Wow! Sehelai Bulu Burung Ini Terjual Rp455 Juta, Apa Istimewanya?
Kamis, 23 Mei 2024 - 09:28 WIB
loading...
A
A
A
Burung Huia merupakan anggota keluarga burung gelatik. Bagi suku Maori, bulu burung itu adalah tanda status tinggi dan bulu yang khas berujung putih digunakan untuk hiasan kepala upacara. Menurut Museum of New Zealand, hanya mereka yang berpangkat kepala suku yang diizinkan untuk memakai bulu huia. Bulu tersebut sering ditukar dengan barang berharga lainnya atau diberikan sebagai hadiah untuk menunjukkan persahabatan dan rasa hormat.
Penduduk Selandia Baru juga menganggap burung huia sebagai simbol prestise. Mereka menggunakan bulu hewan itu untuk aksesoris fesyen dan huia yang diawetkan dipasang sebagai hiasan di rumah-rumah mewah.
Baca Juga: 4 Hewan yang Hidup di Segitiga Bermuda, Nomor 2 Burung Langka Simbol Nasional
Pemburu Maori dan Eropa membunuh burung huia dalam jumlah besar selama abad ke-19 lalu menjual kulitnya kepada kolektor dan pedagang mode. Popularitas mematikan burung huia dilaporkan semakin meningkat ketika Duke dan Duchess of York difoto mengenakan bulu di topi selama perjalanan ke Selandia Baru pada 1901. "Orang-orang menjadi heboh dan memutuskan bahwa semua orang menginginkan bulu huia," kata Morris.
Upaya yang dilakukan oleh para ilmuwan di awal 1900-an untuk melestarikan sisa-sisa burung huia gagal. Rencana pemerintah untuk mengirim burung ke pulau-pulau lepas pantai mengakibatkan mereka yang mengumpulkan burung tersebut menjualnya sebagai spesimen mati.
Penduduk Selandia Baru juga menganggap burung huia sebagai simbol prestise. Mereka menggunakan bulu hewan itu untuk aksesoris fesyen dan huia yang diawetkan dipasang sebagai hiasan di rumah-rumah mewah.
Baca Juga: 4 Hewan yang Hidup di Segitiga Bermuda, Nomor 2 Burung Langka Simbol Nasional
Pemburu Maori dan Eropa membunuh burung huia dalam jumlah besar selama abad ke-19 lalu menjual kulitnya kepada kolektor dan pedagang mode. Popularitas mematikan burung huia dilaporkan semakin meningkat ketika Duke dan Duchess of York difoto mengenakan bulu di topi selama perjalanan ke Selandia Baru pada 1901. "Orang-orang menjadi heboh dan memutuskan bahwa semua orang menginginkan bulu huia," kata Morris.
Upaya yang dilakukan oleh para ilmuwan di awal 1900-an untuk melestarikan sisa-sisa burung huia gagal. Rencana pemerintah untuk mengirim burung ke pulau-pulau lepas pantai mengakibatkan mereka yang mengumpulkan burung tersebut menjualnya sebagai spesimen mati.
(msf)
Lihat Juga :