ke ibu kota berada pada "tingkat terendah dalam satu abad."

Lebih dari 3.500 kilometer di sebelah barat Teheran, ibu kota Yunani, Athena, juga mengalami gelombang panas berkepanjangan pertamanya di musim panas tahun ini.

Massa udara hangat dari Afrika Utara tiba lebih awal dari biasanya dan membentuk "kubah panas" di atas Yunani dan Balkan, menyebabkan suhu naik hingga 10 derajat di atas rata-rata musiman, menurut Observatorium Nasional Yunani.

Suhu rata-rata diperkirakan mencapai 38 derajat Celcius minggu ini dan mencapai puncaknya di 44 derajat di beberapa wilayah.

Surat kabar harian nasional Yunani, The National Herald, menggambarkan kondisi tersebut sebagai "lebih panas dari neraka."

Kondisi yang sangat kering, diperparah oleh angin kencang, telah menyebabkan Yunani dilanda kebakaran hutan yang dahsyat.

Pada hari Kamis, petugas pemadam kebakaran berjuang memadamkan api di Pulau Kreta yang telah menghancurkan hutan dan kebun zaitun, memaksa lebih dari 1.000 orang dievakuasi.

Sementara itu, Turki mencatat 761 kebakaran hutan dalam 10 hari sejak 26 Juni. Kebakaran di sekitar provinsi barat Izmir merenggut nyawa seorang pria lanjut usia dan seorang pekerja departemen kehutanan.

Di seluruh Eropa, setidaknya delapan kematian akibat panas telah dilaporkan di beberapa negara, termasuk Spanyol dan Italia, karena benua itu terus dilanda gelombang panas ekstrem.

"Saat ini kita berada di bawah pengaruh sistem tekanan tinggi yang kuat; sistem ini memerangkap udara panas dari Afrika Utara ke wilayah ini. Seperti yang kita lihat, hal itu berdampak besar pada apa yang kita alami," kata Clare Nullis, juru bicara Organisasi Meteorologi Dunia.

Ia mengatakan orang-orang harus belajar hidup dengan gelombang panas yang lebih sering dan lebih intens akibat perubahan iklim.

Layanan Perubahan Iklim Copernicus yang didanai Uni Eropa mengatakan dalam sebuah artikel baru-baru ini bahwa "kerusakan lingkungan binaan akibat peristiwa cuaca ekstrem diperkirakan akan meningkat sepuluh kali lipat pada akhir abad ini semata-mata karena perubahan iklim."

Dampak iklim yang meluas ini menunjukkan pentingnya membangun ketahanan yang lebih besar, ujarnya, termasuk melalui langkah-langkah fisik dan teknologi seperti daur ulang air, pengumpulan air hujan dan air limbah, desain bangunan berketahanan iklim, pemetaan risiko, dan sistem peringatan dini.

"Adaptasi diperlukan di semua sektor dan tingkat pemerintahan, dan tindakan harus mengatasi dampak iklim saat ini serta melindungi dari risiko di masa mendatang," demikian menurut laporan tersebut.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Fenomena Titik Dingin...
Fenomena Titik Dingin Atlantik Utara Terdeteksi, Tanda-tanda Bumi Sekarat Kian Nyata
Kuburan Paus Terbesar...
Kuburan Paus Terbesar dalam Sejarah Ditemukan di dasar Samudra Hindia
Iran Temukan Pangkalan...
Iran Temukan Pangkalan Angkatan Laut Berusia 2.000 Tahun di Selat Hormuz
Menganalisis Kekuatan...
Menganalisis Kekuatan Pesawat Su-35 dan Rafale setelah Pertemuan di Laut Baltik
Gerhana Matahari Total...
Gerhana Matahari Total Terlama Abad Ini Akan Segera Terjadi
Ilmuwan Pastikan AI...
Ilmuwan Pastikan AI Belum Bisa Kalahkan Teori Soal Iklim
Lithuania Siap Luncurkan...
Lithuania Siap Luncurkan Mobil yang Bisa Berubah Jadi Robot
Audi Nuvolari Spyder...
Audi Nuvolari Spyder versi Konvertibel Akan segera Diluncurkan
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Rekomendasi
KPU Kaji Penerapan E-Voting...
KPU Kaji Penerapan E-Voting untuk Pemilu di Luar Negeri, Ini Alasannya
Bek Arab Saudi Abdulelah...
Bek Arab Saudi Abdulelah al-Amri Koyak Gawang Uruguay di Babak Pertama
Akui Program Pemerintah...
Akui Program Pemerintah Banyak Kekurangan, Wapres Gibran: Kita Perbaiki Bersama
Berita Terkini
Meta Akui Kesalahan...
Meta Akui Kesalahan dalam Restrukturisasi AI
Mau Traveling Keluarga...
Mau Traveling Keluarga Lebih Menyenangkan? Ikuti 5 Tips ala Tika Nurjanah
Beda Jauh dengan GPS,...
Beda Jauh dengan GPS, Kenapa AirTag dan Smart Tag Sering Telat Update Lokasi?
Di Balik Pemblokiran...
Di Balik Pemblokiran AI Tercanggih Anthropic Fable 5: Berantem dengan Pemerintah AS
Ridho Sadewo Bongkar...
Ridho Sadewo Bongkar 7 Strategi Free Fire yang Bikin Peluang Booyah Lebih Besar
Selebriti Pakai Earphone...
Selebriti Pakai Earphone Kabel, Pasar IEM Chi-Fi Diam-Diam Meledak
Infografis
Aktivitas Gempa Bumi...
Aktivitas Gempa Bumi Bisa Dipengaruhi Panas Matahari
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved