18 Fakta Menarik Terusan Suez, yang Ingin Disaingi Israel dengan Merebut Gaza
Sabtu, 11 November 2023 - 09:08 WIB
loading...
Terusan Suez merupakan jalan pintas penghubung Laut Tengah dan Laut Merah. (Foto: Tech Historian)
A
A
A
JAKARTA - Nama terusan Suez di Mesir mendadak jadi perbincangan setelah muncul spekulasi Israel sengaja memborbardir Gaza karena memiliki kepentingan tersembunyi untuk mewujudkan proyek besar pembangunan kanal Ben Gurion .
Kanal baru ini digadang-gadang lebih strategis ketimbang Terusan Suez. Jalurnya bakal dibuat lebih luas dan lebih efisien ketimbang Terusan Suez dan langsung menghubungkan Teluk Aqaba di Laut Merah ke Laut Mediterania. Dan, poin pentingnya adalah dikuasai sendiri oleh Israel. Lain halnya dengan Terusan Suez yang kini dikuasai Mesir.
Berbicara tentang Terusan Suez, perairan ini merupakan jalan pintas penghubung Laut Tengah dan Laut Merah. Lantaran posisinya yang sangat strategis, terusan ini memegang peranan penting dalam perdagangan maritim internasional.
Selain peran pentingnya dalam percaturan politik global, Terusan Suez juga memiliki sederet fakta menarik lainnya, sebagaimana dikutip dari Britannica, Sabtu (11/11/2023).
Baca Juga: Mengenal Fakta-fakta Choke Point Terusan Suez
Terusan Suez sejatinya telah ada sejak zaman Mesir kuno. Firaun Mesir Senusret III telah membangun jalur yang menghubungkan Laut Merah dan Sungai Nil sekitar tahun 1850 SM. Jalur ini kemudian disempurnakan oleh Firaun Necho II dan penakluk Persia Darius. Proyek ini diperkirakan selesai pada abad ke-3 SM selama Dinasti Ptolemaik. Banyak tokoh dunia termasuk Cleopatra diyakini pernah mengarungi Terusan Suez.
Di era modern, setelah menaklukkan Mesir pada 1798, panglima militer Prancis Napoleon Bonaparte mengirim tim survei untuk menyelidiki kemungkinan memotong Istmo Suez dan membangun terusan dari Laut Merah ke Laut Tengah. Tetapi setelah empat ekspedisi terpisah ke wilayah tersebut, para penjelajahnya keliru menyimpulkan bahwa Laut Merah setidaknya 30 kaki lebih tinggi dari Laut Tengah.
Mereka memperingatkan upaya untuk membuat terusan bisa berakibat banjir katasrofis di Delta Nil. Perhitungan para peneliti itu membuat Napoleon mundur dari proyek tersebut, dan rencana untuk membangun terusan mengalami kemunduran hingga tahun 1847, ketika sekelompok peneliti akhirnya mengonfirmasi tidak ada perbedaan ketinggian yang serius antara Laut Tengah dan Laut Merah.
Perencanaan untuk pembangunan Terusan Suez resmi dimulai pada tahun 1854, ketika seorang mantan diplomat Prancis Ferdinand de Lesseps bernegosiasi kesepakatan dengan wakil raja Mesir untuk membentuk Perusahaan Terusan Suez. Karena terusan yang diusulkan oleh Lesseps mendapat dukungan Kaisar Prancis Napoleon III, banyak negarawan Inggris menganggap pembangunannya sebagai skema politik yang dirancang untuk merusak dominasi pengiriman global mereka.
Kanal baru ini digadang-gadang lebih strategis ketimbang Terusan Suez. Jalurnya bakal dibuat lebih luas dan lebih efisien ketimbang Terusan Suez dan langsung menghubungkan Teluk Aqaba di Laut Merah ke Laut Mediterania. Dan, poin pentingnya adalah dikuasai sendiri oleh Israel. Lain halnya dengan Terusan Suez yang kini dikuasai Mesir.
Berbicara tentang Terusan Suez, perairan ini merupakan jalan pintas penghubung Laut Tengah dan Laut Merah. Lantaran posisinya yang sangat strategis, terusan ini memegang peranan penting dalam perdagangan maritim internasional.
Selain peran pentingnya dalam percaturan politik global, Terusan Suez juga memiliki sederet fakta menarik lainnya, sebagaimana dikutip dari Britannica, Sabtu (11/11/2023).
Baca Juga: Mengenal Fakta-fakta Choke Point Terusan Suez
1. Sudah ada sejak era Cleopatra
Terusan Suez sejatinya telah ada sejak zaman Mesir kuno. Firaun Mesir Senusret III telah membangun jalur yang menghubungkan Laut Merah dan Sungai Nil sekitar tahun 1850 SM. Jalur ini kemudian disempurnakan oleh Firaun Necho II dan penakluk Persia Darius. Proyek ini diperkirakan selesai pada abad ke-3 SM selama Dinasti Ptolemaik. Banyak tokoh dunia termasuk Cleopatra diyakini pernah mengarungi Terusan Suez.
2. Napoleon Bonaparte sempat ingin membangunnya
Di era modern, setelah menaklukkan Mesir pada 1798, panglima militer Prancis Napoleon Bonaparte mengirim tim survei untuk menyelidiki kemungkinan memotong Istmo Suez dan membangun terusan dari Laut Merah ke Laut Tengah. Tetapi setelah empat ekspedisi terpisah ke wilayah tersebut, para penjelajahnya keliru menyimpulkan bahwa Laut Merah setidaknya 30 kaki lebih tinggi dari Laut Tengah.
Mereka memperingatkan upaya untuk membuat terusan bisa berakibat banjir katasrofis di Delta Nil. Perhitungan para peneliti itu membuat Napoleon mundur dari proyek tersebut, dan rencana untuk membangun terusan mengalami kemunduran hingga tahun 1847, ketika sekelompok peneliti akhirnya mengonfirmasi tidak ada perbedaan ketinggian yang serius antara Laut Tengah dan Laut Merah.
3. Ditentang Inggris
Perencanaan untuk pembangunan Terusan Suez resmi dimulai pada tahun 1854, ketika seorang mantan diplomat Prancis Ferdinand de Lesseps bernegosiasi kesepakatan dengan wakil raja Mesir untuk membentuk Perusahaan Terusan Suez. Karena terusan yang diusulkan oleh Lesseps mendapat dukungan Kaisar Prancis Napoleon III, banyak negarawan Inggris menganggap pembangunannya sebagai skema politik yang dirancang untuk merusak dominasi pengiriman global mereka.
Lihat Juga :