TPA Bisa Pensiun? Terungkap Teknologi Sakti yang Sulap Sampah Mal Jakarta Jadi Bahan Bakar
Senin, 16 Juni 2025 - 11:04 WIB
loading...
Jangjo, sebuah startup teknologi, melalui kampanye Junk Revolution mereka, secara harfiah mengubah sampah menjadi energi, dengan bantuan larva dan pabrik semen. Foto: Jangjo
A
A
A
JAKARTA - Bayangkan sebuah kantong sampah dari food court di mal paling mewah di Jakarta. Biasanya, nasibnya sudah bisa ditebak: berakhir di sebuah truk, menempuh perjalanan panjang, lalu 'dikubur' selamanya di gunungan sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kian mengkhawatirkan.
Namun, di tengah kepungan masalah sampah ibu kota, sebuah "pemberontakan" teknologi kini menawarkan nasib baru yang radikal bagi sisa makanan dan plastik yang kita buang.
Jangjo, sebuah startup teknologi, melalui kampanye "Junk Revolution" mereka, secara harfiah mengubah sampah menjadi energi, dengan bantuan larva dan pabrik semen.
Ini bukan lagi sekadar wacana daur ulang. Ini adalah sebuah sistem terintegrasi yang memaksa kita untuk bertanya: jika sampah dari satu mal saja bisa diolah habis, mengapa TPA kita masih terus menggunung?
"Melalui Junk Revolution, Plaza Indonesia berharap dapat berkontribusi dan mendorong keterlibatan aktif seluruh elemen dalam praktik memilah dan mendaur ulang sampah sehari-hari,” ujar Marco Kuhuwael, General Manager Plaza Indonesia.
Setelah dipilah, sampah-sampah ini memulai perjalanannya yang luar biasa:
Sampah Bernilai (Botol Plastik, Kardus, dll.): Ini adalah jalur konvensional. Sampah-sampah ini akan masuk ke industri daur ulang untuk diolah menjadi produk baru.
Sampah Makanan (Sisa Makanan, Kulit Buah): Di sinilah keajaiban pertama dimulai. Sampah organik ini tidak dibuang, melainkan "dihidangkan" sebagai pakan bagi larva Black Soldier Fly (Maggot) oleh perusahaan spesialis Magalarva.
"Semua masalah akan terasa lebih ringan kalau dilakukan secara bergotong royong," ujar Rendria Labde, Founder & CEO Magalarva, menekankan pentingnya kolaborasi dalam rantai ini.
Sampah Residu (Plastik Saset, Kemasan Kotor): Inilah sampah "laknat" yang biasanya langsung menuju TPA. Namun, di tangan Jangjo, sampah ini justru menjadi yang paling berharga. Mereka diolah menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF), sebuah bahan bakar alternatif padat yang memiliki kalori tinggi.
"Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat rantai pasok RDF yang berkelanjutan, tetapi juga menunjukkan kepercayaan industri besar terhadap solusi yang ditawarkan oleh startup lokal seperti Jangjo,” tambah Soegito Kurniawan, GM Procurement & AFAM Indocement.
Ini adalah sebuah simbiosis yang sempurna. Sampah yang tadinya menjadi beban lingkungan, kini diubah menjadi sumber energi yang mendukung industri berat dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Dengan sistem ini, Jangjo mengklaim mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA hingga 90%. "Kami optimis dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA hingga 90%," tegas Joe Hansen, Co-founder & CEO Jangjo.
Tentu, ini baru langkah awal yang diterapkan di beberapa titik di Jakarta. Namun, keberhasilannya menjadi tamparan keras sekaligus secercah harapan. Jika mal-mal mewah saja bisa, mengapa kita tidak bisa menerapkannya dalam skala kota atau bahkannasional?
Namun, di tengah kepungan masalah sampah ibu kota, sebuah "pemberontakan" teknologi kini menawarkan nasib baru yang radikal bagi sisa makanan dan plastik yang kita buang.
Jangjo, sebuah startup teknologi, melalui kampanye "Junk Revolution" mereka, secara harfiah mengubah sampah menjadi energi, dengan bantuan larva dan pabrik semen.
Ini bukan lagi sekadar wacana daur ulang. Ini adalah sebuah sistem terintegrasi yang memaksa kita untuk bertanya: jika sampah dari satu mal saja bisa diolah habis, mengapa TPA kita masih terus menggunung?
Alur 'Ajaib' Sampah: Dari Meja Makan ke Mesin Produksi
Kunci dari revolusi ini terletak pada sistem pengolahan sampah yang dipikirkan secara matang dari hulu ke hilir. Jangjo tidak hanya mengangkut sampah, mereka mendikte bagaimana sampah itu harus diperlakukan sejak dari sumbernya di mal-mal elit seperti Plaza Indonesia dan Kota Kasablanka."Melalui Junk Revolution, Plaza Indonesia berharap dapat berkontribusi dan mendorong keterlibatan aktif seluruh elemen dalam praktik memilah dan mendaur ulang sampah sehari-hari,” ujar Marco Kuhuwael, General Manager Plaza Indonesia.
Setelah dipilah, sampah-sampah ini memulai perjalanannya yang luar biasa:
Sampah Bernilai (Botol Plastik, Kardus, dll.): Ini adalah jalur konvensional. Sampah-sampah ini akan masuk ke industri daur ulang untuk diolah menjadi produk baru.
Sampah Makanan (Sisa Makanan, Kulit Buah): Di sinilah keajaiban pertama dimulai. Sampah organik ini tidak dibuang, melainkan "dihidangkan" sebagai pakan bagi larva Black Soldier Fly (Maggot) oleh perusahaan spesialis Magalarva.
"Semua masalah akan terasa lebih ringan kalau dilakukan secara bergotong royong," ujar Rendria Labde, Founder & CEO Magalarva, menekankan pentingnya kolaborasi dalam rantai ini.
Sampah Residu (Plastik Saset, Kemasan Kotor): Inilah sampah "laknat" yang biasanya langsung menuju TPA. Namun, di tangan Jangjo, sampah ini justru menjadi yang paling berharga. Mereka diolah menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF), sebuah bahan bakar alternatif padat yang memiliki kalori tinggi.
Puncak Revolusi: Sampah Menggantikan Batu Bara
Lalu, ke mana perginya RDF ini? Inilah puncak dari revolusi tersebut. RDF yang dihasilkan dari sampah mal ini akan dibeli dan digunakan oleh raksasa industri PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. sebagai pengganti batu bara dalam proses produksi semen mereka."Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat rantai pasok RDF yang berkelanjutan, tetapi juga menunjukkan kepercayaan industri besar terhadap solusi yang ditawarkan oleh startup lokal seperti Jangjo,” tambah Soegito Kurniawan, GM Procurement & AFAM Indocement.
Ini adalah sebuah simbiosis yang sempurna. Sampah yang tadinya menjadi beban lingkungan, kini diubah menjadi sumber energi yang mendukung industri berat dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Dengan sistem ini, Jangjo mengklaim mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA hingga 90%. "Kami optimis dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA hingga 90%," tegas Joe Hansen, Co-founder & CEO Jangjo.
Sebuah Cetak Biru untuk Masa Depan?
Inisiatif "Junk Revolution" ini lebih dari sekadar kampanye. Ini adalah sebuah proof-of-concept, sebuah bukti nyata bahwa dengan teknologi yang tepat dan kolaborasi lintas sektor, masalah sampah yang terlihat mustahil sebenarnya bisa diatasi.Tentu, ini baru langkah awal yang diterapkan di beberapa titik di Jakarta. Namun, keberhasilannya menjadi tamparan keras sekaligus secercah harapan. Jika mal-mal mewah saja bisa, mengapa kita tidak bisa menerapkannya dalam skala kota atau bahkannasional?
(dan)
Lihat Juga :