Penduduk Tibet Tunjukkan Bagaimana Manusia Berevolusi hingga Saat Ini
Senin, 26 Mei 2025 - 21:04 WIB
loading...
Manusia purba berburu. Foto/ IFL SCIENCE
A
A
A
TIBET - Manusia masih berevolusi , seperti yang ditunjukkan oleh komunitas di Dataran Tinggi Tibet yang telah mengembangkan adaptasi unik yang membantu mereka berkembang di dataran tinggi dengan udara tipis dan kadar oksigen rendah selama lebih dari 10.000 tahun.
BACA JUGA - 3 Revolusi Teknologi yang Bakal Mengubah Cara Manusia Menjalani Hidup
Selama ribuan tahun, manusia telah mengembangkan berbagai adaptasi untuk bertahan hidup di lingkungan planet kita , seperti pigmentasi kulit, yang membantu melindungi dari radiasi ultraviolet (UV).
Adaptasi masih terus dilakukan, khususnya di wilayah Dataran Tinggi Tibet, yang dijuluki sebagai “Atap Dunia”. Dataran Tinggi Tibet merupakan bentang alam yang luas di Asia Tengah dengan iklim yang dingin dan kering serta udara yang tipis karena letaknya yang sangat tinggi, yaitu 4.500 meter di atas permukaan laut.
Tekanan atmosfer yang lebih rendah, yang terjadi di dataran tinggi, dapat mengakibatkan lebih sedikit oksigen yang masuk ke paru-paru, darah, dan jaringan tubuh kita setiap kali bernapas. Inilah sebabnya pendaki gunung dapat mengalami hipoksia yang sering disebut sebagai penyakit ketinggian.
BACA JUGA - 3 Revolusi Teknologi yang Bakal Mengubah Cara Manusia Menjalani Hidup
Selama ribuan tahun, manusia telah mengembangkan berbagai adaptasi untuk bertahan hidup di lingkungan planet kita , seperti pigmentasi kulit, yang membantu melindungi dari radiasi ultraviolet (UV).
Adaptasi masih terus dilakukan, khususnya di wilayah Dataran Tinggi Tibet, yang dijuluki sebagai “Atap Dunia”. Dataran Tinggi Tibet merupakan bentang alam yang luas di Asia Tengah dengan iklim yang dingin dan kering serta udara yang tipis karena letaknya yang sangat tinggi, yaitu 4.500 meter di atas permukaan laut.
Tekanan atmosfer yang lebih rendah, yang terjadi di dataran tinggi, dapat mengakibatkan lebih sedikit oksigen yang masuk ke paru-paru, darah, dan jaringan tubuh kita setiap kali bernapas. Inilah sebabnya pendaki gunung dapat mengalami hipoksia yang sering disebut sebagai penyakit ketinggian.
Lihat Juga :