Ilmuwan Ungkap Jejak Orangutan Berukuran King Kong di Indonesia
Minggu, 20 November 2022 - 16:40 WIB
Kera tersebut, yang fosil giginya ditemukan di sebuah gua di China, ditengarai sepupu jauh orangutan. Kedua spesies diduga punya nenek moyang yang sama sekitar 12 juta tahun lalu.
"Spesies ini adalah sepupu jauh (orangutan). Artinya kerabat hidup yang paling dekat dengan spesies ini adalah orangutan, ketimbang kera besar lainnya, seperti gorilla, simpanse, atau manusia," kata Dr Frido Welker dari Universitas Kopenhagen.
Riset yang dimuat dalam jurnal Nature ini didasari oleh temuan fosil gigi molar berumur dua juta tahun. Runutan protein yang terkandung pada fosil itu kemudian dibandingkan dengan kera-kera yang hidup zaman sekarang. Memperoleh kandungan protein dari fosil berumur dua juta tahun terbilang langka.
Misteri mengenai kera terbesar selama ini sulit diungkap karena hanya berdasarkan beberapa fosil. Langkah ini ini membangkitkan harapan bahwa para ilmuwan bisa mengungkap kehidupan makhluk-makhluk purbakala, termasuk manusia purba, yang bermukim di kawasan hangat.
Pasalnya, hingga kini kans untuk menemukan DNA atau protein purbakala di iklim tropis tergolong kecil mengingat kondisi sampel-sampel yang ada cenderung cepat memburuk.
"Kajian ini menunjukkan bahwa protein purbakala kemungkinan merupakan molekul yang paling cocok bertahan sepanjang evolusi manusia terkini, bahkan di kawasan seperti Asia atau Afrika. Karenanya, di masa depan kita bisa meneliti evolusi kita sendiri sebagai suatu spesies untuk rentang waktu yang sangat panjang," kata Dr Walker kepada BBC News.
"Spesies ini adalah sepupu jauh (orangutan). Artinya kerabat hidup yang paling dekat dengan spesies ini adalah orangutan, ketimbang kera besar lainnya, seperti gorilla, simpanse, atau manusia," kata Dr Frido Welker dari Universitas Kopenhagen.
Riset yang dimuat dalam jurnal Nature ini didasari oleh temuan fosil gigi molar berumur dua juta tahun. Runutan protein yang terkandung pada fosil itu kemudian dibandingkan dengan kera-kera yang hidup zaman sekarang. Memperoleh kandungan protein dari fosil berumur dua juta tahun terbilang langka.
Misteri mengenai kera terbesar selama ini sulit diungkap karena hanya berdasarkan beberapa fosil. Langkah ini ini membangkitkan harapan bahwa para ilmuwan bisa mengungkap kehidupan makhluk-makhluk purbakala, termasuk manusia purba, yang bermukim di kawasan hangat.
Pasalnya, hingga kini kans untuk menemukan DNA atau protein purbakala di iklim tropis tergolong kecil mengingat kondisi sampel-sampel yang ada cenderung cepat memburuk.
"Kajian ini menunjukkan bahwa protein purbakala kemungkinan merupakan molekul yang paling cocok bertahan sepanjang evolusi manusia terkini, bahkan di kawasan seperti Asia atau Afrika. Karenanya, di masa depan kita bisa meneliti evolusi kita sendiri sebagai suatu spesies untuk rentang waktu yang sangat panjang," kata Dr Walker kepada BBC News.
Lihat Juga :