Banjir Pelatihan tapi Data Gelap: Komdigi Mengaku Tak Tahu Jumlah Pasti Talenta Digital Indonesia
Sabtu, 21 Juni 2025 - 08:13 WIB
loading...
A
A
A
Pernyataan "tapi ini lagi proses" adalah sebuah pengakuan yang sangat jujur, sekaligus menohok. Ini berarti, selama bertahun-tahun program ini berjalan, kita seolah berperang dalam kegelapan.
"Komdigi itu sebagai hub-nya untuk menerima berbagai bantuan terkait pelatihan-pelatihan digital, sehingga nanti kami distribusikan ataupun mereka juga silakan berhubungan langsung dengan kampus atau perusahaan pihak ketiga di Indonesia," ujar Boni.
Ini adalah sebuah langkah yang sangat penting, meskipun mungkin terasa sedikit terlambat. Dengan menjadi pusat data, pemerintah akhirnya bisa memetakan kekuatan dan kelemahan sumber daya manusia digital kita secara akurat, lalu menyalurkan para talenta yang telah tersertifikasi ini ke industri atau kampus yang membutuhkan.
Pada akhirnya, rencana Komdigi untuk menjadi pusat data adalah sebuah kabar baik. Namun, ini juga menjadi pengingat yang keras. Di tengah ambisi besar untuk menjadi raksasa ekonomi digital, fondasi paling dasar—yaitu data yang akurat—justru baru akan dibangun sekarang. Pertanyaannya kini adalah, mampukah kita mengejar ketertinggalan dan membenahi "catatan" kita, sebelum bom waktu krisis talenta ini benar-benarmeledak?
Komdigi Siap Jadi 'Rumah' Baru Data
Menyadari adanya kekacauan data ini, Komdigi kini bersiap untuk mengambil peran baru yang sangat krusial. Mereka akan memposisikan diri sebagai "hub" atau pusat penghubung utama untuk semua kegiatan pelatihan talenta digital di Indonesia."Komdigi itu sebagai hub-nya untuk menerima berbagai bantuan terkait pelatihan-pelatihan digital, sehingga nanti kami distribusikan ataupun mereka juga silakan berhubungan langsung dengan kampus atau perusahaan pihak ketiga di Indonesia," ujar Boni.
Ini adalah sebuah langkah yang sangat penting, meskipun mungkin terasa sedikit terlambat. Dengan menjadi pusat data, pemerintah akhirnya bisa memetakan kekuatan dan kelemahan sumber daya manusia digital kita secara akurat, lalu menyalurkan para talenta yang telah tersertifikasi ini ke industri atau kampus yang membutuhkan.
Bom Waktu yang Terus Berdetak
Urgensi dari pembenahan data ini terasa semakin mendesak jika kita melihat angka. Pada tahun 2023 saja, Indonesia sudah kekurangan lebih dari 4,4 juta talenta digital. Dengan target baru sebesar 12 juta orang pada tahun 2030, setiap detik menjadi sangat berharga.Pada akhirnya, rencana Komdigi untuk menjadi pusat data adalah sebuah kabar baik. Namun, ini juga menjadi pengingat yang keras. Di tengah ambisi besar untuk menjadi raksasa ekonomi digital, fondasi paling dasar—yaitu data yang akurat—justru baru akan dibangun sekarang. Pertanyaannya kini adalah, mampukah kita mengejar ketertinggalan dan membenahi "catatan" kita, sebelum bom waktu krisis talenta ini benar-benarmeledak?
(dan)
Lihat Juga :