Fakta-Fakta Nyamuk Wolbachia, yang Dituding Berpotensi Jadi Ancaman Nasional
Jum'at, 17 November 2023 - 22:12 WIB
loading...
A
A
A
Ketika nyamuk jantan ber-Wolbachia kawin dengan nyamuk betina tanpa Wolbachia, maka telurnya tidak akan menetas, namun bila nyamuk betina ber-Wolbachia kawin dengan jantan tidak ber-Wolbachia seluruh telurnya akan menetas dan bila nyamuk betina ber-Wolbachia kawin dengan nyamuk jantan ber-Wolbachia, maka keturunannya semua akan menetas dan mengandung Wolbachia.
Baca Juga: Ilmuwan Lepas 5 Juta Nyamuk Terinfeksi Bakteri Wolbachia di Yogyakarta
Nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia bukan organisme hasil modifikasi genetik, mengingat bakteri Wolbachia yang dimasukkan ke dalam tubuh Aedes aegypti identik dengan Wolbachia yang ada di inang aslinya yaitu Drosophila melanogaster.
WHO mengklasifikasikan Wolbachia sebagai produk pengendalian vektor baru yang masuk dalam kelas pengendalian secara biologi.
Metode ini bertujuan mengurangi populasi nyamuk Aedes aegypti, dengan melepas nyamuk ber-Wolbachia jantan saja dalam kurun waktu tertentu sehingga telur-telur yang dihasilkan tidak menetas dan memberikan dampak berupa penurunan populasi seperti di Singapura. Pasca pelepasan dihentikan, dalam beberapa waktu populasi nyamuk akan kembali lagi sehingga diperlukan pelepasan nyamuk ulang secara periodik.
Aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue (AWED) dilakukan di Yogyakarta dengan desain Cluster Randomized Controlled Trial (CRCT). Hasil studi AWED menunjukkan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia mampu menurunkan kasus dengue sebesar 77.1% dan menurunkan rawat inap karena dengue sebesar 86% (18).
Dari hasil studi tersebut dan hasil di beberapa negara lain yang menerapkan teknologi WMP, teknologi Wolbachia untuk pengendalian Dengue telah direkomendasikan oleh WHO Vector Control Advisory Group (2021)
Metode Wolbachia diklaim telah teruji. Program ini diinisiasi oleh Kemenristekdikti dan Balitbangkes Kemenkes pada 2016 dengan membentuk 20 orang anggota tim independen dari berbagai kepakaran.
Dari hasil kajian, disimpulkan penilaian risiko pelepasan Wolbachia di Yogyakarta adalah pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia masuk pada risiko sangat rendah, dimana dalam 30 tahun ke depan peluang peningkatan bahaya dapat diabaikan.
Kemudian, Wolbachia tidak menginfeksi manusia, tidak terjadi transmisi horizontal terhadap spesies lain dan tidak mencemari lingkungan biotik dan abiotic. Soal kekhawatiran melonjaknya jumlah nyamuk, disebutkan bahwa peningkatan jumlah nyamuk Aedes aegypti di area pelepasan hanya terjadi pada saat periode pelepasan. Tidak ada perbedaan jumlah nyamuk Aedes aegypti sebelum dan setelah Wolbachia dilepaskan.
Baca Juga: Ilmuwan Lepas 5 Juta Nyamuk Terinfeksi Bakteri Wolbachia di Yogyakarta
5. Bukan Hasil Modifikasi Genetik
Nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia bukan organisme hasil modifikasi genetik, mengingat bakteri Wolbachia yang dimasukkan ke dalam tubuh Aedes aegypti identik dengan Wolbachia yang ada di inang aslinya yaitu Drosophila melanogaster.
6. Pengendalian secara biologi
WHO mengklasifikasikan Wolbachia sebagai produk pengendalian vektor baru yang masuk dalam kelas pengendalian secara biologi.
Metode Pelepasan Wolbachia
Metode pertama
Metode ini bertujuan mengurangi populasi nyamuk Aedes aegypti, dengan melepas nyamuk ber-Wolbachia jantan saja dalam kurun waktu tertentu sehingga telur-telur yang dihasilkan tidak menetas dan memberikan dampak berupa penurunan populasi seperti di Singapura. Pasca pelepasan dihentikan, dalam beberapa waktu populasi nyamuk akan kembali lagi sehingga diperlukan pelepasan nyamuk ulang secara periodik.
Metode kedua
Metode ini bertujuan menyebarkan Wolbachia di populasi nyamuk Aedes aegypti untuk menekan penularan virus dengue, dengan cara melepaskan nyamuk ber-Wolbachia jantan dan betina dalam waktu sekitar 6 bulan agar sebagian besar nyamuk di populasi memiliki Wolbachia dan diharapkan dapat menurunkan penularan virus dengue seperti di Yogyakarta.Efektivitas Wolbachia
Aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue (AWED) dilakukan di Yogyakarta dengan desain Cluster Randomized Controlled Trial (CRCT). Hasil studi AWED menunjukkan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia mampu menurunkan kasus dengue sebesar 77.1% dan menurunkan rawat inap karena dengue sebesar 86% (18).
Dari hasil studi tersebut dan hasil di beberapa negara lain yang menerapkan teknologi WMP, teknologi Wolbachia untuk pengendalian Dengue telah direkomendasikan oleh WHO Vector Control Advisory Group (2021)
Keamanan Wolbachia
Metode Wolbachia diklaim telah teruji. Program ini diinisiasi oleh Kemenristekdikti dan Balitbangkes Kemenkes pada 2016 dengan membentuk 20 orang anggota tim independen dari berbagai kepakaran.
Dari hasil kajian, disimpulkan penilaian risiko pelepasan Wolbachia di Yogyakarta adalah pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia masuk pada risiko sangat rendah, dimana dalam 30 tahun ke depan peluang peningkatan bahaya dapat diabaikan.
Kemudian, Wolbachia tidak menginfeksi manusia, tidak terjadi transmisi horizontal terhadap spesies lain dan tidak mencemari lingkungan biotik dan abiotic. Soal kekhawatiran melonjaknya jumlah nyamuk, disebutkan bahwa peningkatan jumlah nyamuk Aedes aegypti di area pelepasan hanya terjadi pada saat periode pelepasan. Tidak ada perbedaan jumlah nyamuk Aedes aegypti sebelum dan setelah Wolbachia dilepaskan.
(msf)
Lihat Juga :