Teliti Fosil Berusia 280 Juta Tahun, Arkeolog Temukan Banyak Kejanggalan
Jum'at, 16 Februari 2024 - 22:09 WIB
loading...
Fosil Berusia 280 Juta Tahun. FOTO/ IFL SCIENCE
A
A
A
ARIZONA - Penemuan luar biasa di Pegunungan Alpen Italia pada tahun 1931 telah membingungkan pemahaman kita tentang evolusi reptil selama hampir satu abad.
BACA JUGA - Selangkah Lagi, Ilmuwan Hadirkan Kembali Kehidupan Purba
Fosil yang diawetkan dengan sangat baik ini menunjukkan "jaringan lunak" reptil purba, namun penelitian baru menunjukkan bahwa "jaringan lunak" tersebut sebenarnya hanyalah cat hitam yang dilukis pada permukaan fosil.
Fosil yang berusia sekitar 280 juta tahun ini diklasifikasikan sebagai reptilia Protorosauria berdasarkan morfologi dan "jaringan lunak" berwarna gelapnya. Dianggap sebagai contoh pelestarian kulit yang luar biasa, fosil ini banyak dipublikasikan setelah penemuannya.
Seperti dilansir dari IFL Science, Jumat (16/2/2024), teknologi baru memungkinkan para peneliti untuk melihat lebih dekat fosil ini. Fotografi ultraviolet (UV) menunjukkan bahwa fosil tersebut dilapisi dengan bahan pelapis.
Para peneliti awalnya menduga bahwa ini adalah teknik konservasi, tetapi pemeriksaan lebih lanjut mengungkapkan bahwa "jaringan lunak" tersebut hanyalah cat.
BACA JUGA - Selangkah Lagi, Ilmuwan Hadirkan Kembali Kehidupan Purba
Fosil yang diawetkan dengan sangat baik ini menunjukkan "jaringan lunak" reptil purba, namun penelitian baru menunjukkan bahwa "jaringan lunak" tersebut sebenarnya hanyalah cat hitam yang dilukis pada permukaan fosil.
Fosil yang berusia sekitar 280 juta tahun ini diklasifikasikan sebagai reptilia Protorosauria berdasarkan morfologi dan "jaringan lunak" berwarna gelapnya. Dianggap sebagai contoh pelestarian kulit yang luar biasa, fosil ini banyak dipublikasikan setelah penemuannya.
Seperti dilansir dari IFL Science, Jumat (16/2/2024), teknologi baru memungkinkan para peneliti untuk melihat lebih dekat fosil ini. Fotografi ultraviolet (UV) menunjukkan bahwa fosil tersebut dilapisi dengan bahan pelapis.
Para peneliti awalnya menduga bahwa ini adalah teknik konservasi, tetapi pemeriksaan lebih lanjut mengungkapkan bahwa "jaringan lunak" tersebut hanyalah cat.
Lihat Juga :