Ciptakan Peradaban Baru, Ilmuwan Kloning Tikus dari Sel Kulit
Kamis, 14 Juli 2022 - 08:03 WIB
Sebanyak 75 tikus sehat berhasil dikloning. Dr. Ben Novak, ilmuwan utama di Revive & Restore, mengatakan bahwa penelitian ini merupakan capaian besar yang akan disambut baik, meskipun tidak bisa dipungkiri terdapat ketidaksempurnaan.
“Dari sudut pandang konservasi, inovasi cara baru untuk biobank jenis jaringan yang layak secara reproduktif adalah kebutuhan besar…jadi sangat menarik untuk melihat terobosan semacam ini,” katanya.
Wakayama sendiri diketahui telah bertahun tahun berfokus mengembangkan metode kloning dengan menggunakan sel kulit. Kerja kerasnya akhirnya berbuah manis, yang mana ia menyuntikan DNA dari sel kulit pendonor ke dalam sel telur indukan.
“Setelah matang, kami secara acak memilih sembilan tikus kloning betina dan tiga jantan untuk dikawinkan dengan tikus lab normal. Dalam waktu kira-kira tiga bulan, semua tikus betina hasil kloning melahirkan generasi berikutnya," kata Wakayama.
"Dan semua bayi tikus memiliki wujud yang sangat identik, dengan empat cakar, kumis, dan kebiasaan tikus pendonor yang utuh. Teknik ini dapat digunakan untuk sumber daya genetik yang tersedia dalam keadaan ekstrem, seperti spesies yang hampir punah," paparnya.
“Dari sudut pandang konservasi, inovasi cara baru untuk biobank jenis jaringan yang layak secara reproduktif adalah kebutuhan besar…jadi sangat menarik untuk melihat terobosan semacam ini,” katanya.
Wakayama sendiri diketahui telah bertahun tahun berfokus mengembangkan metode kloning dengan menggunakan sel kulit. Kerja kerasnya akhirnya berbuah manis, yang mana ia menyuntikan DNA dari sel kulit pendonor ke dalam sel telur indukan.
“Setelah matang, kami secara acak memilih sembilan tikus kloning betina dan tiga jantan untuk dikawinkan dengan tikus lab normal. Dalam waktu kira-kira tiga bulan, semua tikus betina hasil kloning melahirkan generasi berikutnya," kata Wakayama.
"Dan semua bayi tikus memiliki wujud yang sangat identik, dengan empat cakar, kumis, dan kebiasaan tikus pendonor yang utuh. Teknik ini dapat digunakan untuk sumber daya genetik yang tersedia dalam keadaan ekstrem, seperti spesies yang hampir punah," paparnya.
Lihat Juga :