Ilmuwan Ungkap Cacing Parasit Manusia Purba dari Kotoran Bangsa Viking
Kamis, 08 September 2022 - 07:29 WIB
Meskipun cacing ini sekarang sudah langka, namun diperkirakan cacing masih menginfeksi hingga 795 juta orang di seluruh dunia, menurut CDC, terutama di daerah dengan sanitasi buruk. Mereka ditularkan melalui kotoran yang mrncemari air atau tanah.
Setelah mereka berhasil masuk ke tubuh manusia, cacing akan masuk ke saluran usus inang baru, telur menetas, dan cacing betina akan bertelur terus menerus dengan kecepatan hingga 20.000 per hari setelah ia mencapai kedewasaan.
Mereka dapat hidup hingga satu tahun, sehingga menghasilkan sejumlah besar keturunan yang kemudian dikeluarkan dalam tinja untuk melanjutkan siklus.
"Telur-telur itu berada di tanah dan berkembang selama kira-kira tiga bulan. Setelah matang, telur dapat bertahan hidup di alam liar lebih lama lagi, karena menunggu untuk dikonsumsi oleh inang baru," Kapel menjelaskan.
Daya tahan di dalam tanah inilah yang memungkinkan tim untuk mengurutkan DNA purba yang ditemukan dalam fosil kotoran manusia purba. Telur memiliki cangkang kitin yang keras, mengawetkan DNA yang terkandung di dalamnya.
Kemudian beradaptasi untuk bertahan hidup lama di lingkungan tanah.Telur, oleh karena itu, bukan tubuh cacing dewasa yang dikeringkan, yang dapat diurutkan oleh para peneliti, diperoleh dari situs pemukiman Viking di Viborg dan Kopenhagen, serta situs di Latvia dan Belanda.
Sebanyak 17 sampel purba yang berbeda dipelajari di bawah mikroskop untuk mengisolasi telur, yang kemudian disaring dari matriks fosil kotoran di sekitarnya, dan menjadi sasaran analisis genetik.
Setelah mereka berhasil masuk ke tubuh manusia, cacing akan masuk ke saluran usus inang baru, telur menetas, dan cacing betina akan bertelur terus menerus dengan kecepatan hingga 20.000 per hari setelah ia mencapai kedewasaan.
Mereka dapat hidup hingga satu tahun, sehingga menghasilkan sejumlah besar keturunan yang kemudian dikeluarkan dalam tinja untuk melanjutkan siklus.
"Telur-telur itu berada di tanah dan berkembang selama kira-kira tiga bulan. Setelah matang, telur dapat bertahan hidup di alam liar lebih lama lagi, karena menunggu untuk dikonsumsi oleh inang baru," Kapel menjelaskan.
Daya tahan di dalam tanah inilah yang memungkinkan tim untuk mengurutkan DNA purba yang ditemukan dalam fosil kotoran manusia purba. Telur memiliki cangkang kitin yang keras, mengawetkan DNA yang terkandung di dalamnya.
Kemudian beradaptasi untuk bertahan hidup lama di lingkungan tanah.Telur, oleh karena itu, bukan tubuh cacing dewasa yang dikeringkan, yang dapat diurutkan oleh para peneliti, diperoleh dari situs pemukiman Viking di Viborg dan Kopenhagen, serta situs di Latvia dan Belanda.
Sebanyak 17 sampel purba yang berbeda dipelajari di bawah mikroskop untuk mengisolasi telur, yang kemudian disaring dari matriks fosil kotoran di sekitarnya, dan menjadi sasaran analisis genetik.
Lihat Juga :