Pendidikan Iklim Sejak Dini: Italia Wajibkan, Indonesia Baru Punya Oase di Semarang
Jum'at, 13 Juni 2025 - 10:39 WIB
loading...
A
A
A
Melihat fakta mengerikan ini, apa yang dilakukan di Semarang terasa seperti sebuah tindakan penyelamatan yang mendesak. Melalui program kolaborasi antara Pemkot Semarang, MilkLife, dan Resilient Cities Network ini, sekolah yang tadinya rentan kini menjadi "rumah kedua" yang mengajarkan cara bertahan hidup. "Semarang sudah ‘membeli’ masa depan dengan harga sekarang,” puji Ananto.
Dari Ruang Kelas ke Halaman Sekolah: Resep Semarang
Bagaimana cara Semarang "membeli masa depan" itu? Resepnya adalah dengan mengubah pendidikan dari sekadar teori di dalam kelas menjadi praktik nyata di halaman sekolah.
Sebanyak 29 modul ajar tentang perubahan iklim dikembangkan dan diintegrasikan ke dalam kurikulum. Para siswa tidak hanya mendengar tentang sampah dan air, tetapi mereka diajarkan langsung cara mengelolanya melalui SOP yang jelas. Halaman sekolah yang tadinya gersang, kini disulap menjadi ruang terbuka hijau multifungsi yang dirancang bersama oleh siswa, guru, dan orang tua.
Hasilnya? Sebanyak 82% guru melaporkan peningkatan signifikan dalam cara mereka mengajar tentang iklim, dan 59% merasa jauh lebih percaya diri.
"Harapannya ke depan sekolah dan madrasah yang ada di Kota Semarang benar-benar bisa menjadi oase bagi padatnya kota," ujar Kepala Bappeda Kota Semarang, Budi Prakosa. Ia melihat program ini sebagai pondasi awal yang kuat untuk menginspirasi masyarakat yang lebih luas.
Dari Ruang Kelas ke Halaman Sekolah: Resep Semarang
![Pendidikan Iklim Sejak Dini: Italia Wajibkan, Indonesia Baru Punya Oase di Semarang]()
Bagaimana cara Semarang "membeli masa depan" itu? Resepnya adalah dengan mengubah pendidikan dari sekadar teori di dalam kelas menjadi praktik nyata di halaman sekolah.
Sebanyak 29 modul ajar tentang perubahan iklim dikembangkan dan diintegrasikan ke dalam kurikulum. Para siswa tidak hanya mendengar tentang sampah dan air, tetapi mereka diajarkan langsung cara mengelolanya melalui SOP yang jelas. Halaman sekolah yang tadinya gersang, kini disulap menjadi ruang terbuka hijau multifungsi yang dirancang bersama oleh siswa, guru, dan orang tua.
Hasilnya? Sebanyak 82% guru melaporkan peningkatan signifikan dalam cara mereka mengajar tentang iklim, dan 59% merasa jauh lebih percaya diri.
"Harapannya ke depan sekolah dan madrasah yang ada di Kota Semarang benar-benar bisa menjadi oase bagi padatnya kota," ujar Kepala Bappeda Kota Semarang, Budi Prakosa. Ia melihat program ini sebagai pondasi awal yang kuat untuk menginspirasi masyarakat yang lebih luas.
Lihat Juga :