Serangan Ransomware ke Sektor Pendidikan Meningkat

Jum'at, 15 Juli 2022 - 14:27 WIB
Dalam banyak kasus, korban di sektor pendidikan kerap membayar uang tebusan untuk menebus data yang berhasil diretas. Rata-rata uang tebusan yang dibayarkan oleh sekolah adalah USD 19 juta atau setara Rp28 miliar.

Sementara untuk lembaga pendidikan tinggi rata-rata uang tebusan yang dibayarkan mencapai USD905.000 atau sekitar Rp 13 miliar. Jelas ini menjadi ladang subur untuk meraup pundi-pundi bagi para hacker ransomware.

Korban rela membayar dengan jumlah besar karena ransomware sendiri memblokir akses mereka untuk beroperasi. Ketika jaringan diblokir, sekolah akan kesulitan untuk menjalankan kelas, apalagi jika kelas online.

Dan penelitian akademis serta sumber daya tidak akan tersedia, yang semuanya berdampak pada komunitas yang lebih luas. Anak-anak tidak dapat bersekolah, mengerjakan tugas atau mengakses jaringan mereka.

Ada juga ancaman untuk memublikasikan data yang berhasil dicuri jika korban tidak membayar. Hal-hal ini lah yang mendorong korban tetap membayar meskipun sebenarnya itu akan mendorong lebih banyak aksi ransomware di masa mendatang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!