Ada 14.000 Spesies Semut di Dunia, Rahasia Evolusinya Sejak 60 Juta Tahun Terungkap

Kamis, 13 April 2023 - 22:15 WIB
loading...
Ada 14.000 Spesies Semut...
Semut telah terdiversifikasi menjadi lebih dari 14.000 spesies, yang hidup di sabana, padang rumput, dan gurun. Foto/NewAtlas
A A A
CHICAGO - Sekitar 60 juta tahun yang lalu, sebagian besar semut adalah penghuni hutan yang membangun sarangnya di bawah tanah. Tapi semut modern telah terdiversifikasi menjadi lebih dari 14.000 spesies, yang hidup di sabana, padang rumput, dan gurun.

Faktanya, semut dapat ditemukan di setiap benua kecuali Antartika. Semut dapat ditemukan dalam jumlah besar di hampir semua wilayah dan habitat dunia. Para ilmuwan menemukan jawaban, mengapa semut menjadi spesies serangga besar dan sangat beragam di bumi.

Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Evolution Letters, para para peneliti dari Field Museum di Chicago serta Universitas Cornell dan Stanford, menemukan diversifikasi semut seiring dengan munculnya angiospermae, tanaman yang menghasilkan bunga dan menghasilkan biji dalam buah.

Baca juga; Jumlah Total Semut di Seluruh Dunia Ternyata Segini

Setelah mempelajari fosil, DNA, dan data iklim, ditemukan bagaimana semut dan tanaman saling terkait, secara evolusioner. Penelitian ini menjelaskan studi sebelumnya yang menyebutkan jumlah semut di dunia diperkirakan lebih dari empat kuadriliun (angka empat diikuti 15 nol di belakang).

“Studi ini menunjukkan peran penting tumbuhan dalam membentuk ekosistem. Pergeseran dalam komunitas tumbuhan, berdampak pada hewan dan organisme lain yang bergantung pada tumbuhan ini,” kata Matthew Nelsen, pemimpin studi ini dikutip dari laman NewAtlas, Kamis (13/4/2023).

Untuk memodelkan evolusi semut, para peneliti membandingkan iklim tempat tinggal 1.435 spesies semut modern. Ditambah dengan rekonstruksi silsilah semut berskala waktu berdasarkan informasi genetik dan fosil semut yang diawetkan dalam damar.

Mereka memperoleh informasi serupa tentang tumbuhan dan kemudian membandingkan keduanya. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar semut purba menghuni habitat hutan hingga sekitar periode Paleogen pertengahan hingga akhir (66 hingga 23 juta tahun lalu) hingga Neogen awal (23 juta tahun lalu hingga sekarang).

Baca juga; Semut Ternyata Punya Media Sosial seperti Manusia

Saat itulah mereka mulai melakukan diversifikasi, dipengaruhi oleh evolusi tumbuhan hutan. “Sekitar waktu ini, beberapa tumbuhan di hutan ini berevolusi untuk mengeluarkan lebih banyak uap air melalui lubang kecil di daunnya,” ujar Nelsen.

Untuk menghindari basah, beberapa semut memindahkan sarangnya dari bawah tanah ke pepohonan. Para peneliti berpendapat bahwa ketika angiospermae hutan perlahan-lahan menyebar ke luar untuk menghuni daerah yang lebih terbuka dan gersang, beberapa semut mengikutinya. Mungkin, kata para peneliti, karena mereka mengikuti perut mereka.

“Ilmuwan lain telah menunjukkan bahwa tumbuhan di habitat gersang ini mengembangkan cara membuat makanan bagi semut. Seperti elaiosom, tumbuh berdaging pada bijinya,” kata Nelsen.

Baca juga; 4 Cara Efektif Membasmi Semut di Kabin Mobil

Hubungan yang saling menguntungkan berkembang. Semut menikmati makanan yang disediakan oleh benih tanaman, dan semut yang mengambil benih memastikan tanaman menyebar lebih jauh. Temuan penelitian ini meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana evolusi semut bertepatan dengan dan dimungkinkan oleh evolusi tumbuhan berbunga, yang dimulai jutaan tahun lalu.
(wib)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Penelitian Mengejutkan,...
Penelitian Mengejutkan, Lebah Madu Juga Mengalami Gangguan Penciuman seperti Manusia
Biji-bijian Tumbuh Pesat...
Biji-bijian Tumbuh Pesat Saat Mendengar Suara Hujan
Evolusi Manusia Masih...
Evolusi Manusia Masih Terjadi, dan Inilah Buktinya
Spesies Baru Laba-laba...
Spesies Baru Laba-laba dengan Jenis Kelamin Ganda Ditemukan
Brasil Membuka Pabrik...
Brasil Membuka Pabrik Nyamuk Terbesar di Dunia
Deteksi Wabah Baru,...
Deteksi Wabah Baru, AS Sebar Ratusan Juta Lalat Screwworm
Pengembangan Pendidikan...
Pengembangan Pendidikan dan Usaha Gula Semut di Kampung Berseri Tabek Talang Babungo
Dadan Hindayana Dinilai...
Dadan Hindayana Dinilai Perlu Buka Suara Merespons Kritik Publik
5 Fakta Menarik Belalang...
5 Fakta Menarik Belalang Setan, Cantik tapi Punya Cairan Beracun
Rekomendasi
Tio Pakusadewo Belum...
Tio Pakusadewo Belum Jalani Operasi Katup Jantung, Dewi Irawan Ungkap Alasannya
Sinopsis Tobat Jatuh...
Sinopsis 'Tobat Jatuh Cinta' Eps. 12: Suasana Kampung Berubah Mencekam, Mila Cemaskan Kondisi Ayah Mertuanya
Kantongi Restu OJK,...
Kantongi Restu OJK, Dua Pemegang Saham Utama CASH Siap Kawal Rights Issue Rp237,2 Miliar
Berita Terkini
Sekolah untuk Robot...
Sekolah untuk Robot Humanoid Resmi Dibuka, Ini Pelajarannya
Bulan Juni 2026, Ilmuwan...
Bulan Juni 2026, Ilmuwan Sebut Air Laut Mulai Mendidih
Meta Bantah Tuduhan...
Meta Bantah Tuduhan Medsosnya Menyebabkan Anak-anak Kecanduan
AS Menguji Pertempuran...
AS Menguji Pertempuran Udara Jarak Jauh dengan Dukungan AI F-16
AI for Life: Ketika...
AI for Life: Ketika Kampus Mulai Bicara Etika, Bukan Sekadar Teknologi
Bot Judi Online Kini...
Bot Judi Online Kini Lebih Canggih: Deteksi Konten Viral, Langsung Banjiri Ribuan Komentar
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved