Penemuan Inovatif, Kaca Anti Pecah dan Hemat Energi
Rabu, 20 September 2023 - 12:25 WIB
loading...
A
A
A
Rahasia para peneliti terletak pada kode gas yang telah memerangkap panas yang dikeluarkan oleh produksi kaca. Meskipun produksi kaca hanya menyumbang 0,3% dari seluruh karbon yang memerangkap panas yang dilepaskan ke seluruh dunia, jumlah tersebut berjumlah sekitar 95 juta ton setiap tahunnya, menurut sebuah makalah di Journal of Industrial Ecology.
Badan Perlindungan Lingkungan menyebutkan, jumlah ini setara dengan polusi yang memerangkap panas pada lebih dari 19 juta kendaraan bertenaga gas yang dikendarai dalam setahun. Sedangkan kaca konvensional memberikan panas yang sangat ekstrem pada campuran tiga bahan, yaitu pasir kuarsa, abu soda, dan batu kapur.
Menurut Glass International, suhu leleh kaca biasa melebihi 2.700 derajat Fahrenheit. Pemanasan bahan ini bertanggung jawab atas sebagian besar penggunaan energi dan juga polusi pada proses, meskipun reaksi kimia yang terlibat juga dapat menyebabkan polusi.
LionGlass ini memiliki kumpulan bahan masukan yang berbeda, dengan suhu leleh serendah 720 derajat Fahrenheit. Hal tersebut dapat mengurangi konsumsi energi sekitar sepertiga. Bahan bakunya juga dapat memiliki sedikit karbon.
“Tujuan kami adalah membuat manufaktur kaca berkelanjutan untuk jangka panjang,” kata peneliti utama Professor John Mauro dalam rilis dari Penn State.
Badan Perlindungan Lingkungan menyebutkan, jumlah ini setara dengan polusi yang memerangkap panas pada lebih dari 19 juta kendaraan bertenaga gas yang dikendarai dalam setahun. Sedangkan kaca konvensional memberikan panas yang sangat ekstrem pada campuran tiga bahan, yaitu pasir kuarsa, abu soda, dan batu kapur.
Menurut Glass International, suhu leleh kaca biasa melebihi 2.700 derajat Fahrenheit. Pemanasan bahan ini bertanggung jawab atas sebagian besar penggunaan energi dan juga polusi pada proses, meskipun reaksi kimia yang terlibat juga dapat menyebabkan polusi.
LionGlass ini memiliki kumpulan bahan masukan yang berbeda, dengan suhu leleh serendah 720 derajat Fahrenheit. Hal tersebut dapat mengurangi konsumsi energi sekitar sepertiga. Bahan bakunya juga dapat memiliki sedikit karbon.
“Tujuan kami adalah membuat manufaktur kaca berkelanjutan untuk jangka panjang,” kata peneliti utama Professor John Mauro dalam rilis dari Penn State.
Lihat Juga :