Peringatan! Perubahan Iklim Picu Longsor Bawah Laut dan Tsunami Raksasa dari Antartika

Minggu, 28 Mei 2023 - 06:28 WIB
loading...
Peringatan! Perubahan...
Ancaman perubahan iklim tidak bisa dianggap remeh karena berpotensi melepaskan tsunami raksasa di Samudra Selatan yang dipicu tanah longsor bawah laut di Antartika. Foto/Live Science/Shutterstock
A A A
LONDON - Ancaman perubahan iklim tidak bisa dianggap remeh karena berpotensi melepaskan tsunami raksasa di Samudra Selatan yang dipicu tanah longsor bawah laut di Antartika . Pemicu tanah longsor bawah laut yang diikuti tsunami raksasa akibat pencairan es gletser oleh iklim yang menghangat.

Fakta terbaru ini dipublikasikan ilmuwan Inggris Jenny Gales dalam jurnal Nature Communications yang diterbitkan 18 Mei 2023. Gales yang melakukan pengeboran inti sedimen ratusan kaki di bawah dasar laut di Antartika menemukan bukti selama periode pemanasan global sebelumnya, sekitar 3 juta dan 15 juta tahun lalu, menyebabkan lapisan sedimen dasar laut lepas.

Longsor dasar laut ini meluncur dan gelombang tsunami besar ke pantai Amerika Selatan, Selandia Baru, dan Asia Tenggara. “Longsor bawah laut adalah geohazard besar dengan potensi memicu tsunami yang dapat menyebabkan banyak korban jiwa,” kata Gales, dosen hidrografi dan eksplorasi laut di University of Plymouth di Inggris, dikutip dari Live Science, Minggu (28/5/2023).

Baca juga; 5 Tsunami Besar yang Pernah Meluluhlantakkan sebuah Daerah

Para peneliti pertama kali menemukan bukti tanah longsor kuno di Antartika pada 2017 di Laut Ross timur. Terjebak di bawah tanah longsor ini adalah lapisan sedimen lemah yang dijejali fosil makhluk laut yang dikenal sebagai fitoplankton.

Para ilmuwan kembali ke daerah tersebut pada tahun 2018 dan mengebor jauh ke dasar laut untuk mengekstraksi inti sedimen. Dari silinder panjang dan tipis dari kerak bumi, menunjukkan lapis demi lapis sedimen sejarah geologis wilayah tersebut.

Dengan banyaknya lapisan sedimen yang terkubur di bawah dasar laut Antartika dan gletser di atas daratan perlahan mencair, ini berpotensi memicu tsunami. Para peneliti memperingatkan jika pencairan gletser menyebabkan tanah longsor dan tsunami di masa lalu, ini dapat terulang lagi di masa depan.

“Lapisan yang sama masih ada di landas kontinen luar, jadi siap untuk lebih banyak longsoran terjadi. Namun, berapa besarnya pemicu peristiwa tersebut berperan masih perlu diteliti lebih lanjut,” kata Robert McKay, Direktur Pusat Penelitian Antartika di Victoria University of Wellington.

Baca juga; Dasar Laut Merah Simpan Potensi Tsunami Besar, Mengancam Mesir dan Arab Saudi

Dengan menganalisis inti sedimen, diketahui lapisan lemah terbentuk selama dua periode, satu sekitar 3 juta tahun yang lalu pada periode hangat pertengahan Pliosen. Lapisan lainnya terbentuk 15 juta tahun yang lalu selama iklim optimal Miosen.

Selama zaman ini, perairan di sekitar Antartika lebih hangat dibanding saat ini sekitar 3 derajat Celcius. Kondisi ini menyebabkan semburan ganggang yang mati dan memenuhi dasar laut sehingga membuat wilayah tersebut rentan terjadi longsor.

Skala dan ukuran gelombang laut purba tidak diketahui, tetapi para ilmuwan mencatat dua tanah longsor bawah laut yang relatif baru yang menghasilkan tsunami besar dan menyebabkan korban jiwa yang signifikan. Tsunami Grand Banks pada 1929 yang menghasilkan gelombang setinggi 13 meter dan membunuh sekitar 28 orang di lepas pantai Newfoundland Kanada.

Kemudian tsunami Papua Nugini tahun 1998 yang melepaskan gelombang setinggi 15 meter yang merenggut 2.200 nyawa. “Temuan kami menyoroti bagaimana kita sangat perlu meningkatkan pemahaman tentang bagaimana perubahan iklim global dapat mempengaruhi stabilitas kawasan ini dan potensi tsunami di masa depan,” beber Gales.
(wib)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pulau Misterius Ditemukan...
Pulau Misterius Ditemukan di Zona Berbahaya Antartika
Patahan Bumi Raksasa...
Patahan Bumi Raksasa Tersembunyi Ditemukan di Titik Rawan Gempa
Ratusan Gempa Bumi Terdeteksi...
Ratusan Gempa Bumi Terdeteksi di Gletser Kiamat Antartika
Bakal Hancur Total,...
Bakal Hancur Total, Gunung Es di Antartika Berubah Warna Jadi Biru
Robot Apung Mulai Kumpulkan...
Robot Apung Mulai Kumpulkan Data Pertama di Bawah Es Antartika
Hewan Semakin Menderita...
Hewan Semakin Menderita seperti Manusia Akibat Degradasi Lingkungan
Gempa M5,4 Guncang Sangihe...
Gempa M5,4 Guncang Sangihe Sulut Pagi Ini, Tidak Berpotensi Tsunami
Gempa M7,8 Filipina...
Gempa M7,8 Filipina Picu Tsunami di Indonesia, Alarm Zona Megathrust yang Terlupakan
BMKG: Peringatan Dini...
BMKG: Peringatan Dini Tsunami Akibat Gempa M7,7 di Filipina Berakhir
Rekomendasi
Hasil Seleksi Pelatihan...
Hasil Seleksi Pelatihan Vokasi Batch 2 Diumumkan 18 Juni 2026, Begini Cara Aksesnya
Piala Dunia 2026, Spanyol...
Piala Dunia 2026, Spanyol Ditahan Imbang Tim Gurem Cape Verde di Babak Pertama
Spanyol vs Cape Verde:...
Spanyol vs Cape Verde: La Roja di Ambang Pesta Gol
Berita Terkini
Mau Traveling Keluarga...
Mau Traveling Keluarga Lebih Menyenangkan? Ikuti 5 Tips ala Tika Nurjanah
Beda Jauh dengan GPS,...
Beda Jauh dengan GPS, Kenapa AirTag dan Smart Tag Sering Telat Update Lokasi?
Di Balik Pemblokiran...
Di Balik Pemblokiran AI Tercanggih Anthropic Fable 5: Berantem dengan Pemerintah AS
Ridho Sadewo Bongkar...
Ridho Sadewo Bongkar 7 Strategi Free Fire yang Bikin Peluang Booyah Lebih Besar
Selebriti Pakai Earphone...
Selebriti Pakai Earphone Kabel, Pasar IEM Chi-Fi Diam-Diam Meledak
Begini Cara kerja AirTag...
Begini Cara kerja AirTag dan SmartTag, Pelacak Bluetooth Murah untuk Android dan iPhone
Infografis
No 1 dari Asia, Berikut...
No 1 dari Asia, Berikut Terowongan Bawah Laut Terpanjang di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved