Proyek Nimbus, Menguak Konspirasi Google dan Israel dalam Genosida di Gaza

Kamis, 06 Juni 2024 - 13:12 WIB
loading...
A A A
Proyek Nimbus terbukti sangat kontroversial di dalam Google dan Amazon, memicu gelombang perlawanan karyawan yang belum pernah terlihat sejak kontroversi mengenai kontrak Google untuk mendukung program drone militer AS.

Sementara pekerja dari kedua perusahaan secara terbuka memprotes kontrak Nimbus. Menyusul aksi duduk anti-Nimbus yang diorganisir di kantor perusahaan di New York dan Sunnyvale, California. Google memecat 50 karyawan yang menurut mereka ikut serta dalam protes tersebut.

Pekerja teknologi menuntut hak untuk mengetahui bagaimana hasil kerja mereka akan digunakan. Mereka khawatir teknologi tersebut mungkin digunakan untuk hal-hal yang merugikan, termasuk perang.

Aktivis dan akademisi khawatir dengan penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh Israel untuk menargetkan warga Palestina, sementara pakar hukum mengatakan penggunaan AI dalam perang melanggar hukum internasional . “Ada kekurangan transparansi yang mengejutkan mengenai apa yang tercakup dalam Proyek Nimbus ini, di luar penyediaan komputasi awan yang dapat dioperasikan dan komprehensif, yang pada dasarnya sistem penyimpanan data, manajemen data, dan berbagi data,” kata Ramesh Srinivasan, profesor di University of California, Los Angeles (UCLA), kepada Al Jazeera.

Data untuk pemerintah Israel, katanya, akan meluas ke tentara Israel. Jadi proyek ini menandai dan menyoroti hubungan langsung yang dimiliki perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat, tidak hanya dengan kompleks industri militer, tetapi juga dengan membantu dan mendukung pemerintah Israel.

Pada bulan Desember tahun lalu, sebagai tanggapan terhadap Proyek Nimbus, 1.700 karyawan mengirimkan petisi kepada CEO Amazon Andy Jassy. Mereka menyatakan bahwa “dengan menyediakan ekosistem cloud untuk sektor publik Israel, Amazon memperkuat kemampuan kecerdasan buatan dan pengawasan militer Israel yang digunakan untuk menekan aktivis Palestina dan memberlakukan pengepungan brutal di Gaza”.

Bukan hanya perusahaan teknologi komputasi awan yang menyediakan kontrak kepada militer Israel. Dalam sebuah laporan yang diterbitkan minggu lalu oleh Universitas Brown, Roberto J Gonzalez, profesor antropologi budaya di Universitas Negeri San Jose, menjelaskan bagaimana perusahaan publik AS, Palantir Technologies, terlibat dengan Israel.

“Selama bertahun-tahun, Palantir memiliki beberapa kontrak dengan tentara Israel, dan memperpanjang dukungannya untuk Israel setelah perangnya melawan Hamas dimulai pada Oktober 2023,” kata Gonzalez dalam komentar yang diterbitkan pada 17 April.

Palantir, perusahaan analisis data yang berbasis di Denver menyediakan kecerdasan buatan untuk lembaga militer, didirikan bersama oleh miliarder sayap kanan Peter Thiel. Palantir telah bekerja dengan Badan Keamanan Nasional AS, sebelumnya menyediakan solusi teknologi untuk militer Israel .

Laporan yang sama juga menunjukkan peran yang semakin meningkat dari perusahaan teknologi besar dalam perang. Seringkali, pengenalan teknologi baru dapat membawa korban manusia yang mengerikan jika tidak diuji dan diverifikasi dengan baik. “Semua orang tahu sistem AI ini akan membuat kesalahan sehingga akan ada kematian dan pembunuhan yang salah seperti yang telah kita lihat dengan begitu banyak warga sipil di Gaza,” kata Srinivasan, profesor UCLA.
(msf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Uni Eropa Perintahkan...
Uni Eropa Perintahkan Google Membuka Fitur AI Android
Samsung dan Google Mulai...
Samsung dan Google Mulai Serang Apple dengan Fitur Ini
Google Luncurkan Gemini...
Google Luncurkan Gemini 3.5 Live Translate, Terjemahkan Bahasa secara Real-time
OpenAI dan NVIDIA Mengadopsi...
OpenAI dan NVIDIA Mengadopsi Teknologi Watermark AI Google
Google Merombak Bilah...
Google Merombak Bilah Pencariannya setelah 25 Tahun Diperkenalkan
Gara-gara AI Semakin...
Gara-gara AI Semakin Pintar, Matt Lowrie Tinggalkan Google
Yusril Tegaskan Abdul...
Yusril Tegaskan Abdul Karim Bukan Ulama dan Aktivis Kemanusiaan Gaza
Para Turis Israel Dipukuli...
Para Turis Israel Dipukuli di Montenegro, Diteriaki 'Pelaku Genosida Gaza'
Drone Israel Serang...
Drone Israel Serang Acara Pemakaman di Gaza Tengah, 8 Orang Tewas, 20 Warga Terluka
Rekomendasi
Pernah Didiagnosis Depresi...
Pernah Didiagnosis Depresi Mayor, Saddam Permana Ceritakan Titik Terendah Hidupnya
Bukan Sekadar Kuota,...
Bukan Sekadar Kuota, Rustini Dorong Perempuan Ambil Keputusan Strategis
Plt Bupati Bekasi Bakal...
Plt Bupati Bekasi Bakal Evaluasi Kinerja Dirum Perumda Tirta Bhagasasi
Berita Terkini
Samsung Bentuk Divisi...
Samsung Bentuk Divisi Robotika Khusus Mempercepat Strategi AI
Mengancam Bumi, China...
Mengancam Bumi, China Siap Pindahkan Asteroid 2015 XF261
Cara Hapus Objek Mengganggu...
Cara Hapus Objek Mengganggu di Foto dengan Galaxy S26 Series
Teknologi Deteksi Deepfake...
Teknologi Deteksi Deepfake Nvidia Mencapai Akurasi 94%
Motorola Razr Fold Diluncurkan,...
Motorola Razr Fold Diluncurkan, Lipatan Smartphone Tidak Terlihat
Bug Windows 11 Terdeteksi...
Bug Windows 11 Terdeteksi Menguras Penyimpanan SSD Pengguna hingga 70GB
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved