Tutup BLANJA.com, Langkah Telkom Dinilai Tepat Beralih ke Bisnis eCommerce

Senin, 07 September 2020 - 16:02 WIB
loading...
Tutup BLANJA.com, Langkah...
Ilustrasi Belanja Online. FOTO/ IST
A A A
JAKARTA - Langkah Telkom Indonesia dalam beralih strategi di bisnis eCommerce dengan fokus pada segmen korporasi dan UMKM serta menutup operasional dari marketplace retail BLANJA.com dinilai sudah tepat jika dilihat dari aspek bisnis dan keuangan.

BACA JUGA - Jam Tangan Misterius Kurt Cobain yang Tak Banyak Orang Tahu

Demikian rangkuman dari sejumlah pendapat para pengamat ekonomi digital seperti Ignatius Untung, Daniel Tumiwa, Doni Ismanto Darwin, dan Luke Syamlan yang dihubungi secara terpisah.

. BACA JUGA - Cara Cek BLT Gaji di Bawah Rp5 Juta Lewat WhatsApp dan SMS

"Sebagai listed company itu hal yang wajar dilakukan Telkom karena ada pertanggungjawaban ke investor dari setiap aksi korporasinya. Saya lihat investor quite happy dengan aksi korporasi itu karena sehari setelah diumumkan saham Telkom sempat naik," ulas Pendiri aplikasi trading saham Teman Trader Luke Syamlan.

Menurut Pengamat Ekonomi Digital Ignatius Untung jika dilihat kategori di mana BLANJA.com bermain memang ramai dan ketat persaingannya.

"Totalnya ada 10 pemain lebih, di mana 5 di antaranya sudah cukup dominan dan butuh investasi besar untuk mengejarnya. Jadi dugaan saya Telkom berhitung dan mendapatkan hasilnya bahwa investasi di bidang itu Return On Investment (ROI) tidak sebaik ketika mereka masuk ke segment Business to Business (B2B) yang lebih sedikit pemainnya," ulasnya.

Diprediksinya dengan kekuatan Telkom bersama anak perusahaan, hubungan baik sesama BUMN dan akses ke pemerintah membuat bisnis B2B dan Business to Government (B2G) menjadi hitungan yang lebih masuk akal untuk operator tersebut.

"Saya melihat langkah keluar dari market Customer to Customer (C2C) marketplace ini bukan masalah mampu atau tidak mampu. Telkom dan ebay sebagai induknya BLANJA punya uang untuk bisa bersaing. Hanya saja bisnis pada akhirnya kan tetang mana yang hitungannya lebih baik," katanya.

Sedangkan Pengamat Ekonomi Digital lainnya Daniel Tumiwa mengakui langkah Telkom sudah tepat menutup BLANJA. "Bagus, karena late comer yang tidak berhasil atau gagal cari pendanaan pasti akan tutup. Platform eCommerce sudah tutup untuk pemain baru, sudah terlalu mahal untuk masuk. Nanti akan ada koreksi lagi di pasar," prediksinya.

Terpisah, pengamat telekomunikasi Doni Ismanto Darwin menyatakan bisnis eCommerce terutama di sektor C2C memang lumayan keras karena masyarakat masih menjadikan promosi berupa cashback, diskon, hingga subsidi ongkos pengiriman sebagai daya tarik berbelanja.

"Harus dipahami sebagai listed company dan BUMN, Telkom itu tetap orientasinya EBITDA dan Net Income positif dalam mengoperasikan bisnis. Sementara bisnis eCommerce ini yang diincar Gross Market Value (GMV) yang butuh dana besar sebagai bensinnya, tetapi EBITDA dan Net Income belum tentu positif. Melirik lucrative market seperti B2B yang lebih bisa dikelola supply chain tentu langkah rasional jika Telkom masih mau bermain di eCommerce," katanya.

Lebih lanjut Doni menyarankan pemerintah untuk lebih jeli melihat kompetisi di eCommerce karena ekosistemnya makin dikuasai asing. "Platform, payment, hingga logistik sekarang mulai dikuasai asing. Saya rasa pemain lokal ada peluang di payment dan logistik jika regulasi dijalankan dengan benar. Kalau payment dan logistik lepas juga semua ke asing, artinya Indonesia ini hanya akan menjadi pasar," tutupnya.

Sebelumnya, BLANJA.com yang dikelola Telkom dan eBay mengumumkan adanya perubahan strategi bisnis yang dilakukan, sehingga terhitung mulai 1 September 2020 seluruh kegiatan pembelian di portal tersebut akan dihentikan.

Direktur Digital Business Telkom, Fajrin Rasyid menjelaskan sejalan dengan program transformasi perusahaan, terhitung 1 Oktober 2020 Telkom hanya akan fokus pada bisnis eCommerce di segmen korporasi dan UMKM melalui transaksi B2B.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini Susunan Direksi...
Ini Susunan Direksi dan Komisaris Terbaru Telkomsel 2026
Bangun Kedaulatan Digital,...
Bangun Kedaulatan Digital, Telkom Pertemukan Regulator dan Pemain Industri
Respons Permintaan Tinggi,...
Respons Permintaan Tinggi, Telkom Akselerasi Ekspansi Kapasitas NeutraDC Batam
Luncurkan AIcosystem,...
Luncurkan AIcosystem, Telkom Siap Garap Peluang AI di Berbagai Sektor Industri
Fokus Penataan Portofolio,...
Fokus Penataan Portofolio, TelkomMetra Gandeng Fullerton Health untuk Ekspansi AdMedika Group
Awali 2026 dengan Kinerja...
Awali 2026 dengan Kinerja Solid, Telkom Buktikan Komitmen Disiplin Operasional
Silmy Karim Dicopot...
Silmy Karim Dicopot dari Komisaris Telkom usai Tersangka KPK
Team RS–Telkomsel...
Team RS–Telkomsel 5G Juarai Grup R pada Putaran 2 Kejurnas Sprint Rally 2026
Marketplace kian ‘Sesak’,...
Marketplace kian ‘Sesak’, Momentum Baru bagi Pertumbuhan Bisnis Mandiri
Rekomendasi
PB LEMKARI Gelar Kongres...
PB LEMKARI Gelar Kongres Luar Biasa 2026, Sempurnakan Nama dan Logo Organisasi
Sudirman Said: Kepemimpinan...
Sudirman Said: Kepemimpinan Berkelanjutan Lahir dari Sistem yang Kuat
Kenapa Memijat Pelipis...
Kenapa Memijat Pelipis dan Pundak Bisa Meredakan Sakit Kepala? Ini Kata Dokter
Berita Terkini
Eropa Wajibkan Pelabelan...
Eropa Wajibkan Pelabelan Konten yang Dihasilkan AI
Adu Otak Bukan Otot:...
Adu Otak Bukan Otot: Lus Figo dan Ambisi Baru Game Mobile di Indonesia
Revolusi AI di Layar...
Revolusi AI di Layar Kaca: TV Premium LG 2026 Mengerti Logat Indonesia
Dari Bangkrut Saat Krisis...
Dari Bangkrut Saat Krisis 2008, MrBeast Kini Pimpin 1.000 Karyawan dan 500 Juta Pengikut
Saham SpaceX Ludes,...
Saham SpaceX Ludes, Rebutan Harta Karun Luar Angkasa Dimulai
Resmi Melantai, IPO...
Resmi Melantai, IPO SpaceX Cetak Sejarah dan Jadikan Elon Musk Triliuner Dunia Pertama
Infografis
Curacao, Negara Terkecil...
Curacao, Negara Terkecil yang Lolos ke Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved