Pendidikan Iklim Sejak Dini: Italia Wajibkan, Indonesia Baru Punya Oase di Semarang
Jum'at, 13 Juni 2025 - 10:39 WIB
loading...
Program OASIS Schoolyards di Semarang sukses mengajarkan anak-anak soal perubahan iklim. Foto: ist
A
A
A
SEMARANG - Di saat para pemimpin dunia berdebat soal kebijakan iklim yang rumit, sebuah "laboratorium hidup" yang sunyi namun revolusioner justru lahir di halaman-halaman sekolah dasar di Semarang.
Program OASIS Schoolyards yang baru saja tuntas ini bukan sekadar proyek penghijauan biasa. Ini jadi tamparan keras, sebuah pengingat bahwa musuh terbesar generasi mendatang bukanlah perang, melainkan planet yang semakin murka.
Selama sembilan bulan, lima sekolah dasar dan madrasah di pesisir Semarang, yang setiap hari hidup di bawah ancaman banjir rob dan gelombang panas, diubah menjadi benteng pertahanan iklim. Namun, benteng ini tidak dibangun dari beton, melainkan dari pengetahuan yang ditanamkan di benak anak-anak usia dini.
Ancaman Nyata di Depan Mata Anak-Anak
“UNESCO menyoroti bahwa krisis terbesar dunia adalah perubahan iklim, bukan perang. Sehingga pendidikan perubahan iklim adalah prioritas utama," ungkap Ananto Kusuma Seta, Koordinator Nasional Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan dari Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO.
Pernyataan ini bukan lagi teori. Di Indonesia, ancaman itu sudah berada di depan gerbang sekolah. "Saat ini 73% sekolah di Indonesia berada di area rawan banjir," tambah Ananto.
Melihat fakta mengerikan ini, apa yang dilakukan di Semarang terasa seperti sebuah tindakan penyelamatan yang mendesak. Melalui program kolaborasi antara Pemkot Semarang, MilkLife, dan Resilient Cities Network ini, sekolah yang tadinya rentan kini menjadi "rumah kedua" yang mengajarkan cara bertahan hidup. "Semarang sudah ‘membeli’ masa depan dengan harga sekarang,” puji Ananto.
Dari Ruang Kelas ke Halaman Sekolah: Resep Semarang
Bagaimana cara Semarang "membeli masa depan" itu? Resepnya adalah dengan mengubah pendidikan dari sekadar teori di dalam kelas menjadi praktik nyata di halaman sekolah.
Sebanyak 29 modul ajar tentang perubahan iklim dikembangkan dan diintegrasikan ke dalam kurikulum. Para siswa tidak hanya mendengar tentang sampah dan air, tetapi mereka diajarkan langsung cara mengelolanya melalui SOP yang jelas. Halaman sekolah yang tadinya gersang, kini disulap menjadi ruang terbuka hijau multifungsi yang dirancang bersama oleh siswa, guru, dan orang tua.
Hasilnya? Sebanyak 82% guru melaporkan peningkatan signifikan dalam cara mereka mengajar tentang iklim, dan 59% merasa jauh lebih percaya diri.
"Harapannya ke depan sekolah dan madrasah yang ada di Kota Semarang benar-benar bisa menjadi oase bagi padatnya kota," ujar Kepala Bappeda Kota Semarang, Budi Prakosa. Ia melihat program ini sebagai pondasi awal yang kuat untuk menginspirasi masyarakat yang lebih luas.
Baca Juga: Aktivis Iklim Greta Thunberg akan Gabung Kapal Bantuan untuk Jebol Blokade Gaza
Namun, di saat negara-negara maju seperti Italia telah mewajibkan pendidikan perubahan iklim dalam kurikulum nasional sejak 2019, Indonesia masih bergerak sporadis. Inisiatif seperti di Semarang adalah sebuah cahaya, tetapi masih menjadi sebuah "oase" di tengah gurun kebijakan nasional yang belum terintegrasi.
"Program OASIS Schoolyards membuktikan bahwa tindakan kecil dapat berdampak besar ketika menjadi budaya bersama," kata Vanessa Ingrid Pamela, Group Brand Head MilkLife. "Namun, tantangan perubahan iklim masih sangat luas dan kompleks, membutuhkan keterlibatan lebihbanyakpihak."
Program OASIS Schoolyards yang baru saja tuntas ini bukan sekadar proyek penghijauan biasa. Ini jadi tamparan keras, sebuah pengingat bahwa musuh terbesar generasi mendatang bukanlah perang, melainkan planet yang semakin murka.
Selama sembilan bulan, lima sekolah dasar dan madrasah di pesisir Semarang, yang setiap hari hidup di bawah ancaman banjir rob dan gelombang panas, diubah menjadi benteng pertahanan iklim. Namun, benteng ini tidak dibangun dari beton, melainkan dari pengetahuan yang ditanamkan di benak anak-anak usia dini.
Ancaman Nyata di Depan Mata Anak-Anak
![Pendidikan Iklim Sejak Dini: Italia Wajibkan, Indonesia Baru Punya Oase di Semarang]()
“UNESCO menyoroti bahwa krisis terbesar dunia adalah perubahan iklim, bukan perang. Sehingga pendidikan perubahan iklim adalah prioritas utama," ungkap Ananto Kusuma Seta, Koordinator Nasional Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan dari Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO.
Pernyataan ini bukan lagi teori. Di Indonesia, ancaman itu sudah berada di depan gerbang sekolah. "Saat ini 73% sekolah di Indonesia berada di area rawan banjir," tambah Ananto.
Melihat fakta mengerikan ini, apa yang dilakukan di Semarang terasa seperti sebuah tindakan penyelamatan yang mendesak. Melalui program kolaborasi antara Pemkot Semarang, MilkLife, dan Resilient Cities Network ini, sekolah yang tadinya rentan kini menjadi "rumah kedua" yang mengajarkan cara bertahan hidup. "Semarang sudah ‘membeli’ masa depan dengan harga sekarang,” puji Ananto.
Dari Ruang Kelas ke Halaman Sekolah: Resep Semarang
![Pendidikan Iklim Sejak Dini: Italia Wajibkan, Indonesia Baru Punya Oase di Semarang]()
Bagaimana cara Semarang "membeli masa depan" itu? Resepnya adalah dengan mengubah pendidikan dari sekadar teori di dalam kelas menjadi praktik nyata di halaman sekolah.
Sebanyak 29 modul ajar tentang perubahan iklim dikembangkan dan diintegrasikan ke dalam kurikulum. Para siswa tidak hanya mendengar tentang sampah dan air, tetapi mereka diajarkan langsung cara mengelolanya melalui SOP yang jelas. Halaman sekolah yang tadinya gersang, kini disulap menjadi ruang terbuka hijau multifungsi yang dirancang bersama oleh siswa, guru, dan orang tua.
Hasilnya? Sebanyak 82% guru melaporkan peningkatan signifikan dalam cara mereka mengajar tentang iklim, dan 59% merasa jauh lebih percaya diri.
"Harapannya ke depan sekolah dan madrasah yang ada di Kota Semarang benar-benar bisa menjadi oase bagi padatnya kota," ujar Kepala Bappeda Kota Semarang, Budi Prakosa. Ia melihat program ini sebagai pondasi awal yang kuat untuk menginspirasi masyarakat yang lebih luas.
Indonesia Belajar dari Semarang, tapi Apakah Cukup Cepat?
Program OASIS ini berhasil memadukan praktik terbaik global dengan kearifan lokal. "Salah satu aspek krusial adalah memadukan praktik global dari Paris dengan kekuatan lokal Indonesia, termasuk mengintegrasi dengan program sekolah Adiwiyata," jelas Nini Purwajati dari R-Cities Asia-Pasifik.Baca Juga: Aktivis Iklim Greta Thunberg akan Gabung Kapal Bantuan untuk Jebol Blokade Gaza
Namun, di saat negara-negara maju seperti Italia telah mewajibkan pendidikan perubahan iklim dalam kurikulum nasional sejak 2019, Indonesia masih bergerak sporadis. Inisiatif seperti di Semarang adalah sebuah cahaya, tetapi masih menjadi sebuah "oase" di tengah gurun kebijakan nasional yang belum terintegrasi.
"Program OASIS Schoolyards membuktikan bahwa tindakan kecil dapat berdampak besar ketika menjadi budaya bersama," kata Vanessa Ingrid Pamela, Group Brand Head MilkLife. "Namun, tantangan perubahan iklim masih sangat luas dan kompleks, membutuhkan keterlibatan lebihbanyakpihak."
(dan)
Lihat Juga :