Keberadaan Tembok Misterius di Bawah Laut Teluk Mecklenburg Masih Jadi Teka-teki
Selasa, 17 Juni 2025 - 07:13 WIB
loading...
A
A
A
Bentuk dan pola penyusunan seperti ini tidak mungkin terjadi secara alami—tidak bisa dijelaskan oleh gerakan gletser, arus sungai, maupun gelombang laut.
Yang lebih mencengangkan, batu-batu terbesar ditemukan pada titik-titik pemutusan dinding, seolah-olah sengaja ditempatkan untuk mengarahkan atau menghalangi pergerakan hewan. Hal ini memperkuat bukti bahwa Blinkerwall adalah struktur buatan manusia.
Analisis sedimen dasar laut dan data geologis menunjukkan bahwa tembok ini dibangun sebelum permukaan laut naik, lebih dari 8.500 tahun yang lalu, sebelum akhirnya terendam akibat fenomena “invasi Littorina” kenaikan permukaan laut yang terjadi pada zaman Holosen.
Letak tembok ini pun sejajar dengan garis pantai kuno, di area yang diduga menjadi jalur migrasi hewan seperti rusa kutub.
Tim peneliti menekankan, membangun struktur sepanjang hampir satu kilometer di kawasan utara Jerman yang kala itu sangat jarang penduduk, adalah bukti nyata akan kerja sama kolektif dalam skala besar demi kelangsungan hidup.
Diperkirakan, satu komunitas pemburu-pengumpul saat itu hanya terdiri dari sekitar 40–45 orang, dengan total populasi regional hanya sekitar seribu jiwa.
Yang lebih mencengangkan, batu-batu terbesar ditemukan pada titik-titik pemutusan dinding, seolah-olah sengaja ditempatkan untuk mengarahkan atau menghalangi pergerakan hewan. Hal ini memperkuat bukti bahwa Blinkerwall adalah struktur buatan manusia.
Analisis sedimen dasar laut dan data geologis menunjukkan bahwa tembok ini dibangun sebelum permukaan laut naik, lebih dari 8.500 tahun yang lalu, sebelum akhirnya terendam akibat fenomena “invasi Littorina” kenaikan permukaan laut yang terjadi pada zaman Holosen.
Letak tembok ini pun sejajar dengan garis pantai kuno, di area yang diduga menjadi jalur migrasi hewan seperti rusa kutub.
Tim peneliti menekankan, membangun struktur sepanjang hampir satu kilometer di kawasan utara Jerman yang kala itu sangat jarang penduduk, adalah bukti nyata akan kerja sama kolektif dalam skala besar demi kelangsungan hidup.
Diperkirakan, satu komunitas pemburu-pengumpul saat itu hanya terdiri dari sekitar 40–45 orang, dengan total populasi regional hanya sekitar seribu jiwa.
Lihat Juga :