Dunia Makin Panas, Suhu di Atas 50 Derajat Celcius Bakal Sering Terjadi
Rabu, 15 September 2021 - 05:13 WIB
Analisis menggunakan suhu harian maksimum dari dataset ERA5 global, yang diproduksi oleh Copernicus Climate Change Service. ERA5 menggabungkan pengamatan cuaca dari banyak sumber, seperti stasiun dan satelit, dengan data dari model prakiraan cuaca.
Proses ini mengisi kesenjangan yang diciptakan oleh cakupan stasiun yang buruk di banyak bagian dunia. Saat seluruh dunia menghangat, suhu ekstrem menjadi lebih mungkin terjadi.
Panas yang tinggi dapat mematikan bagi manusia dan alam, dan menyebabkan masalah besar pada bangunan, jalan, dan sistem tenaga.
BACA JUGA: Jualan Mobil Listrik, Perseteruan Ford dan Tesla Memanas di China
Suhu ekstrem di atas 50C biasanya terjadi terutama di kawasan Timur Tengah dan Teluk. Di luar Timur Tengah, suhu ekstrem tercatat di Italia (48,8C) dan Kanada (49,6C) pada musim panas ini.
Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa hari-hari di atas 50C akan terjadi di tempat lain kecuali kita mengurangi emisi bahan bakar fosil. "Kita perlu bertindak cepat. Semakin cepat mengurangi emisi, semakin baik untuk semua," kata Dr Sihan Li, peneliti iklim di School of Geography and the Environment di University of Oxford.
Proses ini mengisi kesenjangan yang diciptakan oleh cakupan stasiun yang buruk di banyak bagian dunia. Saat seluruh dunia menghangat, suhu ekstrem menjadi lebih mungkin terjadi.
Panas yang tinggi dapat mematikan bagi manusia dan alam, dan menyebabkan masalah besar pada bangunan, jalan, dan sistem tenaga.
BACA JUGA: Jualan Mobil Listrik, Perseteruan Ford dan Tesla Memanas di China
Suhu ekstrem di atas 50C biasanya terjadi terutama di kawasan Timur Tengah dan Teluk. Di luar Timur Tengah, suhu ekstrem tercatat di Italia (48,8C) dan Kanada (49,6C) pada musim panas ini.
Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa hari-hari di atas 50C akan terjadi di tempat lain kecuali kita mengurangi emisi bahan bakar fosil. "Kita perlu bertindak cepat. Semakin cepat mengurangi emisi, semakin baik untuk semua," kata Dr Sihan Li, peneliti iklim di School of Geography and the Environment di University of Oxford.